Jumat, 15 Mei 2026

Syarat Ini Harus Terpenuhi Agar The Fed Pangkas Suku Bunga

Penulis : Grace El Dora
1 Aug 2024 | 08:01 WIB
BAGIKAN
Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell saat berbicara di acara Economic Club of Washington di Washington, DC, AS, pada Senin (15/07/2024) waktu setempat. Dalam kesempatan itu, Powell mengatakan bahwa The Fed tidak akan menunggu hingga laju inflasi AS mencapai 2% untuk mulai menurunkan suku bunga acuan.
Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell saat berbicara di acara Economic Club of Washington di Washington, DC, AS, pada Senin (15/07/2024) waktu setempat. Dalam kesempatan itu, Powell mengatakan bahwa The Fed tidak akan menunggu hingga laju inflasi AS mencapai 2% untuk mulai menurunkan suku bunga acuan.

WASHINGTON, investor.id – Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell pada mengatakan bank sentral Amerika Serikat (AS) itu dapat memangkas suku bunga pada pertemuan September. Namun, ada syarat yang harus terpenuhi.

Pertama, The Fed berani menurunkan suku bunga apabila data ekonomi AS terus bertahan seperti saat ini.

"Jika ujian itu terpenuhi, pengurangan suku bunga kebijakan kami dapat segera di atas meja pada pertemuan berikutnya pada September," kata Powell, seperti dikutip CNBC internasional, Kamis (1/8/2024).

ADVERTISEMENT

Data ekonomi terkini AS menunjukkan data inflasi kembali turun ke target 2% bank sentral, sementara tingkat pengangguran merangkak naik di atas 4%.

The Fed mengatakan dalam pernyataan kebijakannya pada Rabu (Kamis pagi WIB), mereka memperhatikan risiko pada "kedua sisi mandat gandanya" yaitu lapangan kerja maksimum dan harga yang stabil.

Kedua, para bankir sentral akan "bergantung pada data, tetapi tidak bergantung pada poin data" dalam menentukan kapan harus memangkas suku bunga.

"Pertanyaannya adalah apakah totalitas data, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko konsisten dengan meningkatnya kepercayaan pada inflasi dan mempertahankan pasar tenaga kerja yang solid," jelas Powell.

Adapun indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) sebagai pengukur inflasi pilihan The Fed menunjukkan kenaikan sebesar 2,5% tahun ke tahun (YoY) pada Juni 2024.

Ketiga, pasar tenaga kerja tidak melambat. Laporan penggajian nonpertanian berikutnya akan dirilis pada Jumat (2/8/2024) dan beberapa ekonom memperkirakan akan menunjukkan perlambatan dalam perekrutan.

"Saya tidak menganggap pasar tenaga kerja dalam kondisinya saat ini sebagai sumber tekanan inflasi yang signifikan. Jadi saya tidak ingin melihat pendinginan material lebih lanjut di pasar tenaga kerja," tukasnya.

Pada Rabu (31/7/2024), The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran target 5,25% hingga 5,50%. Ketika bank sentral memutuskan untuk menurunkan suku bunga, diharapkan akan melakukannya sebesar 25 basis poin (bps) atau 0,25 poin persentase.

Powell mengatakan pada Rabu, potensi penurunan suku bunga sebesar 50 bps "bukan sesuatu yang dipikirkan saat ini". Ia mengindikasikan setiap penurunan tambahan pada pertemuan mendatang juga akan bergantung pada data ekonomi.

Pertemuan berikutnya dari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bank sentral, yang menentukan setiap pergerakan suku bunga, ditetapkan pada 17-18 September 2024. Powell diperkirakan akan berbicara di depan publik lagi sebelum pertemuan tersebut di Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole pada akhir Agustus 2024.

Komentar terbaru Powell mendorong saham ke titik tertingginya hari itu.

Sebagai penekanan Powell mengatakan potensi pemotongan suku bunga September akan bersifat apolitis, tidak terkait dengan pemilihan presiden mendatang.

Bank sentral akan "benar-benar" apolitis, kata dia, jika menurunkan biaya pinjaman pada pertemuan FOMC. Namun, kepala Fed itu juga memperingatkan pasar agar tidak berasumsi pemotongan pasti akan terjadi.

"Kami tidak pernah menggunakan alat kami untuk mendukung atau menentang partai politik, politisi, atau hasil politik apa pun," tegasnya.

Ia juga mengatakan ramalan ekonomi bank sentral tidak memperhitungkan siapa yang memenangkan kursi kepresidenan.

"Kami tidak akan pernah mencoba membuat keputusan kebijakan berdasarkan hasil pemilu yang belum terjadi. (Itu akan menjadi batas) yang tidak akan pernah kami lewati," ujarnya.

Powell mencatat November 2024 akan menandai pemilihan presiden keempatnya di The Fed. Ia juga menekankan bank sentral adalah lembaga nonpolitik.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia