Jumat, 15 Mei 2026

PM India ke China Seiring Mencuatnya Ketegangan dengan AS

Penulis : Grace El Dora
6 Aug 2025 | 23:46 WIB
BAGIKAN
Perdana Menteri India Narendra Modi di Chequers, dekat Aylesbury, Inggris, Kamis (24/7/2025). (Foto: AP/ Kin Cheung)
Perdana Menteri India Narendra Modi di Chequers, dekat Aylesbury, Inggris, Kamis (24/7/2025). (Foto: AP/ Kin Cheung)

NEW DELHI, investor.id – Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi akan mengunjungi China untuk pertama kalinya dalam lebih dari tujuh tahun, ungkap seorang sumber pemerintah pada Rabu (6/8/2025). Ini menjadi tanda lebih lanjut dari mencairnya hubungan diplomatik dengan China, seiring mencuatnya ketegangan dengan AS.

Modi akan pergi ke China untuk menghadiri pertemuan puncak Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) multilateral yang dimulai pada 31 Agustus 2025, ungkap sumber pemerintah yang mengetahui langsung masalah tersebut seperti dikutip Reuters. Kementerian Luar Negeri India belum berkomentar mengenai hal ini.

Kunjungannya akan dilakukan di saat hubungan India dengan Amerika Serikat (AS) menghadapi krisis paling serius dalam beberapa tahun terakhir. Pasalnya, Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif tertinggi di antara negara-negara Asia lainnya atas barang-barang yang diimpor dari India. Ia juga telah mengancam akan memberikan sanksi tambahan yang tidak disebutkan jumlahnya atas pembelian minyak Rusia oleh India.

ADVERTISEMENT

Kunjungan Modi ke kota Tianjin, China, adalah untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) SCO, sebuah kelompok politik dan keamanan Eurasia yang mencakup Rusia. Ini akan menjadi kunjungan pertama Modi sejak Juni 2018.

Selanjutnya, hubungan India dengan China memburuk tajam setelah bentrokan militer di sepanjang perbatasan Himalaya yang disengketakan pada 2020.

Modi dan Presiden China Xi Jinping mengadakan pembicaraan di sela-sela KTT BRICS di Rusia pada Oktober 2025 yang menghasilkan pencairan. Kedua negara tetangga raksasa Asia ini kini perlahan-lahan meredakan ketegangan yang telah menghambat hubungan bisnis dan perjalanan antara kedua negara.

Trump telah mengancam akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10% atas impor dari negara-negara anggota, termasuk India, dari kelompok negara-negara ekonomi berkembang utama BRICS. "(Karena) menyelaraskan diri dengan kebijakan anti Amerika," kata dia.

Pada Rabu Trump mengatakan pemerintahannya akan memutuskan hukuman bagi pembelian minyak Rusia. Ini dilakukan setelah upaya pemerintah AS untuk mencari terobosan di menit-menit terakhir yang akan menghasilkan gencatan senjata dalam perang di Ukraina membuahkan hasil.

Utusan diplomatik utama Trump, Steve Witkoff, berada di Moskow hanya dua hari sebelum berakhirnya tenggat waktu yang ditetapkan presiden bagi Rusia untuk menyetujui perdamaian di Ukraina atau menghadapi sanksi baru.

Sementara itu, Penasihat Keamanan Nasional India Ajit Doval sedang berada di Rusia dalam kunjungan terjadwal dan diperkirakan akan membahas pembelian minyak Rusia oleh India. Ini menyusul tekanan Trump agar India berhenti membeli minyak mentah Rusia, menurut sumber pemerintah lainnya, yang juga tidak ingin disebutkan namanya.

Doval kemungkinan akan membahas kerja sama pertahanan India dengan Rusia. Ini termasuk mendapatkan akses yang lebih cepat untuk ekspor sistem pertahanan udara S400 Moskow yang tertunda ke India, serta kemungkinan kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke India.

Kunjungan Doval akan diikuti oleh Menteri Luar Negeri Subrahmanyam Jaishankar dalam beberapa minggu mendatang.

Dampak Ekspor

Para pejabat AS dan India mengatakan kepada Reuters bahwa perpaduan antara kesalahan penilaian politik, sinyal yang terlewat, dan kepahitan telah menggagalkan negosiasi kesepakatan perdagangan antara kedua negara dengan ekonomi terbesar dan kelima terbesar di dunia, yang perdagangan bilateralnya bernilai lebih dari US$190 miliar.

India memperkirakan tindakan keras Trump dapat menghilangkan keunggulan kompetitifnya dalam hal barang senilai sekitar US$ 64 miliar yang dikirim ke AS. Ini mencakup 80% dari total ekspornya, mengutip penilaian internal pemerintah sumber terpisah kepada Reuters.

Namun, pangsa ekspor yang relatif rendah dalam ekonomi India yang bernilai US$ 4 triliun diperkirakan akan membatasi dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi.

Pada Rabu, Bank Sentral India (Reserve Bank of India/ RBI) tidak mengubah proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) untuk tahun fiskal April-Maret saat ini di angka 6,5% dan mempertahankan suku bunga tetap meskipun terdapat ketidakpastian tarif.

Laporan penilaian pemerintah India telah mengasumsikan penalti 10% untuk pembelian minyak Rusia, yang akan menjadikan total tarif AS menjadi 35%, kata sumber tersebut.

Laporan penilaian internal tersebut merupakan perkiraan awal pemerintah dan akan berubah seiring dengan kejelasan jumlah tarif yang diberlakukan Trump, ujar keempat sumber tersebut.

India diperkirakan mengekspor barang senilai sekitar US$ 81 miliar ke AS pada 2024.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia