Laporan Inflasi AS Akan Jadi Petunjuk Dampak Tarif Trump
JAKARTA, investor.id – Laporan inflasi Amerika Serikat (AS) pada Juni 2025 akan lebih dicermati daripada data pokoknya, terutama apakah tarif yang diterapkan Presiden AS Donald Trump mulai berdampak. Indeks harga konsumen (CPI) AS akan dirilis Selasa pukul 08.30 ET (Rabu WIB), diperkirakan akan menunjukkan peningkatan pada pembacaan inflasi utama dan inflasi inti, dengan angka inti masih jauh di atas target The Federal Reserve (The Fed).
Namun, yang akan sangat penting adalah sejauh mana tarif Trump memengaruhi harga dan berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi.
“Juni adalah pembacaan pertama (ketika) tarif ini benar-benar akan mulai terasa dampaknya secara nyata,” kata Chris Hodge selaku kepala ekonom AS di Natixis CIB Americas seperti dikutip CNBC internasional, Selasa (15/7/2025).
CPI, yang mengukur sekeranjang barang dan jasa secara luas di seluruh perekonomian AS, diperkirakan akan menunjukkan kenaikan bulanan sebesar 0,3% untuk inflasi utama dan inflasi inti, dengan yang terakhir tidak termasuk biaya pangan dan energi yang fluktuatif. Secara tahunan, indeks CPI AS diperkirakan akan menunjukkan pembacaan inflasi utama sebesar 2,7% dan 3% untuk inflasi inti.
Bagi The Fed, kedua angka tersebut masih akan berada di atas target 2%. Ini terlepas dari langkah para pembuat kebijakan bank sentral menggunakan tolok ukur Departemen Perdagangan yang terpisah sebagai alat prakiraan utama mereka.
Lebih penting lagi, CPI akan memberikan gambaran sekilas tentang bagaimana bea masuk alias tarif Trump telah masuk ke kantong konsumen. Ketika Hodge melihat laporan tersebut, ia akan melihat dua area utama.
"Saya melihat otomotif dan pakaian jadi, dan pembacaan bulan lalu sangat rendah untuk keduanya, yang sangat berlawanan dengan apa yang Anda harapkan. Ini adalah dua sektor yang sangat sensitif terhadap kenaikan tarif," kata dia.
Faktanya, pembacaan Mei 2025 secara keseluruhan lemah dan tampaknya menunjukkan sedikit tekanan ke atas dari tarif terbatas yang mulai berlaku pada April 2025. Baik CPI utama maupun inti hanya naik 0,1% secara bulanan. Harga kendaraan baru menurun 0,3% dan harga kendaraan bekas turun 0,5%, sementara pakaian jadi turun 0,4% dan harga energi turun 1%.
Angka-angka tersebut umumnya diperkirakan akan berbalik, meskipun para ekonom Goldman Sachs khususnya berpendapat kendaraan bekas mungkin masih mengalami penurunan berdasarkan tren lelang mobil baru-baru ini. Goldman memperkirakan kenaikan di bawah konsensus sebesar 0,2% dalam CPI inti untuk Juni 2025. Pejabat The Fed percaya CPI inti memberikan panduan yang lebih baik untuk tren inflasi jangka panjang.
Secara umum, para ekonom akan melihat tren barang inti sebagai barometer terbaik untuk dampak tarif. Kategori ini mencakup barang-barang seperti pakaian jadi dan alas kaki, elektronik, barang-barang perumahan, dan furnitur.
Goldman memperkirakan kenaikan asuransi mobil dan tarif pesawat, sedangkan kontribusi umum dari tarif Trump sekitar 0,08 poin persentase terhadap pembacaan inti. Sektor-sektor yang terdampak tarif seperti furnitur, rekreasi, pendidikan, komunikasi, dan perawatan pribadi dapat mengalami penurunan harga, kata perusahaan itu.
Para ekonom juga akan mencermati harga rumah, yang selama ini menjadi komponen yang terus-menerus mempertahankan angka inflasi yang lebih tinggi. “Prakiraan kami mencerminkan akselerasi tajam di sebagian besar kategori barang inti, tetapi dampaknya terbatas pada inflasi jasa inti, setidaknya dalam jangka pendek,” kata Goldman dalam catatan resminya.
Pemerintah AS juga akan mencermati laporan tersebut. Presiden Trump dan pejabat pemerintahan lainnya telah menekan The Fed untuk menurunkan suku bunga, sementara angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat menyebabkan para bankir sentral semakin teguh dalam pelonggaran kebijakan.
“The Fed ingin memastikan ekspektasi jangka panjang tidak menjadi tidak stabil, dan saya pikir The Fed harus melihat puncak inflasi yang disebabkan oleh tarif sebelum mereka merasa nyaman untuk memangkas suku bunga. Saat ini kita berada di masa di mana memecah (laporan inflasi) menjadi komponen-komponen individual menjadi lebih berguna dan lebih penting daripada sebelumnya,” jelas Hodge selaku ekonom Natixis.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






