‘Pengungsi TikTok’ Berbondong-bondong Pindah ke RedNote China
Masuknya aplikasi ini tampaknya mengejutkan RedNote. Dua sumber yang mengetahui perusahaan tersebut mengatakan kepada Reuters, mereka berusaha keras untuk menemukan cara memoderasi konten berbahasa Inggris dan membangun alat penerjemahan Inggris ke bahasa China.
RedNote hanya mengelola satu versi aplikasinya, tidak membaginya menjadi aplikasi luar negeri dan dalam negeri. Hal ini jarang terjadi di antara aplikasi sosial China yang tunduk pada aturan moderasi dalam negeri.
Namun, perusahaan tersebut ingin memanfaatkan lonjakan perhatian yang tiba-tiba ini. Para eksekutif perusahaan tersebut melihatnya sebagai jalur potensial untuk mencapai popularitas global yang mirip dengan TikTok.
RedNote adalah perusahaan startup yang didukung modal ventura dengan valuasi terbaru sebesar US$ 17 miliar. Aplikasi asal China ini memungkinkan pengguna untuk mengatur foto, video, dan teks yang mendokumentasikan kehidupan mereka. Perusahaan ini telah dipandang sebagai kandidat penawaran umum perdana (IPO) saham yang mungkin dilakukan di China.
Dalam beberapa tahun terakhir, TikTok telah menjadi mesin pencari de facto bagi lebih dari 300 juta penggunanya yang mencari kiat perjalanan, krim antipenuaan, maupun rekomendasi restoran.
Harga saham beberapa perusahaan yang terdaftar di China yang menjalankan bisnis dengan RedNote, seperti Hangzhou Onechance Tech Corp, melonjak hingga 20% pada Selasa yang mencapai batas harian.
Lonjakan pengguna di AS terjadi menjelang tenggat waktu 19 Januari 2025 bagi ByteDance untuk menjual TikTok atau menghadapi larangan di AS atas dasar keamanan nasional.
TikTok saat ini digunakan oleh sekitar 170 juta orang Amerika, atau kira-kira setengah dari populasi negara tersebut. Aplikasi ini populer di kalangan anak muda dan pengiklan yang ingin menjangkau mereka.
"Orang Amerika yang menggunakan Rednote merasa seperti jari tengah yang nakal bagi pemerintah AS karena jangkauannya yang berlebihan ke dalam bisnis dan masalah privasi," ujar Stella Kittrell (29), kreator konten yang tinggal di Baltimore, Maryland.
Ia bergabung dengan RedNote dengan harapan dapat berkolaborasi lebih lanjut dengan perusahaan-perusahaan China yang menurutnya bermanfaat.
Beberapa pengguna mengatakan bahwa mereka bergabung dengan platform tersebut untuk mencari alternatif bagi Facebook dan Instagram milik Meta Platforms, serta X milik Elon Musk. Beberapa menyatakan keraguan mereka dapat membangun kembali basis pengikut TikTok mereka di aplikasi-aplikasi tersebut.
"Tidak sama. Instagram, X, atau aplikasi lainnya. Terutama karena betapa organiknya membangun komunitas di TikTok," kata Brian Atabansi (29), analis bisnis dan kreator konten yang tinggal di San Diego, California.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler



