Jumat, 15 Mei 2026

Tolak Tarif Tambahan AS, China Siapkan Balasan

Penulis : Grace El Dora
4 Mar 2025 | 10:14 WIB
BAGIKAN
Bendera China dan AS berkibar di luar gedung perusahaan di Shanghai, China pada 16 November 2021. (FOTO: REUTERS/Aly Song/File Photo)
Bendera China dan AS berkibar di luar gedung perusahaan di Shanghai, China pada 16 November 2021. (FOTO: REUTERS/Aly Song/File Photo)

BEIJING, investor.id – Pemerintah China "menolak tegas" tarif tambahan Amerika Serikat (AS) atas barang-barang impor dari Negara Tirai Bambu tersebut. China akan mengambil tindakan balasan, kata Kementerian Perdagangan dalam sebuah pernyataan pada Selasa (4/3/2025).

Bea masuk tersebut akan "merugikan" hubungan dagang AS-China, kata otoritas tersebut. Pihak China mendesak AS untuk menariknya, kata kementerian dalam bahasa Mandarin yang dikutip CNBC internasional. Sebelumnya, China telah memperingatkan tentang tindakan balasan tetapi belum menjelaskan lebih detail.

Setelah putaran pertama tarif baru AS pada Februari 2025, tindakan balasan China dapat membatasi kemampuan AS untuk berbisnis di negara Asia tersebut. Otoritas China menaikkan bea masuk atas impor energi AS tertentu dan menempatkan dua perusahaan AS pada daftar entitas “yang tidak dapat diandalkan”.

ADVERTISEMENT

Perwakilan Gedung Putih telah mengonfirmasi bea masuk baru sebesar 10% atas barang-barang China akan mulai berlaku Selasa, sehingga jumlah total tarif baru yang dikenakan hanya dalam waktu sekitar satu bulan menjadi 20%.

Tarif efektif rata-rata AS untuk barang-barang China ditetapkan mencapai 33%, naik dari sekitar 13% sebelum Presiden AS Donald Trump memulai masa jabatan terakhirnya pada 20 Januari 2022, menurut perkiraan dari Kepala Ekonom China Nomura Ting Lu.

Global Times yang didukung pemerintah China pada Senin (3/3/2025) melaporkan pemerintah China sedang mempertimbangkan tarif pembalasan atas produk pertanian AS, mengutip sumber anonim.

Ekspor produk pertanian AS seperti kacang kedelai menyumbang bagian terbesar dari barang-barang AS yang diekspor ke China sebesar 1,2%, atau US$ 22,3 miliar pada 2023, menurut analisis Allianz Research.

Minyak dan gas berada di peringkat kedua barang ekspor AS berdasarkan pangsa sebesar 1%, atau US$ 19,3 miliar, menurut penelitian. Farmasi berada di peringkat ketiga sebesar 0,8% atau US$ 15,6 miliar.

Pemerintah China pada hari ini memulai pertemuan parlemen tahunan yang dikenal sebagai "Dua Sesi" (Two Sessions).

Para pembuat kebijakan akan mengumumkan target produk domestik bruto (PDB) tahunan dan rencana stimulus fiskal untuk tahun ini pada Rabu (5/3/2025).

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 9 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia