AS Pamerkan 3,5 Juta Lembar Dokumen Skandal Jeffrey Epstein
NEW YORK, investor.id – Sebuah kelompok advokasi transparansi di Amerika Serikat (AS) membuka pameran temporer yang menghebohkan di New York.
Bukan karya seni biasa, pameran ini hanya memajang satu jenis teks yaitu cetakan seluruh dokumen resmi dari Departemen Kehakiman AS terkait Jeffrey Epstein dengan total mencapai 3,5 juta halaman.
Perpustakaan "Skandal" di Tribeca
Pameran yang diberi nama The Donald J. Trump and Jeffrey Epstein Memorial Reading Room ini menyusun dokumen-dokumen tersebut ke dalam 3.437 jilid buku yang disusun rapi di rak-rak kayu. Dokumen ini dirilis di bawah Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein (Epstein Files Transparency Act).
"Kebenaran sulit untuk dibantah ketika ia dicetak dan dibundel tepat di depan mata Anda," tulis pernyataan resmi Institute of Primary Facts, organisasi nirlaba asal Washington yang menggagas pameran ini, seperti dikutip AFP, Selasa (12/5/2026).
Pameran yang berlokasi di kawasan elit Tribeca ini terbuka bagi mereka yang mendaftar secara daring. Namun, ada aturan ketat bagi pengunjung.
Dengan adanya kesalahan Departemen Kehakiman yang gagal menyamarkan (redact) nama-nama korban dalam dokumen tersebut, masyarakat umum dilarang membaca isinya secara detail. Akses khusus hanya diberikan kepada kalangan profesional seperti jurnalis dan pengacara.
Sorotan Hubungan Trump dan Epstein
Salah satu bagian yang paling mencolok dari eksibisi ini adalah tampilan yang menunjukkan hubungan panjang antara Presiden Donald Trump dan Jeffrey Epstein. Keduanya dikenal sebagai teman dekat selama puluhan tahun sebelum akhirnya dikabarkan pecah kongsi pada 2004 akibat perselisihan transaksi properti.
Meskipun nama Trump muncul berulang kali dalam dokumen tersebut, sang Presiden berkali-kali membantah telah melakukan kesalahan.
"Tujuan kami adalah mengedukasi publik melalui museum pop-up seperti ini agar masyarakat memahami tingkat korupsi di Amerika Serikat dan ancaman terhadap demokrasi," ujar David Garrett, salah satu pencipta proyek tersebut.
Garrett menambahkan, proyek ini bertujuan untuk memicu reaksi publik atas cara pemerintahan Trump menangani perilisan dokumen tersebut. Banyak pihak menuduh pejabat kehakiman mencoba menutupi kedalaman hubungan antara Trump dan Epstein.
Pameran ini dijadwalkan berlangsung hingga 21 Mei 2026 sebagai upaya untuk menuntut akuntabilitas nyata dari pemerintah.
Jeffrey Epstein adalah seorang miliarder pengelola dana yang namanya mengguncang dunia setelah ditangkap atas tuduhan perdagangan seks anak di bawah umur.
Epstein diketahui memiliki jaringan pertemanan yang luas di kalangan elit politik, bisnis, hingga anggota keluarga kerajaan di berbagai negara. Ia ditemukan tewas di dalam sel tahanan federal pada 2019 saat menunggu persidangan, yang secara resmi dinyatakan sebagai bunuh diri, meskipun kematiannya terus memicu berbagai teori konspirasi.
Sejak kematiannya, tekanan publik terhadap pemerintah AS untuk membuka "Berkas Epstein" semakin menguat. Hal ini memicu disahkannya Epstein Files Transparency Act, sebuah langkah hukum untuk mengungkap siapa saja tokoh-tokoh berpengaruh yang terlibat dalam aktivitas ilegal sang miliarder.
Pameran di New York ini menjadi simbol perlawanan publik terhadap upaya penutupan informasi, mengingat banyaknya nama besar yang terseret dalam pusaran skandal moral dan hukum terbesar dalam sejarah modern AS.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Tag Terpopuler
Terpopuler

