Abaikan Perang, Iran Kirim Jutaan Barel Minyak ke China Lewat Jalur Maut
TEHERAN, investor.id – Di tengah kecamuk perang melawan Amerika Serikat dan Israel, Iran dilaporkan tetap memasok minyak mentah dalam jumlah besar ke China. Meskipun Selat Hormuz kini menjadi jalur perairan paling berbahaya di dunia, Teheran terus menggunakan berbagai taktik agar emas hitamnya sampai ke pelukan Beijing.
Sejak perang pecah pada 28 Februari 2028, sedikitnya 11,7 juta barel minyak mentah Iran berhasil menembus Selat Hormuz, lapor CNBC internasional. Seluruh muatan tersebut terkonfirmasi menuju China. Data ini diungkapkan oleh TankerTrackers.com pada Kamis (12/3/2026) melalui pemantauan citra satelit yang mampu melacak kapal-kapal "gelap" yang mematikan sistem navigasi mereka demi menghindari serangan.
Kondisi di Selat Hormuz saat ini sangat mencekam. Sejak konflik dimulai, sepuluh kapal di sekitar selat telah diserang, menewaskan sedikitnya tujuh pelaut. Hal ini memaksa banyak tanker mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) mereka agar tidak terdeteksi.
Selain mengandalkan Terminal Pulau Kharg, Iran kini mulai mengaktifkan kembali Terminal Jask yang terletak di Teluk Oman, di sisi selatan Selat Hormuz. Jalur ini dianggap lebih aman karena tidak mengharuskan kapal melewati titik sempit yang dijaga ketat.
Meski demikian, fasilitas di Jask dinilai kurang efisien karena membutuhkan waktu hingga 10 hari untuk memuat satu kapal tanker raksasa (VLCC), jauh lebih lama dibandingkan Pulau Kharg yang hanya butuh 1-2 hari.
Langkah Iran ini sejalan dengan ambisi China yang tengah gencar melakukan penumpukan stok (stockpiling). Beijing mempercepat pengisian cadangan minyak nasionalnya untuk memitigasi risiko gangguan pasokan energi global. Data bea cukai menunjukkan impor minyak mentah China melonjak 15,8% dibandingkan tahun lalu.
Hingga Januari, China diperkirakan memiliki persediaan sebanyak 1,2 miliar barel, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional selama tiga hingga empat bulan. Langkah ini diambil setelah AS menargetkan dua pemasok utama China, yakni Venezuela dan Iran.
Pernyataan Kontroversial Trump
Di tengah fluktuasi harga minyak yang sempat menyentuh US$ 120 per barel, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan bernada provokasi. Ia meminta kapal-kapal yang tertahan di dekat Selat Hormuz untuk "berani" menerobos jalur tersebut.
"Tidak ada yang perlu ditakuti. Mereka tidak punya angkatan laut, kami sudah menenggelamkan semua kapal mereka," ujar Trump seperti dikutip Fox News. Namun, fakta di lapangan menunjukkan ancaman rudal dan serangan asimetris Iran masih menjadi momok menakutkan bagi pelayaran internasional.
Hubungan energi antara Iran dan China merupakan salah satu kemitraan geopolitik paling krusial di abad ke-21. Bagi Iran, China adalah penyambung nyawa ekonomi di tengah isolasi internasional dan serangan militer. Sebaliknya bagi China, Iran adalah sumber energi murah yang vital untuk menjaga roda industrinya tetap berputar di tengah persaingan hegemonik dengan Amerika Serikat.
Penumpukan stok yang dilakukan Beijing saat ini bukan sekadar langkah ekonomi biasa, melainkan persiapan menghadapi kemungkinan terburuk jika konflik di Timur Tengah meluas dan melumpuhkan Selat Hormuz secara permanen. Strategi Iran menggunakan Terminal Jask untuk memotong jalur selat menunjukkan Iran telah menyiapkan infrastruktur "pintu belakang" sejak lama.
Meski efisiensinya rendah, keberadaan jalur ini membuktikan selama China tetap membeli, upaya blokade total terhadap ekspor energi Iran akan selalu menemui jalan buntu.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





