Minggu, 21 Juni 2026

Abaikan Perang, Iran Kirim Jutaan Barel Minyak ke China Lewat Jalur Maut

Penulis : Grace El Dora
12 Mar 2026 | 20:57 WIB
BAGIKAN
Kapal induk USS Dwight D. Eisenhower dan kapal perang lainnya melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Persia. (Foto: Information Technician Second Class Ruskin Naval/ US Navy via AP)
Kapal induk USS Dwight D. Eisenhower dan kapal perang lainnya melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Persia. (Foto: Information Technician Second Class Ruskin Naval/ US Navy via AP)

TEHERAN, investor.id – Di tengah kecamuk perang melawan Amerika Serikat dan Israel, Iran dilaporkan tetap memasok minyak mentah dalam jumlah besar ke China. Meskipun Selat Hormuz kini menjadi jalur perairan paling berbahaya di dunia, Teheran terus menggunakan berbagai taktik agar emas hitamnya sampai ke pelukan Beijing.

Sejak perang pecah pada 28 Februari 2028, sedikitnya 11,7 juta barel minyak mentah Iran berhasil menembus Selat Hormuz, lapor CNBC internasional. Seluruh muatan tersebut terkonfirmasi menuju China. Data ini diungkapkan oleh TankerTrackers.com pada Kamis (12/3/2026) melalui pemantauan citra satelit yang mampu melacak kapal-kapal "gelap" yang mematikan sistem navigasi mereka demi menghindari serangan.

Kondisi di Selat Hormuz saat ini sangat mencekam. Sejak konflik dimulai, sepuluh kapal di sekitar selat telah diserang, menewaskan sedikitnya tujuh pelaut. Hal ini memaksa banyak tanker mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) mereka agar tidak terdeteksi.

Selain mengandalkan Terminal Pulau Kharg, Iran kini mulai mengaktifkan kembali Terminal Jask yang terletak di Teluk Oman, di sisi selatan Selat Hormuz. Jalur ini dianggap lebih aman karena tidak mengharuskan kapal melewati titik sempit yang dijaga ketat.

ADVERTISEMENT

Meski demikian, fasilitas di Jask dinilai kurang efisien karena membutuhkan waktu hingga 10 hari untuk memuat satu kapal tanker raksasa (VLCC), jauh lebih lama dibandingkan Pulau Kharg yang hanya butuh 1-2 hari.

Langkah Iran ini sejalan dengan ambisi China yang tengah gencar melakukan penumpukan stok (stockpiling). Beijing mempercepat pengisian cadangan minyak nasionalnya untuk memitigasi risiko gangguan pasokan energi global. Data bea cukai menunjukkan impor minyak mentah China melonjak 15,8% dibandingkan tahun lalu.

Hingga Januari, China diperkirakan memiliki persediaan sebanyak 1,2 miliar barel, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional selama tiga hingga empat bulan. Langkah ini diambil setelah AS menargetkan dua pemasok utama China, yakni Venezuela dan Iran.

Pernyataan Kontroversial Trump

Di tengah fluktuasi harga minyak yang sempat menyentuh US$ 120 per barel, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan bernada provokasi. Ia meminta kapal-kapal yang tertahan di dekat Selat Hormuz untuk "berani" menerobos jalur tersebut.

"Tidak ada yang perlu ditakuti. Mereka tidak punya angkatan laut, kami sudah menenggelamkan semua kapal mereka," ujar Trump seperti dikutip Fox News. Namun, fakta di lapangan menunjukkan ancaman rudal dan serangan asimetris Iran masih menjadi momok menakutkan bagi pelayaran internasional.

Hubungan energi antara Iran dan China merupakan salah satu kemitraan geopolitik paling krusial di abad ke-21. Bagi Iran, China adalah penyambung nyawa ekonomi di tengah isolasi internasional dan serangan militer. Sebaliknya bagi China, Iran adalah sumber energi murah yang vital untuk menjaga roda industrinya tetap berputar di tengah persaingan hegemonik dengan Amerika Serikat.

Penumpukan stok yang dilakukan Beijing saat ini bukan sekadar langkah ekonomi biasa, melainkan persiapan menghadapi kemungkinan terburuk jika konflik di Timur Tengah meluas dan melumpuhkan Selat Hormuz secara permanen. Strategi Iran menggunakan Terminal Jask untuk memotong jalur selat menunjukkan Iran telah menyiapkan infrastruktur "pintu belakang" sejak lama.

Meski efisiensinya rendah, keberadaan jalur ini membuktikan selama China tetap membeli, upaya blokade total terhadap ekspor energi Iran akan selalu menemui jalan buntu.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 3 menit yang lalu

Bahlil Pastikan Rencana Konversi LPG ke CNG Masih dalam Proses

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa rencana konversi penggunaan LPG ke CNG masih dalam tahap proses.
Market 34 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia