Jumat, 15 Mei 2026

China Tak Mau Perang Dagang, Tapi Tak Takut Tarif Trump

Penulis : Grace El Dora
11 Apr 2025 | 23:56 WIB
BAGIKAN
Sebuah kapal peti kemas bertolak dari terminal peti kemas di Qingdao, Provinsi Shandong, China pada Minggu (06/04/2025). China harus maju menuju perang dagang dengan AS karena posisi ekonominya sedang terpojok. (Investor Daily/Chinatopix Via AP)
Sebuah kapal peti kemas bertolak dari terminal peti kemas di Qingdao, Provinsi Shandong, China pada Minggu (06/04/2025). China harus maju menuju perang dagang dengan AS karena posisi ekonominya sedang terpojok. (Investor Daily/Chinatopix Via AP)

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan penangguhan itu diberikan karena negara-negara tersebut telah menghubungi mitra mereka di AS untuk mencari solusi terkait isu-isu perdagangan, hambatan dagang, tarif, manipulasi mata uang dan tarif non-moneter.

Selain itu negara-negara tersebut juga tidak melakukan tindakan balasan terhadap AS "dalam bentuk apa pun".

"Saya telah mengesahkan PAUSE (penangguhan) selama 90 hari dan menetapkan tarif timbal balik yang jauh lebih rendah, sebesar 10%, yang juga berlaku segera. Suatu saat nanti, semoga dalam waktu dekat, China akan menyadari masa-masa menipu Amerika Serikat dan negara-negara lain sudah tidak dapat diterima dan tidak bisa dipertahankan lagi," unggah Trump dalam akun Truth Social.

ADVERTISEMENT

Setelah kabar tersebut diumumkan, bursa Wall Street kompak melonjak tajam dengan indeks Dow Jones naik 7,69%, indeks Nasdaq naik 12,16%, dan Russell 2000 naik 8,66%. Tidak hanya saham, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS alias US Treasury pun mulai berangsur normal, dari sebelumnya di level 4% di tengah ekspektasi akan pemangkasan tingkat suku bunga The Fed yang berkurang.

Adapun pemerintah China mulai Kamis (10/4/2025) pukul 12.00 waktu setempat memberlakukan tarif baru yaitu sebesar 84% terhadap barang-barang asal AS, menurut pengumuman Komisi Tarif Bea Cukai Dewan China.

Pihaknya juga sudah melayangkan tuntutan terhadap AS kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait penerapan perang tarif Trump yang dianggap berpotensi mengacaukan perdagangan global.

Otoritas Negara Tirai Bambu itu juga menuduh AS telah melanggar aturan WTO dan merusak sistem perdagangan multilateral. China mendorong Sekretariat WTO meneliti dampak dari kebijakan tarif timbal balik terhadap perdagangan global, serta melaporkan temuannya kepada seluruh anggota.

"Situasi tersebut, telah meningkat secara berbahaya. Sebagai salah satu anggota yang terdampak, China menyampaikan keprihatinan mendalam dan penolakan tegas terhadap langkah sembrono ini," demikian isi pernyataan China kepada WTO.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia