Kamis, 14 Mei 2026

Risalah FOMC Tak Berikan Indikasi The Fed Turunkan Suku Bunga 

Penulis : Indah Handayani
22 Nov 2023 | 04:00 WIB
BAGIKAN
Stempel Dewan Gubernur Sistem Federal Reserve Amerika Serikat dipajang di tanah di Gedung Dewan Federal Reserve Marriner S. Eccles di Washington pada 5 Februari 2018. (Foto: AP/Andrew Harnik, File)
Stempel Dewan Gubernur Sistem Federal Reserve Amerika Serikat dipajang di tanah di Gedung Dewan Federal Reserve Marriner S. Eccles di Washington pada 5 Februari 2018. (Foto: AP/Andrew Harnik, File)

WASHINGTON, investor.id – Risalah Federal Open Market Committee (FOMC) yang diadakan pada 31 Oktober- 1 November 2023 tidak memberikan indikasi mengenai kemungkinan memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat. Karena inflasi dinilai masih jauh di atas target mereka. 

Risalah tersebut menunjukkan anggota FOMC masih khawatir bahwa inflasi akan sulit dikendalikan atau bergerak lebih tinggi, dan mungkin perlu dilakukan tindakan lebih lanjut.

Setidaknya, mereka mengatakan kebijakan harus tetap ‘membatasi’ sampai data menunjukkan inflasi berada pada jalur yang meyakinkan untuk kembali ke sasaran bank sentral sebesar 2%.

ADVERTISEMENT

“Dalam pembahasan prospek kebijakan, para peserta terus menilai bahwa sangatlah penting untuk mempertahankan sikap kebijakan moneter yang cukup ketat untuk mengembalikan inflasi ke sasaran Komite sebesar 2% seiring berjalannya waktu,” demikian isi risalah tersebut dikutip dari CNBC internasional, Rabu (22/11/2023).

Namun, bersamaan dengan itu, risalah tersebut menunjukkan bahwa para anggota yakin mereka dapat bertindak ‘berhati-hati’ dan mengambil keputusan ‘berdasarkan totalitas informasi yang masuk dan implikasinya terhadap prospek ekonomi serta keseimbangan risiko’.

Risalah tersebut tidak memberikan indikasi kapan para anggota akan mulai menurunkan suku bunga, yang tercermin dalam konferensi pers pasca-pertemuan Ketua Jerome Powell.

“Faktanya adalah, Komite sama sekali tidak memikirkan penurunan suku bunga saat ini,” kata Powell saat itu.

Saat ini, suku bunga acuan The Fed berada di kisaran antara 5,25%-5,5%, yang merupakan level tertinggi dalam 22 tahun.

Pertemuan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap kenaikan imbal hasil Treasury, sebuah topik yang tampaknya menjadi diskusi penting selama pertemuan tersebut.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 24 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 33 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 50 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 1 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia