Investor Lihat Sedikit Keuntungan Saat Badai Tarif Hantam Pasar Global
WASHINGTON, investor.id – Batas waktu tarif yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berakhir Jumat (1/8/2025). Tak banyak memberikan kelonggaran bagi pasar, dengan saham di seluruh dunia terpukul.
investor juga khawatir akan biaya yang ditimbulkan akibat gangguan rantai pasokan global dan hasil perundingan dengan China, lapor Reuters, Sabtu (2/8/2025).
Bagi para pedagang yang telah terbiasa dengan ancaman berulang Trump, tindakannya untuk menerapkan tarif menyeluruh bagi puluhan negara mungkin merupakan peringatan, karena batas waktu untuk mencapai kesepakatan perdagangan dengan AS telah berakhir dan pungutan baru tiba tepat waktu.
Tarif baru Trump mencakup bea masuk sebesar 35% untuk banyak barang dari Kanada, 50% untuk Brasil, 25% untuk India, 20% untuk Taiwan, dan 39% untuk Swiss.
Bea masuk ekspor baru ini berada di bawah tarif "Hari Pembebasan" yang diumumkan pada 2 April 2025, tetapi beberapa negara masih dalam perundingan dengan Amerika, yang memicu ketidakpastian.
Investor juga masih cemas mengenai apakah AS dan Chinaakan mampu mencapai kesepakatan untuk menghindari tarif 55% sebelum gencatan senjata perdagangan mereka berakhir pada 12 Agustus 2025.
"Pasar, bahkan sebelum pengumuman kemarin malam, tampak acuh tak acuh terhadap risiko perlambatan pertumbuhan global yang dipimpin AS, yang kami perkirakan akan terjadi mengingat tekanan tarif," ucap Andreas Bruckner selaku ahli strategi ekuitas Eropa di Bank of America.
Ini menjadi pengingat bahwa seorang presiden AS yang secara konsisten menganjurkan kebijakan proteksionis selama beberapa dekade kini memiliki kekuatan untuk memaksakan biaya yang lebih tinggi pada perusahaan-perusahaan di seluruh rantai pasokan global yang kompleks yang membutuhkan waktu yang sama lamanya untuk dibangun.
MSCI All Country World Index naik 21,2% dari level terendah pada April 2025, tetapi telah turun selama enam sesi berturut-turut.
Trump mengenakan tarif 20% kepada Taiwan pada hari Jumat, lebih tinggi dari 15% yang disepakati Amerika Serikat dengan Jepang dan Korea Selatan, meskipun pemerintah mengatakan akan terus bernegosiasi untuk mendapatkan tarif yang lebih rendah. Taiwan dan Korea Selatan masing-masing merupakan mata rantai penting dalam rantai pasokan cip logika canggih dan chip memori.
Saham-saham produsen perangkat keras teknologi terbesar di Asia Pasifik terdampak penjualan, dengan indeks Kospi Korea Selatan anjlok hingga 3,8% dan indeks acuan Taiwan turun hingga 1,6% sebelum akhirnya pulih.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler

