Sabtu, 4 April 2026

Guncangan Mata Uang Safe Haven, Mengapa Mulai Ditinggalkan Investor?

Penulis : Grace El Dora
13 Feb 2026 | 17:35 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi uang kertas 1.000 yen, 5.000 yen, dan 10.000 yen Jepang disusun di Kyoto, Jepang.
Ilustrasi uang kertas 1.000 yen, 5.000 yen, dan 10.000 yen Jepang disusun di Kyoto, Jepang.

LONDON, investor.id – Status mata uang safe haven, yakni aset yang dianggap aman saat ekonomi tidak menentum kini tengah mengalami krisis identitas. Dolar Amerika Serikat (AS), Yen Jepang, dan Franc Swiss yang biasanya menjadi pelindung nilai investor, justru menunjukkan volatilitas yang mengkhawatirkan sepanjang 2025 hingga awal 2026.

Dominasi Dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia mulai goyah. Kebijakan tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump yang agresif memicu tren "Sell America", di mana investor ramai-ramai melepas aset-aset AS, seperti dikutip CNBC internasional, Jumat (13/2/2026).

Indeks Dolar merosot tajam sebesar 9,37% sepanjang 2025 dan terus melemah di 2026. George Saravelos, Kepala Riset Valas di Deutsche Bank, menyebut status safe haven Dolar hanyalah "mitos". Ia menunjukkan secara historis, dolar tidak selalu menguat saat pasar menghindari risiko. Utang AS yang dianggap tidak berkelanjutan juga menjadi beban berat bagi Greenback.

Advertisement

Yen Jepang Terjebak Kebijakan Politik

Yen Jepang, yang biasanya stabil, justru bak rollercoaster. Mata uang ini melemah tajam sejak Oktober 2025 setelah terpilihnya Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang mengusung kebijakan fiskal ekspansif.

Sempat menguat setelah rumor intervensi dari Federal Reserve New York di level 152, Yen kembali menghadapi tekanan dan mendekati level psikologis 160 per dolar. Analis ING memprediksi akan terjadi "pertempuran" sengit antara pasar dan otoritas moneter untuk menjaga Yen agar tidak jatuh lebih dalam.

Franc Swiss: Terlalu Perkasa Menjadi Masalah

Berbeda dengan Dolar dan Yen, Franc Swiss justru sangat perkasa hingga mencapai level tertinggi dalam 11 tahun terhadap dolar AS dan euro. Stabilitas politik dan rendahnya utang Swiss menjadikannya safe haven utama pilihan investor saat ini.

Namun, keperkasaan ini menjadi bumerang bagi ekonomi Swiss yang bergantung pada ekspor. Inflasi Swiss yang sangat rendah (0,1%) membuat penguatan Franc memicu risiko disinflasi yang berbahaya.

Bank Nasional Swiss (SNB) kini berada dalam posisi dilematis: melakukan intervensi pasar untuk melemahkan Franc, namun berisiko memicu ketegangan diplomatik dengan pemerintahan Trump yang sangat sensitif terhadap intervensi mata uang.

Perubahan Pola Risiko di Pasar Global

Secara tradisional, mata uang safe-haven bergerak berdasarkan hukum kepercayaan global terhadap stabilitas suatu negara. Namun, memasuki tahun 2026, faktor geopolitik dan "nasionalisme ekonomi" telah mengubah peta risiko tersebut.

Dulu, ketika pasar saham jatuh, investor akan berlari ke Dolar AS. Kini, ketidakpastian kebijakan fiskal AS dan meningkatnya utang nasional membuat investor lebih selektif. Fenomena ini menciptakan tatanan ekonomi baru di mana mata uang negara kecil dengan manajemen keuangan yang disiplin seperti Swiss justru dianggap lebih aman dibandingkan mata uang negara adidaya.

Transisi ini menuntut para investor untuk mendiversifikasi aset mereka tidak hanya pada instrumen konvensional, tetapi juga mempertimbangkan dinamika politik internal setiap negara pemilik mata uang utama.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 6 menit yang lalu

Komitmen Investasi Rp574 Triliun dari Jepang dan Korsel

Dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, Indonesia masih menjadi daya tarik bagi para investor dari Jepang maupun Korsel.
Finance 31 menit yang lalu

Bank Mantap Dukung Taspen Tingkatkan Kualitas Hunian Masyarakat

PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) mendukung langkah PT Taspen (Persero) dalam meningkatkan kualitas hunian masyarakat.
Business 43 menit yang lalu

PLN Icon Plus Cegah Stunting melalui Kolaborasi Posyandu di Srondol Wetan

PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Bagian Tengah melaksanakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) cegah stunting.
Lifestyle 44 menit yang lalu

Vaksinasi Wajib yang Harus Dilengkapi Calon Jamaah Haji

Berdasarkan regulasi terbaru penyelenggaraan haji 2026 dari Kementerian Kesehatan, terdapat vaksin yang wajib dipenuhi oleh calon jamaah haji sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Sabtu 4 April 2026, Cek Rinciannya

Berikut adalah daftar harga emas perhiasan dalam berbagai kadar karat pada Sabtu, 4 April 2026
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: BBCA Diborong Asing hingga Harga Emas Antam (ANTM) Runtuh

Berita populer dalam 24 jam terakhir, mulai dari BBCA diborong asing hingga harga emas Antam (ANTM) runtuh

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia