Ancaman Penalti Trump Himpit India Gara-gara Minyak Rusia
JAKARTA, investor.id – Ancaman penalti Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghimpit India gara-gara minyak Rusia. Pemerintah India sedang menghadapi dilema yang rumit setelah mengancam akan memberikan "denda" atas impor minyak Rusia yang berkelanjutan.
Namun, tampaknya pemerintah India masih enggan mengakhiri perdagangan dengan Rusia.
Meskipun Trump mengatakan pada Jumat (1/8/2025) ia mendengar India akan menghentikan pembelian, para pejabat di New Delhi tetap tidak berkomitmen. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Randhir Jaiswal mengatakan negara tersebut memutuskan sumber impor energinya berdasarkan harga minyak yang tersedia di pasar internasional dan tergantung pada situasi global saat itu.
Bob McNally selaku presiden perusahaan konsultan Rapidan Energy Group mengatakan India saat ini pasti kebingungan menyusul ancaman Trump. Pasalnya, kebijakan Trump bertolakbelakang dengan kebijakan AS di bawah pemerintahan Biden.
"Sekarang kita berbalik dan bertanya, 'Apa yang kalian lakukan mengambil semua minyak Rusia ini?'" kata McNally seperti dikutip CNBC internasional, Senin (4/8/2025).
Pada Maret 2022 yaitu sebulan setelah Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina, Daleep Singh selaku mantan wakil penasihat keamanan nasional AS untuk ekonomi internasional di pemerintahan Biden sempat membahas hal ini. Menurut laporan, Singh menegaskan pihaknya tetap mengimpor minyak Rusia karena saat itu tidak ada larangan impor energi dari Rusia.
"Yang tidak ingin kami lihat adalah percepatan impor India dari Rusia yang cepat terkait energi atau ekspor lainnya yang saat ini dilarang oleh kami atau oleh aspek lain dari rezim sanksi internasional," tuturnya.
Pada 30 Juli 2025, Trump mengumumkan India akan menghadapi tarif 25% mulai 1 Agustus 2025, beserta denda yang tidak disebutkan jumlahnya jika membeli minyak dan peralatan militer Rusia.
Namun para analis berpendapat India, yang merupakan konsumen energi terbesar ketiga di dunia, tidak akan tinggal diam untuk saat ini. Reuters melaporkan tidak ada rencana perubahan segera terhadap kontrak jangka panjang India dengan pemasok Rusia, mengutip dua sumber anonim pemerintah India yang tidak ingin disebutkan namanya karena sensitivitas masalah ini.
Rusia telah menjadi pemasok minyak utama bagi India sejak perang di Ukraina dimulai, meningkat dari kurang dari 100.000 barel per hari sebelum invasi, atau 2,5% dari total impor, menjadi lebih dari 1,8 juta barel per hari (bpd) pada 2023 atau setara 39%. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), sebanyak 70% minyak mentah Rusia diekspor ke India pada 2024.
Menteri Energi India Hardeep Singh Puri membela tindakan India pada 10 Juli 2025 mengatakan tindakan tersebut membantu menstabilkan harga global dan bahkan didorong oleh AS.
"Jika orang atau negara berhenti membeli pada tahap itu, harga minyak akan naik menjadi 130 bpd. Dalam situasi seperti itu, kami disarankan, termasuk oleh teman-teman kami di Amerika Serikat, untuk membeli minyak Rusia, tetapi dalam batasan harga," kata dia.
Ekspor minyak Rusia telah dibatasi pada level US$ 60 per barel pada Desember 2022 oleh negara-negara G7, yang mewakili ekonomi-ekonomi teratas dunia, sementara Uni Eropa (UE) telah menurunkan batasan harga menjadi sedikit di atas US$ 47 per barel pada Juli 2025.
Namun, tekanan semakin meningkat. Direktur Pelaksana di Mizuho Securities Vishnu Varathan mengatakan ancaman AS menghadirkan bahaya yang nyata bagi India. Ia mengatakan, pemerintah India kemungkinan tetap tidak akan berkomitmen pada pembelian minyak karena menilai kompromi dari opsi Rusia ini sebagai alat tawar-menawar.
India perlu menjelajahi pasar global untuk mendapatkan tawaran minyak yang sebanding dengan minyak Rusia, tambah Varathan, yang juga merupakan kepala riset makro untuk Asia kecuali Jepang.
Otoritas India dapat menjajaki alternatif impor minyak, termasuk Iran, jika pengecualian dari AS dapat dinegosiasikan. Ada pula beberapa produsen lain baik di dalam, maupun di luar OPEC+, yang telah ditekan oleh AS.
Sementara itu blok OPEC+ telah sepakat meningkatkan produksi sebesar 547.000 bpd pada September 2025, karena meningkatnya kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan yang terkait dengan Rusia.
India akan menghadapi pilihan yang sulit, kata McNally dari Rapidan. Trump serius, kata dia. Presiden AS itu kini frustrasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Kali ini India akan menghadapi pilihan berat. Namun, sulit membayangkan India terus mengimpor satu setengah juta barel minyak mentah Rusia jika Trump memutuskan untuk benar-benar mempertaruhkan seluruh hubungan AS dengan India demi hal itu.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler





