Trump Tolak Gencatan Senjata dengan Iran, Sebut Operasi Militer Segera Berakhir
WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara tegas menyatakan tidak tertarik untuk melakukan gencatan senjata dengan Iran. Meski demikian, Trump mengisyaratkan operasi militer besar-besaran di Timur Tengah mungkin akan segera mereda karena tujuan utama AS dianggap hampir tercapai.
"Kita bisa saja berdialog, tapi saya tidak menginginkan gencatan senjata. Anda tidak melakukan gencatan senjata saat Anda benar-benar sedang melumpuhkan pihak lawan," ujar Trump di South Lawn Gedung Putih sebelum bertolak ke Florida seperti dikutip CNBC internasional, Sabtu (21/3/2026).
Trump mengklaim kekuatan militer Iran telah hancur total. "Mereka tidak lagi memiliki angkatan laut, angkatan udara, maupun peralatan tempur. Secara militer, mereka sudah selesai," tambahnya.
Nasib Selat Hormuz dan Tekanan bagi NATO
Melalui unggahan di media miliknya, Truth Social, Trump menyatakan penertiban Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi minyak dunia seharusnya menjadi tanggung jawab negara-negara pengguna jalur tersebut, bukan Amerika Serikat.
"Amerika Serikat tidak (menggunakan jalur itu secara dominan). Jika diminta, kami akan membantu, tetapi seharusnya itu tidak diperlukan lagi setelah ancaman Iran diberantas," tulis Trump.
Ia juga menyindir sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), China, dan Jepang untuk terlibat aktif dalam mengamankan jalur maritim tersebut. Trump menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai "manuver militer sederhana" yang hanya membutuhkan volume armada kapal yang besar, namun ia mengeluhkan kurangnya keberanian dari para sekutu sejauh ini.
Dampak Ekonomi dan Pengiriman Pasukan
Meski Trump optimis secara militer, dampak ekonomi dari konflik ini kian nyata. Penutupan Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak dan jatuhnya bursa saham global. Laporan dari The Federal Reserve (The Fed) Dallas memperingatkan efek ekonomi dari penutupan jalur ini akan menghantam seluruh dunia, termasuk domestik AS.
Di sisi lain, meski Trump berjanji tidak akan mengirim pasukan darat (boots on the ground) ke wilayah Iran, Pentagon dilaporkan tetap mengirimkan sekitar 2.500 personel Marinir ke Timur Tengah. Ini merupakan pengiriman pasukan gelombang kedua dalam satu pekan terakhir, yang menandakan situasi di kawasan tersebut masih sangat dinamis dan tegang.
Perang antara koalisi AS-Israel melawan Iran yang pecah pada akhir Februari 2026 telah mengubah peta stabilitas Timur Tengah dalam waktu singkat. Fokus utama konflik ini terletak pada Selat Hormuz, sebuah jalur sempit yang menjadi lintasan bagi sekitar 20% konsumsi minyak mentah global.
Blokade yang dilakukan Iran sejak awal perang telah memutus aliran energi utama menuju pasar Asia dan Eropa, yang memicu krisis energi global serupa dengan krisis minyak pada 1970-an.
Sikap keras Donald Trump yang menolak gencatan senjata mencerminkan strategi "tekanan maksimum" yang bertujuan untuk menumbangkan pengaruh regional Iran secara permanen. Namun, keengganan sekutu-sekutu AS untuk terlibat langsung dalam operasi militer di selat tersebut menciptakan kebuntuan diplomatik yang berisiko memperpanjang ketidakpastian ekonomi dunia.
Di tengah ancaman inflasi global, posisi AS kini berada di persimpangan antara menyelesaikan misi militer secara total atau menanggung beban kehancuran pasar finansial akibat gangguan pasokan energi yang berkepanjangan.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






