Jumat, 15 Mei 2026

Putin Akui Inflasi Jadi Sinyal yang Mengkhawatirkan untuk Ekonomi Rusia

Penulis : Grace El Dora
20 Des 2024 | 12:03 WIB
BAGIKAN
Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri panggilan telepon tahunan yang disiarkan di televisi dengan warga negaranya yang dijuluki Jalur Langsung dengan Vladimir Putin di studio World Trade Center di Moskow, Rusia pada 30 Juni 2021. (Foto: Sergei Savostyanov/ AFP/ Getty Images)
Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri panggilan telepon tahunan yang disiarkan di televisi dengan warga negaranya yang dijuluki Jalur Langsung dengan Vladimir Putin di studio World Trade Center di Moskow, Rusia pada 30 Juni 2021. (Foto: Sergei Savostyanov/ AFP/ Getty Images)

MOSKOW, investor.id – Presiden Rusia Vladimir Putin akhirnya mengakui inflasi jadi sinyal yang mengkhawatirkan untuk ekonomi Rusia. Kondisi ini menjadi masalah yang dihadapi Rusia, sementara ekonomi negara itu sedang terlalu panas.

"Ada beberapa masalah di sini, yaitu inflasi, ekonomi yang terlalu panas, dan pemerintah serta bank sentral sudah bertugas untuk menurunkan tempo," paparnya dalam sesi Tanya Jawab "Jalur Langsung" tahunannya dengan warga Rusia pada Kamis (Jumat pagi WIB), dalam komentar yang diterjemahkan oleh Reuters pada Jumat (20/12/2024).

Indeks harga konsumen (CPI) Rusia mencapai 8,9% pada November 2024 secara tahunan (YoY), naik dari 8,5% pada Oktober 2024. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh kenaikan harga pangan, dengan biaya susu dan produk susu melonjak tahun ini.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, rubel melemah menyusul sanksi baru yang diterapkan pemerintah Amerika Serikat (AS) pada November 2024. Pelemahan nilai tukar juga telah memicu inflasi, sehingga menaikkan biaya impor ke Rusia.

Sementara itu, peningkatan besar dalam pengeluaran militer telah menyebabkan kekurangan tenaga kerja, pasokan, dan produksi di tempat lain. Kondisi ini telah menaikkan harga dan mendorong para pekerja untuk menuntut upah yang lebih tinggi.

“Tentu saja, inflasi adalah sinyal yang sangat mengkhawatirkan,” tutur Putin dalam komentar lebih lanjut yang dilaporkan oleh Interfax dan diterjemahkan oleh Google.

“Baru kemarin, ketika saya sedang mempersiapkan acara hari ini, saya berbicara dengan ketua Bank Sentral Elvira (Nabiullina) yang memberi tahu saya bahwa inflasi sudah sekitar 9,3%. Namun, upah telah tumbuh sebesar 9% secara riil, saya ingin menekankan hal ini, secara riil dikurangi inflasi, dan pendapatan yang dapat dibelanjakan penduduk juga telah tumbuh,” papar presiden Rusia tersebut.

Bank sentral Rusia (CBR) secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 200 basis poin (bps) menjadi 23%. Ini akan menjadi level tertinggi dalam satu dekade, naik dari 20% yang terlihat selama serangan Rusia ke Ukraina pada 2022.

Kemungkinan CBR akan melakukan kenaikan pada Jumat (20/12/2024) waktu setempat, di tengah inflasi yang sangat tinggi dalam ekonomi yang berpusat pada perang.

Putin menyalahkan sanksi internasional atas kenaikan harga. Tetapi ia tampaknya mengkritik bank sentral, dengan mengatakan para ahli telah menyarankan cara lain dapat digunakan untuk menjinakkan inflasi, di luar suku bunga.

“Tentu saja, pembatasan eksternal, sanksi, dan sebagainya juga berdampak sampai batas tertentu. Itu tidak terlalu penting, tetapi tetap tercermin dalam satu atau lain cara (dalam kenaikan harga), karena membuat logistik menjadi lebih mahal. Tetapi ada juga (faktor) subjektif, dan ada kekurangan kita. Kita seharusnya membuat keputusan yang tepat waktu ini. Ini adalah hal yang tidak menyenangkan dan buruk, pada kenyataannya, kenaikan harga, tetapi saya berharap bahwa, secara umum, dengan mempertahankan indikator ekonomi makro, kita akan mengatasinya juga,” kata kepala negara itu, menurut komentar yang dilaporkan oleh kantor berita Tass dan diterjemahkan oleh Google.

Ia menambahkan, pemerintah dan bank sentral Rusia ditugaskan untuk memberikan “pendaratan lunak” kebijakan ke ekonomi riil, yang menurutnya berjalan dengan baik secara keseluruhan dan dapat mencapai pertumbuhan 3,9%-4% tahun ini.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) telah memperkirakan Rusia akan mencapai pertumbuhan 3,6% tahun ini, sebelum melambat menjadi pertumbuhan 1,3% pada 2025.

“Perlambatan tajam (diperkirakan), seiring dengan melambatnya konsumsi dan investasi swasta di tengah berkurangnya pengetatan di pasar tenaga kerja dan pertumbuhan upah yang lebih lambat,” jelas organisasi internasional tersebut.

Pada Kamis (19/12/2024), Putin memperkirakan pertumbuhan ekonomi Rusia akan mencapai 2%-2,5% tahun depan.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia