Jumat, 15 Mei 2026

India Terancam Kena Tarif Penalti AS karena Beli Minyak Rusia

Penulis : Grace El Dora
5 Aug 2025 | 10:19 WIB
BAGIKAN
Kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz pada 21 Desember 2018. (Foto: Reuters)
Kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz pada 21 Desember 2018. (Foto: Reuters)

TOKYO, investor.id – Presiden Amerika Serikat (A)S Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif impor India "secara substansial" dari nilai 25% yang berlaku setelah menuduh India terus membeli dan menjual ulang minyak dari Rusia.

"Mereka tak peduli berapa banyak orang terbunuh di Ukraina akibat Mesin Perang Rusia," kata Trump di media sosialnya saat ia berupaya meningkatkan tekanan ke India seperti dikutip Kyodo, Selasa (5/8/2025).

Meski AS memandang India sebagai mitra strategis untuk menandingi China, Trump, yang juga semakin resah akibat mandeknya upaya menghentikan perang di Ukraina, mengeklaim bahwa India meraup "keuntungan besar" saat menjual ulang minyak dari Rusia tersebut ke pasar terbuka.

ADVERTISEMENT

Pekan lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengenakan tarif tinggi terhadap setiap negara mitra dagang dengan AS yang berlaku Kamis (7/8/2025).

Sebelum AS menyatakan penangguhan implementasi "tarif resiprokal" beberapa waktu yang lalu, Trump dan pemerintah AS berulang kali mengisyaratkan bahwa India akan menjadi salah satu negara yang paling pertama meneken kesepakatan dagang dengan AS.

Namun, tak seperti mitra dagang kunci AS lainnya seperti Jepang, Korea Selatan, dan Uni Eropa, India tak kunjung meneken kesepakatan dagang dengan AS hingga penangguhan implementasi tarif berakhir pada Jumat.

Trump pun secara sepihak menetapkan tarif 25% terhadap produk India.

Merespons kritik dari AS, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) India pada Senin menyatakan tindakan Trump tak dapat dibenarkan dan tak beralasan. "Seperti selayaknya negara ekonomi besar, India akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mempertahankan kepentingan nasional dan keamanan ekonominya," ungkap Kemlu India.

India menyebutkan, AS pun masih mengimpor produk Rusia seperti uranium heksafluorida untuk industri nuklirnya serta bahan-bahan kimia dan produk pupuk.

Ketika Donald Trump mengumumkan rencananya menjatuhkan tarif 25% terhadap India akhir Juli 2025, ia mengkritisi India yang masih membeli alutsista dari Rusia sembari mengeluhkan hambatan dagang yang dinilainya menjengkelkan.

Kala itu, Trump berkata akan menetapkan nilai tarif baru kepada India, ditambah penalti tambahan yang tidak ia rincikan.

Pertengahan Juli 2025, Presiden AS menyebut Rusia dapat dikenakan tarif yang sangat tinggi, kemungkinan hingga 100 persen, jika negara itu tak kunjung menghentikan perang di Ukraina.

Trump juga mengancam tambahan tarif bagi negara-negara yang masih membeli minyak ataupun produk lainnya dari Rusia.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia