IMF Peringatkan Ekonomi Global Memburuk Jika Perang Berlarut hingga 2027
WASHINGTON, investor.id – Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memberikan peringatan keras terkait masa depan ekonomi dunia. Ia menyatakan, prospek ekonomi global terancam memburuk secara signifikan apabila konflik yang melibatkan Iran terus berlanjut hingga tahun 2027.
Dalam acara Milken Institute awal pekan ini, Georgieva menyoroti risiko lonjakan harga minyak mentah yang diprediksi bisa tertahan di kisaran US$ 125 dolar AS (sekitar Rp 2,1 juta) per barel jika ketegangan geopolitik tidak segera mereda.
"Jika situasi ini terus berlanjut hingga 2027 dan harga minyak menetap di angka US$ 125, kita harus bersiap menghadapi hasil ekonomi yang jauh lebih buruk," tegas Georgieva, seperti dikutip Sputnik, Selasa (5/5/2026).
Ancaman Inflasi dan Krisis Energi
IMF mencatat, skenario buruk tersebut tidak hanya akan membebani biaya produksi, tetapi juga mendorong inflasi global ke level yang lebih tinggi. Kondisi ini dikhawatirkan membuat ekspektasi inflasi menjadi tidak terkendali, sehingga mempersulit upaya bank sentral dunia dalam menjaga stabilitas harga.
Konflik yang bermula sejak akhir Februari 2026 ini telah melibatkan serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel ke sejumlah target di Iran. Eskalasi tersebut sempat melumpuhkan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur nadi utama pengiriman minyak dan gas alam cair dunia. Hal inilah yang menjadi pemicu utama meroketnya harga bahan bakar di pasar global dalam beberapa bulan terakhir.
Negosiasi yang Buntu
Upaya perdamaian sejauh ini masih menemui jalan buntu. Meskipun pemerintah AS dan Iran sempat mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada awal April 2026 dan melakukan pembicaraan di Islamabad, pertemuan tersebut berakhir tanpa kesepakatan konkret.
Di tengah situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk memperpanjang masa gencatan senjata guna memberi ruang bagi Iran menyusun "usulan terpadu".
Trump mengaku mulai melihat tanda-tanda penurunan harga energi dan memprediksi harga akan merosot signifikan setelah peperangan berakhir sepenuhnya.
Selat Hormuz merupakan titik sumbat (chokepoint) maritim paling krusial di dunia bagi industri energi. Terletak di antara Teluk Oman dan Teluk Persia, jalur sempit ini dilewati oleh hampir seperlima dari total konsumsi minyak dunia setiap harinya.
Setiap gangguan di wilayah ini, baik berupa konflik militer maupun blokade jalur pelayaran, secara otomatis akan memicu guncangan pada rantai pasok global.
Ketegangan yang melibatkan Iran memiliki dampak domino yang besar karena Iran memegang kendali geografis atas sisi utara selat tersebut. Bagi ekonomi dunia, stabilitas di Timur Tengah bukan sekadar isu politik, melainkan jaminan agar roda ekonomi tetap berputar tanpa terhambat oleh inflasi energi.
Jika prediksi IMF mengenai konflik berkepanjangan hingga 2027 menjadi kenyataan, maka dunia berisiko menghadapi era stagflasi. Pada kondisi ini, pertumbuhan ekonomi stagnan namun harga-harga kebutuhan pokok terus membumbung tinggi.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






