Jumat, 15 Mei 2026

USAID Tidak Temukan Bukti Hamas Mencuri Bantuan Kemanusiaan Gaza

Penulis : Happy Amanda Amalia
26 Jul 2025 | 19:46 WIB
BAGIKAN
Warga Palestina membawa karung berisi makanan dan paket bantuan kemanusiaan yang dikirim oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza di Rafah, Jalur Gaza selatan, pada 25 Juni 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)
Warga Palestina membawa karung berisi makanan dan paket bantuan kemanusiaan yang dikirim oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza di Rafah, Jalur Gaza selatan, pada 25 Juni 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

WASHINGTON, investor.id – Hasil analisis internal Pemerintah Amerika Serikat (AS) tidak menemukan bukti adanya pencurian sistematis oleh kelompok militan Palestina, Hamas, atas pasokan kemanusiaan yang didanai AS. Sehingga menentang alasan utama yang diberikan Israel dan AS untuk mendukung operasi bantuan swasta bersenjata yang baru.

Analisis yang belum pernah dilaporkan sebelumnya ini disampaikan oleh biro yang berada di bawah Badan Pembangunan Internasional AS atau U.S. Agency for International Development (USAID), dan telah diselesaikan pada akhir Juni 2025.

Analisis tersebut memeriksa kasus 156 insiden pencurian atau kehilangan pasokan yang didanai AS, yang dilaporkan oleh organisasi mitra bantuan AS antara Oktober 2023 dan Mei 2025.

Temuan laporan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada laporan yang menuduh Hamas mendapatkan keuntungan dari pasokan yang didanai AS. Demikian dikutip Reuters dari lembaran presentasi laporan.

ADVERTISEMENT

Namun juru bicara Departemen Luar Negeri (Deplu) AS membantah temuan tersebut. Menurut ia, ada bukti video yang menunjukkan Hamas menjarah bantuan, tetapi tidak memberikan video tersebut.

Juru bicara itu juga menuduh kelompok-kelompok kemanusiaan tradisional menutupi korupsi bantuan.

“Temuan tersebut disampaikan ke kantor inspektur jenderal USAID dan pejabat Deplu AS yang terlibat dalam kebijakan Timur Tengah,” ujar dua sumber yang mengetahui masalah ini.

Laporan itu muncuk bersamaan dengan situasi kekurangan pangan yang mengerikan dan makin parah di daerah kantong yang hancur itu.

Sebelumnya Israel menyatakan berkomitmen untuk mengizinkan masuknya bantuan, namun harus mengontrolnya agar tidak dicuri oleh Hamas – yang dituding sebagai penyebab krisis.

Laporan Program Pangan Dunia (WFP) PBB mengatakan hampir seperempat dari 2,1 juta warga Palestina di Gaza menghadapi kondisi kelaparan, dan ada ribuan orang menderita malnutrisi akut. Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta para dokter di daerah kantong tersebut melaporkan adanya korban meninggal dunia akibat kelaparan yang menimpa anak-anak dan lainnya.

PBB juga memperkirakan pasukan Israel telah menewaskan lebih dari 1.000 orang yang sedang mencari pasokan makanan. Yang mana sebagian besar berada di dekat lokasi distribusi militer Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF).

GHF adalah kelompok bantuan swasta baru yang menggunakan perusahaan logistik nirlaba AS, yang dikelola mantan perwira CIA dan para veteran militer AS yang dipersenjatai.

Penelitian ini dilakukan oleh Biro Bantuan Kemanusiaan (BHA) USAID, yang merupakan penyandang dana bantuan terbesar untuk Gaza sebelum pemerintahan Trump membekukan semua bantuan luar negeri AS pada Januari 2025, dan menghentikan ribuan program. Pemerintah juga mulai membubarkan USAID, yang fungsinya telah dilebur ke dalam Deplu AS.

Analisis tersebut menemukan bahwa setidaknya 44 dari 156 insiden di mana pasokan bantuan dilaporkan dicuri atau hilang “baik secara langsung maupun tidak langsung” karena tindakan militer Israel, menurut slide pengarahan.

Militer Israel tidak menanggapi pertanyaan tentang temuan tersebut.

Di sisi lain, catatan studi ini mengakui adanya keterbatasan, karena warga Palestina yang menerima bantuan tidak dapat diperiksa, serta kemungkinan pasokan yang didanai AS diberikan kepada para pejabat administratif Hamas, penguasa Islamis di Gaza.

Salah satu sumber yang mengetahui penelitian ini juga memperingatkan bahwa tidak adanya laporan tentang pengalihan bantuan yang meluas oleh Hamas, bukan berarti tidak terjadi pengalihan bantuan.

Perang Gaza kali ini diawali serbuan Hamas ke Israel pada Oktober 2023, hingga menewaskan 1.200 orang dan menangkap 251 sandera. Sementara pejabat kesehatan Palestina mengatakan hampir 60.000 warga Palestina telah terbunuh sejak serangan Israel dimulai.

Tudingan Mengalihkan Bantuan

Israel, yang mengontrol akses ke Gaza, mengatakan Hamas melakukan pencurian pasokan makanan dari PBB dan organisasi-organisasi lain dengan tujuan mengontrol penduduk sipil dan meningkatkan keuangan mereka.  Termasuk dengan cara mendongkrak harga barang-barang tersebut dan menjualnya kembali kepada warga sipil.

Ketika ditanya mengenai laporan USAID, militer Israel mengatakan kepada Reuters bahwa tuduhannya didasarkan pada laporan intelijen bahwa Hamas menyita kargo bantuan dengan cara secara diam-diam maupun terang-terangan, dengan menempelkan diri mereka di truk-truk bantuan.

“Laporan-laporan tersebut juga menunjukkan bahwa Hamas telah mengalihkan hingga 25% pasokan bantuan kepada para pejuangnya atau menjualnya kepada warga sipil,” kata militer Israel, seraya menambahkan bahwa GHF telah mengakhiri kendali para militan atas bantuan tersebut dengan mendistribusikannya secara langsung kepada warga sipil.

Hamas pun membantah tuduhan tersebut. Seorang pejabat keamanan Hamas menyampaikan bahwa Israel telah membunuh lebih dari 800 polisi dan petugas keamanan yang berafiliasi dengan Hamas, yang berusaha melindungi kendaraan bantuan dan rute konvoi. Misi mereka juga telah dikoordinasikan dengan PBB.

Kantor berita Reuters sendiri tidak dapat memverifikasi secara independen klaim-klaim dari Hamas dan Israel, yang belum memberikan bukti kepada publik bahwa para militan telah mencuri bantuan secara sistematis.

GHF juga menuduh Hamas melakukan pencurian bantuan besar-besaran untuk mempertahankan model distribusinya. PBB dan kelompok-kelompok lain pun telah menolak seruan dari GHF, Israel dan AS untuk bekerja sama dengan yayasan tersebut, karena melanggar prinsip-prinsip netralitas kemanusiaan internasional.

Menanggapi permintaan komentar, GHF memberikan Reuters sebuah artikel Washington Post pada 2 Juli 2025, yang mengutip pernyataan pejabat Gaza dan pejabat Israel bahwa Hamas mengambil untung dari penjualan dan pengenaan pajak atas bantuan kemanusiaan yang dicuri.

Diperintah Laporkan Kehilangan

Sebanyak 156 laporan pencurian atau kehilangan perbekalan yang dikaji oleh BHA diajukan oleh badan-badan PBB dan kelompok-kelompok kemanusiaan lain, yang bekerja di Gaza sebagai syarat untuk mendapatkan dana bantuan dari Amerika.

Menurut sumber, setelah menerima laporan tentang pencurian atau kehilangan bantuan yang didanai AS, staf USAID menindaklanjuti dengan organisasi-organisasi mitra untuk mencoba menentukan apakah ada keterlibatan Hamas.

“Organisasi-organisasi tersebut juga akan mengalihkan atau menghentikan sementara distribusi bantuan, jika mereka mengetahui bahwa Hamas berada di sekitar lokasi,” kata sumber tersebut.

Di samping itu, organisasi-organisasi bantuan yang bekerja di Gaza juga diwajibkan untuk memeriksa personil, sub-kontraktor, dan pemasok mereka apakah memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok ekstremis sebelum menerima dana dari AS. Syarat ini kemudian dikecualikan oleh Deplu AS saat menyetujui dana sebesar US$ 30 juta untuk GHF pada bulan lalu.

Lembaran pemaparan mencatat bahwa para mitra USAID cenderung melaporkan secara berlebihan pengalihan dan pencurian bantuan oleh kelompok-kelompok yang diberi sanksi atau ditetapkan oleh AS sebagai organisasi teroris asing - seperti Hamas dan Jihad Islam Palestina - karena mereka ingin menghindari kehilangan dana AS.

“Dari 156 insiden kehilangan atau pencurian yang dilaporkan, 63 di antaranya dikaitkan dengan pelaku yang tidak dikenal, 35 dengan pelaku bersenjata, 25 dengan orang tak bersenjata, 11 secara langsung dengan aksi militer Israel, 11 dengan subkontraktor yang korup, lima dengan personil kelompok yang terlibat dalam kegiatan korup, dan enam dengan ‘lainnya’, sebuah kategori yang mencakup komoditas yang dicuri dalam situasi yang tidak diketahui,” demikian menurut lembaran presentasi tersebut.

Lembaran presentasi berikut menunjukkan bahwa para pelaku bersenjata itu termasuk geng dan individu-individu lain yang mungkin memiliki senjata. Sementara lembaran pemaparan lain mengatakan tinjauan terhadap 156 insiden tidak menemukan adanya afiliasi dengan organisasi teroris asing yang ditetapkan AS, di mana Hamas adalah salah satunya.

“Mayoritas insiden tidak dapat secara definitif dikaitkan dengan aktor tertentu. Para mitra sering kali menemukan bahwa komoditas tersebut telah dicuri dalam perjalanan tanpa mengidentifikasi pelakunya. Ada kemungkinan laporan intelijen rahasia mengenai pencurian bantuan Hamas, namun staf BHA kehilangan akses ke sistem rahasia dalam pembubaran USAID,” katanya.

Namun, menurut sumber yang mengetahui penilaian intelijen AS mengatakan kepada Reuters bahwa mereka tidak mengetahui adanya laporan intelijen AS yang merinci pengalihan bantuan Hamas, dan AS hanya mengandalkan laporan Israel.

Analisis BHA menemukan bahwa militer Israel secara langsung atau tidak langsung menyebabkan total 44 insiden di mana bantuan yang didanai AS hilang atau dicuri. Termasuk di dalamnya 11 insiden yang disebabkan oleh tindakan militer Israel secara langsung, seperti serangan udara atau perintah kepada warga Palestina untuk mengungsi dari daerah kantong yang dilanda perang.

“Kerugian yang secara tidak langsung dikaitkan dengan militer Israel itu, termasuk kasus-kasus di mana mereka memaksa kelompok-kelompok bantuan untuk menggunakan rute pengiriman dengan risiko pencurian atau penjarahan yang tinggi, mengabaikan permintaan untuk rute alternatif,” demikian hasil analisis tersebut.

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia