Jumat, 15 Mei 2026

China Ikuti The Fed Tahan Suku Bunga karena Ancaman Tarif Trump

Penulis : Grace El Dora
20 Mar 2025 | 11:05 WIB
BAGIKAN
Bank Rakyat China (PBoC) telah memangkas dua suku bunga acuan dalam upaya meningkatkan pertumbuhan yang lamban setelah pemulihan pascapandemi Covid-19 berlangsung singkat, di bawah harapan pasar. (Foto: ADEK BERRY)
Bank Rakyat China (PBoC) telah memangkas dua suku bunga acuan dalam upaya meningkatkan pertumbuhan yang lamban setelah pemulihan pascapandemi Covid-19 berlangsung singkat, di bawah harapan pasar. (Foto: ADEK BERRY)

BEIJING, investor.id Bank sentral China (PBoC) mengikuti langkah The Federal Reserve (The Fed) yang menahan suku bunga. Pasalnya, ancaman tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menekan mata uang yuan.

Pemerintah China juga berupaya keras menopang pertumbuhan dan menstabilkan mata uangnya di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan, lapor CNBC internasional, Kamis (20/3/2025).

PBoC mempertahankan suku bunga pinjaman utama satu tahun pada 3,1% dan LPR tenor lima tahun pada level 3,6%. Level suku bunga ini telah berlaku sejak pemotongan seperempat poin persentase atau 25 basis poin (bps) pada Oktober 2024.

ADVERTISEMENT

Keputusan suku bunga mengikuti langkah The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan. Namun, pejabat The Fed mengindikasikan kemungkinan pemotongan suku bunga setengah poin persentase atau 50 bps hingga 2025.

LPR China biasanya dibebankan kepada klien terbaik bank. LPR ini dihitung setiap bulan berdasarkan suku bunga yang diusulkan pemberi pinjaman komersial yang ditunjuk yang diajukan kepada PBoC.

LPR satu tahun memengaruhi pinjaman perusahaan dan sebagian besar pinjaman rumah tangga di China, sedangkan LPR tenor lima tahun berfungsi sebagai patokan untuk suku bunga hipotek.

PBoC mempertahankan suku bunga 7-day rate, suku bunga kebijakan utama negara itu, tetap pada 1,5% sejak pemangkasan pada Oktober 2024. Bank sentral China tersebut mempertahankan yuan yang menghadapi tekanan di tengah ancaman tarif yang lebih tinggi.

Yuan lepas pantai China telah memperoleh kembali kekuatannya dalam beberapa minggu terakhir setelah mencapai titik terendah dalam 16 bulan pada Januari 2025. Sedangkan pelemahannya hampir 1,8% sejak kemenangan pemilihan Trump pada November 2024.

Setelah pengumuman suku bunga, yuan bergerak tipis diperdagangkan pada 7,2280 terhadap dolar AS sementara imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun lebih dari 2 bps menjadi 1,932%.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia