Ekonomi Jepang Nyaris Kena Resesi, Namun Pertumbuhan di Bawah Target
TOKYO, investor.id – Ekonomi Jepang berhasil menghindari resesi teknis setelah mencatatkan pertumbuhan tipis sebesar 0,1% pada kuartal keempat tahun 2025. Meskipun tren negatif berhasil dipatahkan, angka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) ini masih jauh di bawah ekspektasi para ekonom yang sebelumnya memprediksi ekspansi sebesar 0,4%.
Data dari Kantor Kabinet Jepang menunjukkan pemulihan ini didorong oleh konsumsi swasta yang kuat, yang mampu menutupi lesunya angka ekspor dan belanja publik. Secara tahunan (annualized), ekonomi Jepang tumbuh 0,2%, angka yang tergolong rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar 1,6%.
Sesaat setelah data PDB dirilis, indeks Nikkei 225 dibuka menguat tipis 0,12%. Namun, mata uang Yen justru melemah 0,25% ke level 153,06 per dolar Amerika Serikat (AS).
Meskipun pertumbuhan melambat, Bank of Japan (BOJ) tetap optimistis dengan menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2026 menjadi 0,9%. BOJ meyakini akan terjadi "siklus positif" antara kenaikan harga dan upah, didukung oleh kebijakan moneter yang akomodatif dan langkah ekonomi pemerintah.
Fokus pada Diplomasi Takaichi dan Trump
Laporan pertumbuhan ini muncul di tengah persiapan pertemuan penting antara Perdana Menteri (PM) Jepang yang baru terpilih, Sanae Takaichi, dengan Presiden AS Donald Trump. Kedua negara tengah menggodok kesepakatan investasi jumbo senilai US$ 550 miliar atau sekitar Rp 8.600 triliun.
PM Takaichi baru membawa Partai Demokrat Liberal (LDP) menang telak dalam pemilu lalu. Ia menjanjikan kebijakan fiskal yang "proaktif". Beberapa program unggulannya meliputi Penangguhan pajak pangan selama dua tahun, Peningkatan anggaran pertahanan hingga 2% dari PDB, serta Anggaran rekor sebesar 122 triliun Yen untuk mendukung biaya hidup rumah tangga.
Analis dari Goldman Sachs Bruce Kirk menyebutkan, sektor pertahanan akan menjadi katalis utama bagi pasar saham Jepang. Pertemuan Takaichi dengan Trump diprediksi akan menghasilkan banyak kesepakatan di bidang industrialisasi, otomasi pabrik, hingga pembangunan kapal.
Langkah ini sejalan dengan strategi pemerintahan Trump yang ingin memulihkan dominasi maritim AS melalui kerja sama erat dengan Jepang dan Korea Selatan.
Dinamika Ekonomi Jepang di Bawah Kepemimpinan Baru
Jepang saat ini berada dalam masa transisi ekonomi yang krusial. Selama beberapa dekade, negara matahari terbit ini berjuang melawan deflasi dan pertumbuhan yang stagnan. Namun, dalam dua tahun terakhir, inflasi mulai stabil di atas target 2%, yang menandakan adanya perubahan struktural dalam pola konsumsi dan penetapan harga di tingkat perusahaan.
Kepemimpinan PM Sanae Takaichi membawa warna baru dengan pendekatan fiskal yang jauh lebih agresif dibandingkan pendahulunya. Dengan memadukan penguatan militer (pertahanan) dan jaring pengaman sosial (subsidi biaya hidup), Takaichi berupaya menjadikan Jepang sebagai kekuatan ekonomi yang mandiri namun tetap terkoneksi erat dengan aliansi Barat.
Tantangan utamanya kini adalah memastikan anggaran belanja rekor tersebut tidak memperparah beban utang publik Jepang yang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia, sambil menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now




