Minggu, 21 Juni 2026

Investor Dunia di Ujung Tanduk Ultimatum Trump dan Sinyal Damai Perang Iran

Penulis : Grace El Dora
6 Apr 2026 | 12:52 WIB
BAGIKAN
Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti yang terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, dekat perbatasan dengan pemerintahan Musandam di Oman, saat konflik AS-Israel dengan Iran, di Uni Emirat Arab pada 11 Maret 2026. (Foto: Stringer)
Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti yang terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, dekat perbatasan dengan pemerintahan Musandam di Oman, saat konflik AS-Israel dengan Iran, di Uni Emirat Arab pada 11 Maret 2026. (Foto: Stringer)

WASHINGTON, investor.id – Pasar keuangan global kini tengah diliputi ketidakpastian tinggi. Investor terjebak di antara dua skenario ekstrem: kesepakatan damai yang cepat untuk mengakhiri perang, atau eskalasi besar yang bisa meroketkan harga minyak dan imbal hasil obligasi ke level yang mengkhawatirkan.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras pada Minggu (5/4/2026). Dengan bahasa yang lugas, ia memperingatkan Iran, negara tersebut akan "hidup di neraka" jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali paling lambat Selasa pukul 20.00 ET (Rabu pagi WIB).

Trump bahkan menjuluki tenggat waktu tersebut sebagai "Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan," yakni isyarat akan adanya serangan militer besar-besaran.

Namun, di sisi lain, dalam wawancara dengan Fox News yang dikutip Senin (6/4/2026), Trump memberikan sinyal kontradiktif. Ia menyatakan adanya "peluang bagus" untuk mencapai kesepakatan damai hari ini.

ADVERTISEMENT

Respons Keras Iran dan Dampak Pasar

Iran menanggapi dingin ancaman tersebut. Teheran menegaskan bahwa jalur pelayaran vital Selat Hormuz hanya akan dibuka sepenuhnya setelah mereka mendapatkan kompensasi atas kerusakan akibat perang. Akhir pekan lalu, serangan Iran terus berlanjut di wilayah Teluk, termasuk menyasar markas besar minyak Kuwait.

Kepala riset makro global di Nomura Rob Subbaraman, menyebut situasi ini sebagai kondisi "biner", antara gencatan senjata atau eskalasi total. "Pasar sedang tegang karena waktu hampir habis," ujarnya.

Dampak perang selama satu bulan ini telah memicu lonjakan harga energi:

- Minyak Mentah Brent: Melonjak ke angka US$ 109,77 per barel (naik 50% sejak perang pecah pada 28 Februari 2026).

- Minyak WTI AS: Meroket 66% ke level US$ 111,2 per barel.

- Lalu Lintas Selat Hormuz: Tetap anjlok 95% di bawah level pra-perang, mengancam pasokan gas alam cair (LNG) dan minyak dunia.

Risiko Stagflasi dan Ancaman Resesi

Para analis memperingatkan meskipun kesepakatan diplomatik tercapai, pemulihan pasar tidak akan terjadi secara instan. Kerusakan pada rantai pasok dan kepercayaan investor sudah terlanjur terjadi.

"Jika perang memburuk, kejutan inflasi bisa segera berubah menjadi kejutan pertumbuhan, yang memicu kehancuran permintaan dan stagflasi (inflasi tinggi disertai pertumbuhan ekonomi yang mandek)," tambah Subbaraman.

Pasar obligasi juga mulai bereaksi. Imbal hasil (yield) obligasi US Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 4,362%, mencerminkan ekspektasi inflasi yang memburuk. Pakar strategi Wall Street Ed Yardeni memperingatkan, pasar kini tidak bisa mengesampingkan kemungkinan terjadinya resesi global, tergantung pada seberapa lama Selat Hormuz tetap tertutup.

Untuk memahami besarnya skala krisis ini, perlu diketahui bahwa Selat Hormuz adalah urat nadi energi paling penting di dunia. Terletak di antara Oman dan Iran, selat sempit ini menghubungkan produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar global.

Sebelum konflik pecah pada akhir Februari 2026, hampir 25% minyak bumi dunia yang diangkut melalui laut dan 20% gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur ini setiap harinya. Penutupan atau blokade selat ini secara efektif memutus pasokan energi ke negara-negara industri besar di Asia dan Eropa.

Ketegangan kali ini merupakan puncak dari gesekan diplomatik bertahun-tahun antara AS dan Iran yang akhirnya meletus menjadi konflik terbuka.

Bagi pasar global, Selat Hormuz bukan sekadar masalah geopolitik, melainkan penentu harga bahan bakar, biaya pengiriman barang, hingga tingkat inflasi yang dirasakan masyarakat di seluruh dunia. Tanpa adanya resolusi di jalur air ini, stabilitas ekonomi global berada dalam ancaman serius.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 5 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 6 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 6 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
International 6 jam yang lalu

Proyek Ambisius AI Kuras Kas, Investor Pantau Pasar Obligasi

Pembangunan pusat data AI kuras kas perusahaan teknologi. Investor kini wajib pantau suku bunga The Fed dan pasar obligasi global.
Business 6 jam yang lalu

Red Hat Dukung Pengembangan Agentic AI

Red Hat, penyedia solusi open source , baru-baru ini mengumumkan langkah inovatif yang signifikan pada portofolio  Red Hat AI untuk membantu menjembatani kesenjangan antara eksperimen AI dan kendali operasional di tingkat produksi.
International 7 jam yang lalu

Serangan Israel Tewaskan 16 di Lebanon, Dialog AS-Iran di Ujung Tanduk

Gencatan senjata rapuh, serangan Israel tewaskan 16 orang di Lebanon. Masa depan dialog damai nuklir AS-Iran kini kian terancam.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia