Qatar: Harga Minyak Dunia Bisa Tembus US$ 150 per Barel dalam 3 Minggu
DOHA, investor.id – Dunia kini menghadapi ancaman krisis energi yang serius. Menteri Energi Qatar memberikan peringatan keras bahwa seluruh produsen energi di Timur Tengah berpotensi menghentikan ekspor dalam hitungan minggu jika konflik antara AS-Israel dan Iran terus berlanjut. Kondisi ini diprediksi akan meroketkan harga minyak hingga US$ 150 per barel.
Hingga Jumat (6/3/2026), saat perang memasuki hari ketujuh, harga minyak mentah Brent telah melonjak 2,53% ke level US$ 87,57 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh lumpuhnya Selat Hormuz, jalur krusial yang dilewati hampir 20% ekspor minyak dan gas global.
Ancaman "Force Majeure" Massal
Menteri Energi Qatar sekaligus CEO QatarEnergy Saad al-Kaabi menyatakan harga minyak bisa menyentuh angka US$ 150 dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Hal ini dapat terjadi jika kapal tanker tetap tidak bisa melintasi jalur perairan antara Oman dan Iran tersebut, seperti dikutip Financial Times, Jumat.
Qatar sendiri, yang menyuplai hampir 20% kebutuhan gas alam cair (LNG) dunia, telah menghentikan produksinya sejak Senin (2/3/2026) menyusul serangan militer Iran terhadap fasilitas operasional mereka di Ras Laffan dan Mesaieed Industrial City.
"Semua eksportir di wilayah Teluk kemungkinan besar akan menyatakan status force majeure (keadaan darurat) dalam beberapa hari ke depan jika situasi ini berlanjut," ujar Kaabi.
Ia menambahkan, dampak perang ini akan memukul pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global, memicu kelangkaan produk, dan menciptakan efek domino pada pabrik-pabrik di seluruh dunia.
Respons India dan Kebijakan Darurat AS
Di tengah kepanikan pasar global, pemerintah India menyatakan cadangan minyak dan gas mereka masih dalam posisi aman. Refiner-refiner domestik telah diminta untuk menggenjot produksi guna menutupi kekurangan pasokan dari Selat Hormuz.
Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mengambil langkah taktis dengan memberikan dispensasi (waiver) selama 30 hari kepada India untuk membeli minyak dari Rusia.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menjelaskan, langkah ini bersifat jangka pendek dan hanya berlaku untuk minyak yang sudah berada di laut (stranded at sea). "Langkah ini bertujuan agar minyak tetap mengalir ke pasar global tanpa memberikan keuntungan finansial signifikan bagi pemerintah Rusia," tegas Bessent.
Pentingnya Stabilitas Energi di Teluk Persia
Kawasan Teluk Persia, khususnya Selat Hormuz, telah lama menjadi jantung pertahanan energi dunia. Ketegangan yang terjadi saat ini merupakan eskalasi militer paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir, yang melibatkan kekuatan besar dunia.
Penghentian produksi oleh QatarEnergy menandai titik kritis, mengingat peran Qatar sebagai salah satu eksportir LNG terbesar di planet ini.
Sejarah menunjukkan bahwa setiap kali terjadi gangguan di Selat Hormuz, ekonomi global akan mengalami guncangan hebat akibat ketergantungan industri manufaktur dan transportasi pada pasokan energi fosil dari wilayah ini.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





