Jumat, 15 Mei 2026

Biden Naikkan Tarif Impor China, Tensi Dagang Kembali Naik

Penulis : Grace El Dora
15 Mei 2024 | 14:43 WIB
BAGIKAN
Beberapa waktu lalu, Presiden AS Joe Biden berbicara dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping selama pertemuan puncak virtual dari Ruang Roosevelt Gedung Putih, Washington, DC. (FOTO: MANDEL NGAN / AFP)
Beberapa waktu lalu, Presiden AS Joe Biden berbicara dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping selama pertemuan puncak virtual dari Ruang Roosevelt Gedung Putih, Washington, DC. (FOTO: MANDEL NGAN / AFP)

WASHINGTON, investor.id – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengumumkan aturan tarif baru yang ketat terhadap impor China senilai US$ 18 miliar. Langkah ini menaikkan tensi dagang dan menimbulkan pertanyaan akankah kedua negara adidaya ini kembali masuk dalam perang dagang.

Kenaikan tarif dinilainya perlu untuk melindungi industri Amerika dari persaingan tidak sehat. Mulai tahun ini Biden akan menaikkan tarif impor kendaraan listrik (electric vehicle/ EV) China sebanyak empat kali lipat, dari 25% menjadi 100%.

Pajak impor sel surya China akan berlipat ganda, dari 25% menjadi 50%. Sedangkan tarif terhadap beberapa impor baja dan aluminium Chinaakan meningkat lebih dari tiga kali lipat, dari 7,5% saat ini menjadi 25%.

ADVERTISEMENT

Presiden juga mengarahkan Perwakilan Dagang AS Katherine Tai untuk menaikkan tarif lebih dari tiga kali lipat pada baterai litium-ion untuk EV dan baterai litium yang dimaksudkan untuk penggunaan lain. Mulai 2025, tarif impor semikonduktor China akan melonjak dari 25% menjadi 50%.

Tarif pertama kali akan dikenakan atas impor jarum suntik medis dari China, serta derek kapal-ke-pantai (ship-to-shore) dalam jumlah besar, kata Gedung Putih dalam lembar fakta yang dirilis Selasa (14/5/2024). Sarung tangan medis dari karet China dan beberapa respirator serta masker wajah juga akan terkena tarif yang lebih tinggi.

Beberapa barang, seperti baterai dan grafit alam, akan memiliki periode penerapan tarif yang lebih lama. Gedung Putih mengatakan hal ini sebagian untuk memberikan waktu bagi sektor manufaktur AS untuk meningkatkan produksi baterai di dalam negeri untuk memenuhi permintaan konsumen.

China memberikan subsidi besar-besaran pada semua produk ini, kata Biden.

“(China) mendorong perusahaan-perusahaan China untuk memproduksi jauh lebih banyak daripada yang dapat diserap oleh negara-negara lain di dunia dan kemudian membuang kelebihan produk tersebut ke pasar dengan harga yang sangat rendah,” jelas Biden di Gedung Putih, Selasa.

“Ketika Anda membuat taktik seperti ini, itu bukan persaingan. Itu curang,” serunya.

Pemerintah China dengan cepat mengecam tarif baru tersebut.

“Peningkatan tarif Pasal 301 yang dilakukan AS bertentangan dengan komitmen Presiden Biden untuk tidak menekan atau menahan perkembangan China dan tidak berupaya memisahkan diri dari China,” kata juru bicara Kementerian Perdagangan dalam pernyataan resminya.

“AS harus segera memperbaiki kesalahannya dan mencabut tindakan tarif terhadap China. China akan mengambil tindakan tegas untuk membela kepentingannya sendiri,” sambungnya.

Mereka yakin subsidi pemerintah China membantu perusahaan memproduksi secara berlebihan. Ini termasuk pada produk energi ramah lingkungan yang murah seperti panel surya dan kendaraan listrik yang melebihi permintaan dalam negeri.

Jika perusahaan-perusahaan tidak dapat menjual surplus tersebut di dalam negeri, para pejabat AS memperingatkan, mereka bisa membuang kelebihan tersebut ke pasar global. Hal ini akan menyulitkan industri energi ramah lingkungan yang baru lahir di negara-negara lain.

“Kelebihan kapasitas China mendistorsi harga dan pola produksi global serta merugikan perusahaan dan pekerja Amerika, serta perusahaan dan pekerja di seluruh dunia,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) AS Janet Yellen pada Maret 2024 menjelang kunjungannya ke China. Di sana, ia berkonfrontasi dengan pejabat pemerintah mengenai masalah ini.

Xinhua, kantor berita pemerintah China, menyebut klaim Yellen “tidak berdasar”.

“Mencerminkan pola pikir zero-sum dari beberapa pembuat kebijakan di Washington,” tulis mereka.

Pemerintahan Biden sejauh ini menyatakan tarif ini “tidak akan berdampak pada inflasi”. Menurut mereka, tarif tersebut tidak berlaku secara menyeluruh terhadap perekonomian dan hanya menargetkan sektor-sektor tertentu, kata seorang pejabat senior pemerintah dalam panggilan telepon pada Senin (13/5/2024).

Hal ini berbeda dengan usulan kampanye Trump, yang menyerukan tarif 10% yang tidak pandang bulu untuk semua impor.

Konsumen dapat mengharapkan “tidak ada kenaikan biaya” dari tarif baru Biden, tambah pejabat senior tersebut menambahkan pada Senin.

“Apa yang warga Amerika harapkan adalah bahwa investasi yang sedang berjalan, yang mendorong terciptanya lapangan kerja di bidang manufaktur dan konstruksi pabrik, akan terus berlanjut. Tarif ini akan melindungi dan menjaga keuntungan tersebut,” kata pejabat itu.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 18 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 20 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia