Kamis, 14 Mei 2026

Pejabat Fed Masih Perlu Bukti Inflasi AS Telah Turun

Penulis : Grace El Dora
17 Nov 2023 | 08:45 WIB
BAGIKAN
Presiden Federal Reserve Cleveland Loretta Mester di simposium tahunan Jackson Hole, Wyoming, AS. (FOTO: David A. Grogan / CNBC)
Presiden Federal Reserve Cleveland Loretta Mester di simposium tahunan Jackson Hole, Wyoming, AS. (FOTO: David A. Grogan / CNBC)

WASHINGTON, investor.id – Presiden Federal Reserve (Fed) Cleveland Loretta Mester mengatakan berita minggu ini yang menunjukkan tingkat inflasi yang lebih rendah tidak cukup untuk meyakinkannya. Ia perlu lebih banyak bukti bank sentral Amerika Serikat (AS) telah memenangkan pertarungan melawan harga yang lebih tinggi.

“Kami membuat kemajuan dalam hal inflasi, kemajuan yang nyata. Kita perlu melihat lebih banyak hal seperti itu,” kata Mester seperti dikutip CNBC internasional, Jumat (17/11).

“Kita harus melihat lebih banyak bukti inflasi berada pada jalur yang tepat untuk kembali ke 2%. Namun kami memiliki bukti yang sangat bagus bahwa hal ini telah mengalami kemajuan dan kini tinggal, apakah hal ini terus berlanjut?” tambahnya.

ADVERTISEMENT

Dalam laporan terpisah, Departemen Tenaga Kerja mengatakan indeks harga konsumen (CPI) tidak berubah pada Oktober dibandingkan bulan sebelumnya, sementara harga grosir justru turun 0,5%.

Meskipun indeks harga produsen (PPI) turun di bawah sasaran inflasi 12 bulan bank sentral sebesar 2%. Namun CPI masih berada di angka 3,2% dan bahkan lebih tinggi jika tidak termasuk makanan dan energi yaitu sebesar 4%.

Menyusul laporan tersebut, penilaian pasar di pasar berjangka sepenuhnya menghilangkan kemungkinan Fed akan menyetujui kenaikan suku bunga tambahan. Selain itu, pasar kini memperkirakan penurunan suku bunga tahun depan.

Meski demikian, Mester mengatakan dirinya tidak bisa menilai apa yang akan diambil oleh regulator setelah ini.

“Saya belum menilainya. Menurut saya, posisi kita saat ini adalah pada dasarnya kita berada pada posisi yang sangat baik untuk mengambil kebijakan,” katanya.

Mester membandingkan posisi Fed dengan menavigasi kapal.

“Kita berada di titik rawan. Kita melihat dari menara pengawas. Ini memungkinkan Anda melihat ke depan dan mengetahui dari mana data masuk, ke mana perekonomian berkembang. Dan kemudian kita harus melihat, apakah pergerakannya sesuai dengan perkiraan kita?” jelas presiden Fed Cleveland itu.

Adapun Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) selanjutnya bertemu pada 12-13 Desember.

Mester mendapat suara di komite pada 2024, tetapi akan pensiun pada pertengahan tahun setelah memenuhi batas waktu yang ditetapkan Fed. Ia mengaku belum mengambil keputusan tentang ke mana arah suku bunga yang menurutnya harus diarahkan.

“Menurut saya, ini bukan tentang pemotongan suku bunga. Ini benar-benar tentang berapa lama kita bertahan dalam sikap pembatasan dan mungkin harus mengambil tindakan yang lebih ketat, mengingat apa yang terjadi dalam perekonomian,” pungkasnya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 24 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 32 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 50 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 1 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia