Jumat, 15 Mei 2026

Investor Lihat Sedikit Keuntungan Saat Badai Tarif Hantam Pasar Global

Penulis : Grace El Dora
2 Aug 2025 | 09:43 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Wall Street. (Foto: AP)
Ilustrasi Wall Street. (Foto: AP)

WASHINGTON, investor.id – Batas waktu tarif yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berakhir Jumat (1/8/2025). Tak banyak memberikan kelonggaran bagi pasar, dengan saham di seluruh dunia terpukul.

investor juga khawatir akan biaya yang ditimbulkan akibat gangguan rantai pasokan global dan hasil perundingan dengan China, lapor Reuters, Sabtu (2/8/2025).

Bagi para pedagang yang telah terbiasa dengan ancaman berulang Trump, tindakannya untuk menerapkan tarif menyeluruh bagi puluhan negara mungkin merupakan peringatan, karena batas waktu untuk mencapai kesepakatan perdagangan dengan AS telah berakhir dan pungutan baru tiba tepat waktu.

ADVERTISEMENT

Tarif baru Trump mencakup bea masuk sebesar 35% untuk banyak barang dari Kanada, 50% untuk Brasil, 25% untuk India, 20% untuk Taiwan, dan 39% untuk Swiss.

Bea masuk ekspor baru ini berada di bawah tarif "Hari Pembebasan" yang diumumkan pada 2 April 2025, tetapi beberapa negara masih dalam perundingan dengan Amerika, yang memicu ketidakpastian.

Investor juga masih cemas mengenai apakah AS dan Chinaakan mampu mencapai kesepakatan untuk menghindari tarif 55% sebelum gencatan senjata perdagangan mereka berakhir pada 12 Agustus 2025.

"Pasar, bahkan sebelum pengumuman kemarin malam, tampak acuh tak acuh terhadap risiko perlambatan pertumbuhan global yang dipimpin AS, yang kami perkirakan akan terjadi mengingat tekanan tarif," ucap Andreas Bruckner selaku ahli strategi ekuitas Eropa di Bank of America.

Ini menjadi pengingat bahwa seorang presiden AS yang secara konsisten menganjurkan kebijakan proteksionis selama beberapa dekade kini memiliki kekuatan untuk memaksakan biaya yang lebih tinggi pada perusahaan-perusahaan di seluruh rantai pasokan global yang kompleks yang membutuhkan waktu yang sama lamanya untuk dibangun.

MSCI All Country World Index naik 21,2% dari level terendah pada April 2025, tetapi telah turun selama enam sesi berturut-turut.

Trump mengenakan tarif 20% kepada Taiwan pada hari Jumat, lebih tinggi dari 15% yang disepakati Amerika Serikat dengan Jepang dan Korea Selatan, meskipun pemerintah mengatakan akan terus bernegosiasi untuk mendapatkan tarif yang lebih rendah. Taiwan dan Korea Selatan masing-masing merupakan mata rantai penting dalam rantai pasokan cip logika canggih dan chip memori.

Saham-saham produsen perangkat keras teknologi terbesar di Asia Pasifik terdampak penjualan, dengan indeks Kospi Korea Selatan anjlok hingga 3,8% dan indeks acuan Taiwan turun hingga 1,6% sebelum akhirnya pulih.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 4 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 1 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 1 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia