Jumat, 15 Mei 2026

Ancaman Penalti Trump Himpit India Gara-gara Minyak Rusia

Penulis : Grace El Dora
4 Aug 2025 | 21:06 WIB
BAGIKAN
Anjungan minyak di dekat Usinsk, 1500 kilometer (km) timur laut Moskow, Rusia pada 10 September 2011. (Foto: AP/Dmitry Lovetsky)
Anjungan minyak di dekat Usinsk, 1500 kilometer (km) timur laut Moskow, Rusia pada 10 September 2011. (Foto: AP/Dmitry Lovetsky)

JAKARTA, investor.id – Ancaman penalti Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghimpit India gara-gara minyak Rusia. Pemerintah India sedang menghadapi dilema yang rumit setelah mengancam akan memberikan "denda" atas impor minyak Rusia yang berkelanjutan.

Namun, tampaknya pemerintah India masih enggan mengakhiri perdagangan dengan Rusia.

Meskipun Trump mengatakan pada Jumat (1/8/2025) ia mendengar India akan menghentikan pembelian, para pejabat di New Delhi tetap tidak berkomitmen. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Randhir Jaiswal mengatakan negara tersebut memutuskan sumber impor energinya berdasarkan harga minyak yang tersedia di pasar internasional dan tergantung pada situasi global saat itu.

ADVERTISEMENT

Bob McNally selaku presiden perusahaan konsultan Rapidan Energy Group mengatakan India saat ini pasti kebingungan menyusul ancaman Trump. Pasalnya, kebijakan Trump bertolakbelakang dengan kebijakan AS di bawah pemerintahan Biden.

"Sekarang kita berbalik dan bertanya, 'Apa yang kalian lakukan mengambil semua minyak Rusia ini?'" kata McNally seperti dikutip CNBC internasional, Senin (4/8/2025).

Pada Maret 2022 yaitu sebulan setelah Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina, Daleep Singh selaku mantan wakil penasihat keamanan nasional AS untuk ekonomi internasional di pemerintahan Biden sempat membahas hal ini. Menurut laporan, Singh menegaskan pihaknya tetap mengimpor minyak Rusia karena saat itu tidak ada larangan impor energi dari Rusia.

"Yang tidak ingin kami lihat adalah percepatan impor India dari Rusia yang cepat terkait energi atau ekspor lainnya yang saat ini dilarang oleh kami atau oleh aspek lain dari rezim sanksi internasional," tuturnya.

Pada 30 Juli 2025, Trump mengumumkan India akan menghadapi tarif 25% mulai 1 Agustus 2025, beserta denda yang tidak disebutkan jumlahnya jika membeli minyak dan peralatan militer Rusia.

Namun para analis berpendapat India, yang merupakan konsumen energi terbesar ketiga di dunia, tidak akan tinggal diam untuk saat ini. Reuters melaporkan tidak ada rencana perubahan segera terhadap kontrak jangka panjang India dengan pemasok Rusia, mengutip dua sumber anonim pemerintah India yang tidak ingin disebutkan namanya karena sensitivitas masalah ini.

Rusia telah menjadi pemasok minyak utama bagi India sejak perang di Ukraina dimulai, meningkat dari kurang dari 100.000 barel per hari sebelum invasi, atau 2,5% dari total impor, menjadi lebih dari 1,8 juta barel per hari (bpd) pada 2023 atau setara 39%. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), sebanyak 70% minyak mentah Rusia diekspor ke India pada 2024.

Menteri Energi India Hardeep Singh Puri membela tindakan India pada 10 Juli 2025 mengatakan tindakan tersebut membantu menstabilkan harga global dan bahkan didorong oleh AS.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 8 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia