Kamis, 14 Mei 2026

The Fed Diperkirakan Turunkan Suku Bunga pada Mei 2024

Penulis : Grace El Dora
15 Nov 2023 | 09:05 WIB
BAGIKAN
Patung elang berdiri di fasad gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles di Washington, Amerika Serikat. (Foto: Andrew Harrer / Bloomberg / Getty Images)
Patung elang berdiri di fasad gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles di Washington, Amerika Serikat. (Foto: Andrew Harrer / Bloomberg / Getty Images)

WASHINGTON, investor.id – Mendinginnya inflasi akan memungkinkan Federal Reserve (Fed) untuk tidak menaikkan suku bunga lagi dan mulai menurunkan suku bunga pada Mei 2024, menurut taruhan para pelaku pasar pada Rabu (15/11). Sebelumnya, laporan pemerintah Amerika Serikat (AS) menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) untuk Oktober 2023 tidak berubah, dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Laporan tersebut yang menunjukkan CPI Oktober naik hanya 3,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, setelah naik 3,7% pada September. “Tampak cukup bagus,” kata Presiden Chicago Federal Reserve Bank Austan Goolsbee di Detroit Economic Club, menurut laporan CNBC internasional, Rabu.

Meskipun ia mengatakan ia ingin melihat kemajuan lebih lanjut, khususnya pada inflasi perumahan, penurunan inflasi CPI dari sekitar 6,3% pada Januari tampaknya akan menjadi penurunan satu tahun tercepat di masa damai dalam lebih dari 40 tahun, kata dia.

ADVERTISEMENT

Goolsbee tidak memperbarui pandangannya mengenai jalur suku bunga, meskipun sebelum data terbaru dirilis. Ia tidak termasuk di antara anggota regulator Fed yang menganjurkan pengetatan kebijakan lebih lanjut.

Harga kontrak berjangka yang sesuai dengan target suku bunga Fed hanya memperkirakan kemungkinan 5% bank sentral AS akan menaikkan suku bunga kebijakannya lebih tinggi dari kisaran saat ini yaitu 5,25% hingga 5,50%, turun dari 28% sebelum laporan Departemen Tenaga Kerja.

Inflasi inti (core inflation), tidak termasuk energi dan pangan, naik 4% dari tahun sebelumnya yang merupakan laju paling lambat dalam lebih dari dua tahun, menurut laporan tersebut.

Angka ini masih jauh di atas target Fed sebesar 2%, namun tren penurunan ini dapat memberikan keyakinan lebih besar kepada regulator, kebijakan tersebut cukup ketat untuk melaksanakan tugasnya.

Para trader dan banyak analis tentunya merasakan hal yang sama.

“Anda bisa mengucapkan selamat tinggal pada era kenaikan suku bunga,” kata kepala ekonom di Annex Wealth Management Brian Jacobsen.

Ekonom J.P. Morgan Michael Feroli, dalam sebuah catatan kepada kliennya, mengatakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember 2023 sudah kecil dan semakin berkurang karena data CPI. Ia juga menekankan angka tersebut dapat mempengaruhi perkiraan bank sentral yang akan dirilis pada rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) berikutnya.

Feroli mengatakan data yang menunjukkan inflasi kuartal IV-2023 bergerak di bawah perkiraan The Fed pada FOMC September dan angka pengangguran sedikit lebih tinggi. “(Dengan demikian) mungkin sulit bagi mereka untuk mengimbangi sikap dovish dengan titik-titik yang lebih hawkish,” tuturnya.

Pada pertemuan Fed pada September, para pejabat telah memperkirakan kenaikan suku bunga federal funds (FFR) satu kali lagi. Kenaikan ini kemungkinan besar tidak akan tercapai.

Sementara itu, Fed kini dipandang kemungkinan besar akan melakukan penurunan suku bunga pertamanya pada Mei. Bank sentral tersebut diperkirakan mengakhiri 2024 dengan suku bunga acuan jangka pendek satu poin persentase lebih rendah dibandingkan saat ini, berdasarkan penetapan harga suku bunga berjangka.

Bank sentral AS terakhir kali menaikkan suku bunga pada Juli. Namun Gubernur Fed Jerome Powell pekan lalu mengatakan dirinya tak akan ragu menaikkan suku bunga lebih lanjut, jika diperlukan, untuk mengembalikan inflasi.

Data inflasi kali ini mengurangi tekanan untuk melakukan pengetatan lebih lanjut, meski tampaknya para gubernur bank sentral AS masih enggan mengakhiri pengetatan kebijakan moneter, menurut Kepala Ekonom Nasional Kathy Bostjancic.

“The Fed untuk saat ini akan mempertahankan bias pengetatannya, dan melakukan kesalahan karena berhati-hati,” tulisnya.

Ketika regulator mengadakan pertemuan pada Desember nanti, mereka akan memiliki laporan mengenai inflasi bulan ini serta laporan terbaru mengenai pasar kerja yang bulan lalu juga mengalami penurunan yang lebih besar dari perkiraan para ekonom. Tingkat pengangguran meningkat hingga 3,9 % dan kenaikan upah pada laju paling lambat dalam hampir 2,5 tahun.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 23 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 32 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 50 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 1 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia