Jumat, 15 Mei 2026

Inflasi AS di Level Terendah Sejak 2021, Jadi Dasar Pemangkasan Suku Bunga AS

Penulis : Grace El Dora
11 Sep 2024 | 22:46 WIB
BAGIKAN
Orang-orang berbelanja di sebuah supermarket pada 11 Januari 2024 di Foster City, California, Amerika Serikat. Inflasi Amerika Serikat (AS) pada Agustus 2024 menurun ke level terendah sejak Februari 2021. (Foto: Li Jianguo/Getty Images)
Orang-orang berbelanja di sebuah supermarket pada 11 Januari 2024 di Foster City, California, Amerika Serikat. Inflasi Amerika Serikat (AS) pada Agustus 2024 menurun ke level terendah sejak Februari 2021. (Foto: Li Jianguo/Getty Images)

WASHINGTON, investor.id – Inflasi Amerika Serikat (AS) pada Agustus 2024 menurun ke level terendah sejak Februari 2021, menurut laporan Departemen Tenaga Kerja yang dirilis Rabu (11/9/2024). Ini menjadi dasar bagi pemangkasan suku bunga seperempat poin persentase atau 25 basis poin (bps) dari The Federal Reserve (The Fed) dalam seminggu.

Indeks harga konsumen (CPI), ukuran umum biaya barang dan jasa di seluruh ekonomi AS, naik tipis 0,2% untuk bulan tersebut. Angka ini sejalan dengan konsensus Dow Jones, menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS. Hal itu membuat tingkat inflasi AS untuk 12 bulan menjadi 2,5%, turun 0,4 poin persentase dari level Juli 2024, sedikit di bawah estimasi sebesar 2,6%, dan pada level terendah dalam 3,5 tahun.

Namun, CPI inti yang tidak termasuk harga pangan dan energi yang fluktuatif masih meningkat 0,3% untuk bulan yang sama atau sedikit lebih tinggi dari estimasi 0,2%. Tingkat inflasi inti 12 bulan bertahan di 3,2%, sejalan dengan perkiraan.

ADVERTISEMENT

Kenaikan kecil dalam CPI inti membuat bank sentral itu tetap bertahan terhadap inflasi AS. Kemungkinan, mereka akan meniadakan peluang penurunan suku bunga yang lebih agresif ketika para pembuat kebijakan bertemu pada Selasa (17/9/2024) dan Rabu (18/9/2024) mendatang.

"Ini bukan laporan CPI yang ingin dilihat pasar. Dengan inflasi inti yang lebih tinggi dari yang diharapkan, jalan The Fed menuju pemotongan 50 bps menjadi lebih rumit," ungkap Strategis Global di Principal Asset Management Seema Shah, seperti dikutip CNBC internasional, Rabu.

Saham Wall Street merosot setelah laporan tersebut, meskipun imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS alias US Treasury naik.

Di pasar berjangka dana Fed (fed funds futures), trader memperkirakan peluang 85% Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan menyetujui penurunan 25 bps, penurunan suku bunga ketika rapatnya berakhir pada 18 September 2024, menurut ukuran FedWatch CME Group.

Angka tersebut tentu saja bukan halangan bagi tindakan kebijakan minggu depan, tambah Shah.

“Tetapi para petinggi di komite tersebut kemungkinan akan memanfaatkan laporan CPI hari ini sebagai bukti inflasi tahap terakhir perlu ditangani dengan hati-hati dan waspada, (menjadi) alasan yang kuat untuk melakukan pengurangan 25 bps," kata dia.

Meskipun angka-angka tersebut menunjukkan inflasi AS perlahan menurun, biaya terkait perumahan tetap menjadi masalah. Komponen tempat tinggal dari CPI, yang memiliki bobot sekitar sepertiga dalam indeks, naik 0,5%, yang mencakup sebagian besar peningkatan dalam ukuran semua barang. Indeks tempat tinggal naik 5,2% dari tahun ke tahun (YoY).

Adapun harga pangan naik hanya 0,1%, sementara biaya energi turun 0,8%. Dalam laporan yang sama, harga kendaraan bekas turun 1%, layanan perawatan medis turun 0,1%, dan harga pakaian naik 0,3%.

Pendapatan riil juga meningkat untuk bulan tersebut, dengan pendapatan per jam rata-rata melampaui peningkatan CPI bulanan sebesar 0,2%, kata BLS dalam rilis terpisah. Dalam basis 12 bulan, pendapatan per jam rata-rata yang disesuaikan dengan inflasi naik 1,3%.

Namun, perhatian The Fed akhir-akhir ini beralih ke pasar tenaga kerja yang melambat. Penciptaan lapangan kerja sejak April 2024 telah melambat hingga hampir setengah dari yang terjadi dalam lima bulan sebelumnya.

Para bankir sentral mengatakan, mencegah perlambatan yang lebih luas sekarang sama pentingnya dengan memerangi inflasi, yang pada musim panas 2022 mencapai level tertingginya dalam lebih dari 40 tahun.

Terlepas dari apa yang diputuskan The Fed saat rapatnya berakhir Rabu depan, pasar sudah memperkirakan suku bunga yang lebih rendah.

Imbal hasil Treasury, khususnya pada durasi dua dan 10 tahun, berada pada level terendah dalam lebih dari setahun. Indikator resesi yang dikenal sebagai kurva imbal hasil terbalik telah berbalik baru-baru ini, sebuah langkah yang sering kali menandakan penurunan suku bunga dari The Fed serta perlambatan ekonomi.

Laporan hari ini menawarkan lebih banyak bukti bahwa inflasi sedang menurun, meskipun masih di atas target The Fed sebesar 2%. Ada beberapa daerah yang harganya tetap tinggi atau malah naik.

“Meskipun inflasi telah mereda, bukan berarti harga barang yang dibeli orang benar-benar turun. Itu hanya berarti harga tidak naik secepat itu. Faktanya, konsumen AS sekarang membayar lebih dari 20% untuk barang dan jasa dibandingkan sebelum pandemi,” jelas kepala ekonom di Bright MLS Lisa Sturtevant.

Biaya tiket pesawat, misalnya, naik 3,9% pada Agustus 2024 setelah turun selama lima bulan sebelumnya. Asuransi kendaraan bermotor juga terus naik, naik 0,6% sehingga mendorong kenaikan 12 bulan menjadi 16,5%. Biaya rumah sakit dan layanan terkait melonjak 0,4% dan naik 5,8% dari tahun lalu.

Pada saat yang sama, penurunan biaya energi telah membantu menurunkan angka inflasi. Harga bensin turun 0,6% pada Agustus 2024 dan turun 10,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, bagian dari penurunan 4% dalam indeks energi yang mencakup penurunan 12,1% pada harga bahan bakar minyak.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia