Jumat, 15 Mei 2026

Trump Sebut Kebijakan Tarif Bikin AS Kembali Hebat dan Kaya

Penulis : Grace El Dora
1 Aug 2025 | 13:09 WIB
BAGIKAN
Presiden AS Donald Trump. (Foto: Istimewa)
Presiden AS Donald Trump. (Foto: Istimewa)

"Wow! Kanada baru saja mengumumkan dukungannya terhadap pembentukan negara Palestina. Itu akan sangat menyulitkan kami untuk mencapai Kesepakatan Dagang dengan mereka," tulis presiden AS di platform Truth Social miliknya.

Pada Rabu (30/7/2025), ia juga menandatangani perintah pada Rabu untuk mengenakan tarif 50% yang sebelumnya diancamkan pada produk tembaga tertentu dan mengakhiri pembebasan tarif untuk pengiriman bernilai rendah dari luar negeri.

Perintah tersebut tidak mencakup produk-produk seperti bijih tembaga, konsentrat, dan katoda, sehingga memberikan sedikit kelegaan bagi industri.

ADVERTISEMENT

Menjelang tenggat waktu kesepakatan Trump yang semakin dekat, Menteri Perdagangan Howard Lutnick mengatakan kepada Fox News bahwa Washington telah mencapai kesepakatan dagang dengan Kamboja dan Thailand, tetapi tidak memberikan detail mengenai kesepakatan tersebut.

Kenaikan tarif AS yang dijadwalkan pada Jumat awalnya diumumkan pada April 2025 sebagai bagian dari paket di mana Trump mengenakan tarif minimum 10% atas barang dari hampir semua mitra dagang, dengan alasan praktik perdagangan yang tidak adil.

Tarif ini ditetapkan untuk naik ke berbagai tingkatan untuk puluhan negara seperti Uni Eropa (UE), Jepang, dan lainnya, tetapi pemerintah AS dua kali menunda penerapannya karena pasar keuangan bergejolak.

Pemimpin AS tersebut pada Rabu menegaskan batas waktu 1 Agustus tidak akan diperpanjang lebih lanjut.

Sejauh ini, Inggris, Vietnam, Jepang, Indonesia, Filipina, Uni Eropa (UE), dan Korsel telah mencapai kesepakatan awal dengan pihak AS untuk mengamankan persyaratan yang lebih ringan.

Meskipun AS dan China sebelumnya saling mengenakan tarif yang meningkat pada produk masing-masing, kedua belah pihak berupaya untuk melanjutkan gencatan senjata dengan mempertahankan tarif pada tingkat yang lebih rendah.

Meskipun Trump telah menjanjikan lonjakan pendapatan pemerintah dari tarifnya, para ekonom memperingatkan bahwa tarif yang lebih tinggi dapat memicu lonjakan inflasi dan membebani pertumbuhan ekonomi.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 52 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 54 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia