Kamis, 14 Mei 2026

Inflasi AS Stabil, Lampu Hijau untuk The Fed

Penulis : Grace El Dora
15 Nov 2023 | 07:04 WIB
BAGIKAN
Sementara konsumen Amerika Serikat (AS) melihat inflasi membaik, kekhawatiran mereka tentang kesehatan ekonomi tetap ada, menurut survei yang dirilis oleh University of Michigan, AS pada 31 Maret 2023. (FOTO: ARTUR WIDAK/ANADOLU AGENCY VIA GETTY IMAGES)
Sementara konsumen Amerika Serikat (AS) melihat inflasi membaik, kekhawatiran mereka tentang kesehatan ekonomi tetap ada, menurut survei yang dirilis oleh University of Michigan, AS pada 31 Maret 2023. (FOTO: ARTUR WIDAK/ANADOLU AGENCY VIA GETTY IMAGES)

WASHINGTON, investor.id – Inflasi yang stabil pada Oktober 2023 dibandingkan bulan sebelumnya, memberikan tanda harapan harga-harga yang tinggi akan mengurangi cengkeramannya terhadap perekonomian Amerika Serikat (AS). Ini juga menjadi lampu hijau kepada The Federal Reserve (The Fed) untuk berhenti menaikkan suku bunga.

Indeks harga konsumen (CPI), yang mengukur sejumlah besar barang dan jasa yang umum digunakan, meningkat 3,2% dari tahun lalu meskipun tidak berubah pada bulan tersebut, menurut angka penyesuaian musiman dari Departemen Tenaga Kerja pada Rabu (15/11).

Sebelumnya, ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memperkirakan angka masing-masing sebesar 0,1% dan 3,3%.

CPI utama (headline CPI) telah meningkat 0,4% pada September.

ADVERTISEMENT

Tidak termasuk harga pangan dan energi yang bergejolak, CPI inti (core CPI) meningkat 0,2% dan 4% dibandingkan perkiraan sebesar 0,3% dan 4,1%.

Tingkat tahunan tersebut merupakan yang terendah dalam dua tahun terakhir, turun dari 4,1% pada September, meskipun masih jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Namun, para pejabat bank sentral telah menekankan pihaknya ingin melihat serangkaian penurunan dalam data inti, yang telah terjadi sejak April.

Pasar melonjak menyusul berita tersebut. Dow Jones Industrial Average menguat hampir 500 poin karena imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS alias Treasury turun tajam. Para trader juga mengabaikan potensi kenaikan suku bunga The Fed, menurut data CME Group.

“The Fed terlihat cerdas untuk mengakhiri siklus pengetatan secara efektif karena inflasi terus melambat. Imbal hasil turun secara signifikan karena investor terakhir yang tidak yakin dengan keputusan The Fed kemungkinan besar akan menyerah,” kata manajer portofolio Sit Fixed Income Advisors Bryce Doty, menurut laporan CNBC internasional, Rabu.

Data CPI utama yang datar terjadi karena harga energi turun 2,5% pada bulan tersebut, mengimbangi kenaikan indeks pangan sebesar 0,3%. Itu adalah laju bulanan paling lambat sejak Juli 2022.

Biaya tempat tinggal, yang merupakan komponen utama dalam indeks ini, naik 0,3% pada Oktober. Kenaikan ini hanya setengah dari kenaikan di bulan sebelumnya, saat kenaikan dari tahun ke tahun (year on year/ YoY) berkurang menjadi 6,7%.

Dalam kategori tersebut, harga sewa yang setara dengan pemilik, yang mengukur jumlah sewa yang dapat dipesan oleh pemilik properti, meningkat 0,4%. Subkategori yang mencakup harga hotel dan motel turun 2,9%.

Terobosan

“Ini adalah sebuah terobosan,” kata Paul McCulley, mantan kepala ekonom di Pimco dan sekarang menjadi profesor di Universitas Georgetown. Ia membenarkan ekonomi AS sedang menjalani hari yang penuh kegembiraan karena data dengan jelas menunjukkan apa yang telah ditunggu sejak lama.

Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee menyebut laporan tersebut sebagai “kemajuan yang lambat namun jelas” dalam mengembalikan inflasi ke tingkat yang sehat.

Biaya kendaraan, yang merupakan komponen utama inflasi selama lonjakan pada 2021-2022, turun pada bulan tersebut. Harga kendaraan baru turun 0,1%, sedangkan harga kendaraan bekas turun 0,8% dan turun 7,1% dari tahun lalu.

Harga tiket pesawat, komponen lain yang diawasi ketat, turun 0,9% dan turun 13,2% per tahun. Namun asuransi kendaraan bermotor masih mengalami peningkatan sebesar 1,9% dan naik 19,2% dari tahun lalu.

Laporan ini muncul ketika pasar mengamati dengan cermat langkah The Fed selanjutnya dalam upaya melawan inflasi panjang AS, yang dimulai pada Maret 2022. Bank sentral ini akhirnya menaikkan suku bunga pinjaman utamanya sebanyak 11 kali dengan total 5,25 poin persentase.

Meskipun pasar sangat percaya The Fed sudah selesai mengetatkan kebijakan moneternya, data akhir-akhir ini memberikan sinyal yang bertentangan.

Nonfarm payrolls (NFP) pada Oktober hanya meningkat sebesar 150.000. Ini menunjukkan pasar tenaga kerja akhirnya menunjukkan tanda-tanda mereka bereaksi terhadap upaya Fed untuk memperbaiki ketidakseimbangan pasokan-permintaan, yang telah menjadi faktor penyebab inflasi.

Biaya tenaga kerja meningkat dengan kecepatan yang jauh lebih lambat selama satu setengah tahun terakhir karena produktivitas meningkat tahun ini.

Pendapatan rata-rata per jam riil, disesuaikan dengan inflasi, meningkat 0,2% secara bulanan pada Oktober tetapi hanya naik 0,8% dari tahun lalu, menurut rilis terpisah dari Departemen Tenaga Kerja.

Secara lebih luas, produk domestik bruto (PDB) melonjak pada kuartal III-2023 dengan laju pertumbuhan tahunan sebesar 4,9%. Sementara itu, sebagian besar ekonom memperkirakan tingkat pertumbuhan masih akan melambat secara signifikan.

Ketidakpastian

Namun, indikator lain menunjukkan ekspektasi inflasi konsumen AS masih meningkat. Kemungkinan kenaikan ini disebabkan oleh lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dan ketidakpastian yang disebabkan oleh perang di Ukraina dan Gaza.

Gubernur The Fed Jerome Powell pekan lalu menambah kecemasan pasar ketika dia mengatakan dirinya dan rekan-rekan regulator masih tidak yakin telah berbuat cukup banyak untuk menurunkan inflasi ke tingkat tahunan 2%. Ia juga mengatakan tidak akan ragu untuk menaikkan suku bunga jika tidak ada kemajuan dalam penurunan inflasi.

“Meskipun terjadi perlambatan, The Fed kemungkinan akan terus bersikap hawkish dan akan terus memperingatkan investor untuk tidak berpuas diri dengan tekad The Fed untuk menurunkan inflasi ke target jangka panjang 2%,” kata kepala ekonom di LPL Financial Jeffrey Roach.

Bahkan jika The Fed sudah melakukan kenaikan suku bunga, masih terdapat ketidakpastian mengenai berapa lama bank sentral tersebut akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level tertinggi dalam 22 tahun.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 24 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 33 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 50 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 1 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia