AS Terlibat Konflik di Timteng, Ekonom Sebut Harga Minyak Dunia Mendidih
JAKARTA, investor.id – Sejumlah pihak termasuk para ekonom, mewanti-wanti dampak buruk yang akan terjadi seiring konflik di Timur Tengah yang semakin memanas akhir-akhir ini. Terlebih Amerika Serikat (AS) ikut terlibat dalam konflik yang dimaksud, dengan ekonom menyebut harga minyak dunia mendidih.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Mohammad Faisal mengungkapkan, dampak paling nyata yang bakal terjadi adalah fluktuasi harga minyak dunia. Mengingat, Timur Tengah merupakan kawasan produsen minyak terbesar di global.
"Iran adalah negara produsen minyak di dunia paling besar nomor enam. Jadi perang Iran akan mempengaruhi distribusi dari sisi produksi dan juga distribusi dari minyak dunia, karena perannya yang besar dalam suplai minyak di dunia," ungkap Faisal kepada B-Universe, Selasa (24/6/2025).
Sementara dengan terlibatnya AS ke dalam konflik di Timur Tengah, tentu hal ini semakin rumit. Bisa saja konflik di Timur Tengah akan semakin panjang.
Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyampaikan pasukan militer negaranya telah meluncurkan serangan udara yang sangat berhasil terhadap tiga lokasi fasilitas nuklir utama milik Iran. Salah satu fasilitas yang diserang adalah Fordow, situs pengayaan uranium bawah tanah yang krusial untuk Iran.
Faisal melanjutkan, dampaknya tentu akan mengerek harga minyak semakin tinggi. Bukan tidak mungkin, harga minyak dunia dapat tembus ke angka US$ 100 dolar AS per barel. Untuk saat ini, harga minyak dunia berada di rentang US$ 67 hingga US$ 68 per barel. "Sangat mungkin dengan masuknya Amerika Serikat bisa ke atas 80 dolar per barrel. Bahkan kalau makin luas bisa lebih lagi, jadi lebih dari US$ 100 per barrel itu tidak menutup kemungkinan," papar Faisal.
Apabila hal tersebut terjadi, kata Faisal, bukan tidak mungkin pemerintah akan melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi seperti solar maupun pertalite. Pada akhirnya, konflik akan berdampak terhadap inflasi dan kinerja perekonomian di dalam.
Diketahui, Indonesia merupakan negara yang konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri, masih bergantung pada impor. "Kalau sudah sampai pada tahap tersebut, tentu saja biasanya akan diikuti dengan penyesuaian harga, terutama di negara-negara yang merupakan net importer minyak seperti Indonesia," tukasnya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






