Trump Sebut Zelensky ’Penghambat’ Damai, Klaim Putin Siap Berunding
WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan pernyataan tajam terkait konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina. Dalam wawancara terbaru dengan Politico pada Kamis waktu setempat (Jumat pagi WIB), Trump secara terbuka menyebut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebagai penghambat tercapainya kesepakatan damai dengan Rusia.
Trump menegaskan, Zelensky harus segera mengambil langkah konkret untuk mengakhiri peperangan. “Zelensky harus mulai bertindak cerdas dan menyelesaikan kesepakatan ini,” ujar Trump seperti dikutip AFP, Jumat (6/3/2026).
Pernyataan ini seolah mengulang tensi tinggi yang terjadi setahun lalu di Gedung Putih, saat Trump dan Wakil Presiden JD Vance mengkritik Zelensky di depan publik. Trump menilai posisi tawar Ukraina saat ini semakin lemah dibandingkan sebelumnya.
"Sangat tidak masuk akal jika dia (Zelensky) menjadi penghambat. Anda tidak memegang kartu as. Bahkan sekarang, kartu yang dia miliki jauh lebih sedikit," cetus Trump, merujuk pada kekuatan posisi Ukraina dalam negosiasi.
Di sisi lain, Trump memberikan pandangan positif terhadap sikap pemimpin Rusia. Ia meyakini bahwa Vladimir Putin sebenarnya memiliki itikad untuk mengakhiri konflik. "Saya pikir Putin siap untuk membuat kesepakatan," tambahnya.
Selama ini, Trump dikenal skeptis terhadap bantuan besar-besaran AS ke Ukraina yang ia anggap membebani anggaran negara. Ketertarikannya untuk menjalin dialog dengan Putin juga bukan rahasia lagi, termasuk saat ia mengundang pemimpin Rusia tersebut ke Alaska pada Agustus lalu.
Namun, ambisi Trump untuk mendamaikan Rusia-Ukraina kini dibayangi oleh keterlibatan AS dalam konflik lain. Belum lama ini, AS meluncurkan aksi militer bersama Israel melawan Iran, sebuah operasi yang diperkirakan telah menelan biaya miliaran dolar.
Meski Trump sempat berjanji akan mengakhiri perang Ukraina pada hari pertama ia menjabat di Januari 2025, ia mengakui target tersebut sulit dicapai seiring dengan serangan Rusia yang terus berlanjut. Walau demikian, Trump tetap bersikeras dirinya adalah satu-satunya pemimpin yang mampu bernegosiasi dengan kedua belah pihak secara efektif.
Konteks Ketegangan Ukraina-Rusia dan Peran Amerika Serikat
Konflik antara Rusia dan Ukraina mencapai titik didih sejak invasi skala penuh yang dimulai pada Februari 2022.
Sejak saat itu, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan yang berbeda telah menjadi penyumbang bantuan militer dan ekonomi terbesar bagi Ukraina. Namun, dukungan ini menjadi isu domestik yang memecah belah di AS, terutama di kalangan faksi Republik yang dipimpin oleh Donald Trump.
Trump secara konsisten mengusung kebijakan "America First", yang memprioritaskan pengurangan keterlibatan militer di luar negeri demi penghematan anggaran nasional. Di sisi lain, Presiden Zelensky bersikeras perdamaian hanya bisa dicapai jika Rusia mengembalikan seluruh wilayah kedaulatan Ukraina, sebuah posisi yang oleh sebagian pengamat dinilai sulit diterima oleh Kremlin tanpa adanya konsesi besar.
Ketegangan retorika antara Trump dan Zelensky ini mencerminkan dinamika politik global yang akan menentukan arah geopolitik di masa depan.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






