Kamis, 14 Mei 2026

Tiga Kesesuaian Stratejik di Era Keberlanjutan 

Penulis : Jacky Mussry *)
29 Jan 2024 | 08:00 WIB
BAGIKAN
Dr Jacky Mussry.
Dr Jacky Mussry.

Apa yang dicari investor dari investasi yang dilakukannya? Jawaban klasik tentunya adalah tingkat pengembalian investasi yang sepadan yang sering dikenal dengan return on investment (ROI). Namun dengan berjalannya waktu dan semakin kompleksnya lingkungan bisnis, semakin banyak faktor yang menjadi pertimbangan investor dalam proses pengambilan keputusan investasinya.

Selain yang bersifat finansial, termasuk free cash-flow, investor juga melihat dan mempertimbangkan apakah aspek keberlanjutan (sustainability) telah menjadi bagian dari model bisnis suatu perusahaan, sejauh mana suatu perusahaan sudah semakin stakeholder-centric. Artinya, tingkat risiko aspek environmental, social, and governance (ESG) kini semakin krusial dalam keputusan investasi. Inilah akhir dari era pelaporan CSR abal-abal yang sulit diaudit.

Aspek ESG yang wajib menjadi bagian dari model bisnis perusahaan harus bisa diaudit secara menyeluruh dengan mempergunakan metode standar yang dapat diterima di seluruh dunia. Itulah mengapa International Sustainability Standards Board (ISSB) yang merupakan bagian dari IFRS Foundation menyatakan bahwa per 1 Januari 2024 lalu perusahaan-perusahaan sudah harus mulai mengaplikasikan IFRS S1 yang merupakan persyaratan umum pengungkapan informasi keuangan terkait keberlanjutan dan IFRS S2 yang merupakan pengungkapan terkait perubahan iklim.

Tantangan bisnis menjadi semakin tinggi, karena pendekatan customer-centric tidak lagi semata menjual suatu produk―baik barang dan/atau jasa serta berbagai layanan pendukungnya―kepada para pelanggan. Kini perusahaan harus menjual solusi untuk mengatasi berbagai problem yang dihadapi oleh para pelanggan yang bersifat holistik dan kompleks sejalan dengan semakin tingginya tingkat sofistikasi para pelanggan tersebut.

ADVERTISEMENT

Konsekuensinya, pendekatannya tidak bisa lagi semata dari input (faktor-faktor produksi) dikonversi menjadi output (berupa barang atau jasa yang siap dipasarkan) lalu menjadi outcome (dibeli oleh para pelanggan dan menghasilkan pendapatan bagi perusahaan). Pendekatan ini sudah tidak mencukupi lagi (insufficient) karena sekarang para pelanggan dan investor sudah mulai menanyakan apa impact (terhadap lingkungan dan sosial) dari suatu produk, merek, dan bahkan eksistensi perusahaan dalam suatu ekosistem.

Oleh karena itu, perusahaan harus dapat memastikan problem-solution fit agar bisa menjadi problem-solver holistik yang pada gilirannya bisa memengaruhi tingkat penjualan agar capaiannya lebih tinggi dan berdampak positif pada profit and loss (P&L).

Perusahaan juga harus semakin tajam memahami dinamika kompetisi dan menganalisa para pesaingnya (langsung, tidak langsung, dan bahkan laten) untuk memastikan kesesuaian antara produk dan pasar/segmennya (product-market fit). Pemahaman segmen pasar yang cermat dan tepat memilih sasaran pasar―sesuai sumberdaya, kapabilitas, dan kompetensi yang ada―memungkinkan perusahaan memenangkan pasar (market-winning) sehingga bisa meningkatkan pangsa pasarnya dan akhirnya berdampak positif juga terhadap P&L.

Setelah memenuhi ekspektasi para pelanggan serta mencermati para pesaing, masih ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan: apakah ada kesesuaian antara hasil yang akan diterima atau didapat oleh perusahaan dengan apa yang telah diberikan oleh perusahaan (get-give fit)? Jika hasil yang didapat perusahaan (antara lain berupa cash-inflow, laba bersih, dan market value) lebih kecil atau tidak sebanding dengan apa yang telah diberikannya (antara lain berupa waktu, upaya atau proses manajemen, biaya investasi, dan biaya operasional) maka ini mengindikasikan bahwa perusahaan secara bisnis (dengan berbagai alasan) tidak berhasil menciptakan suatu nilai. Pasti ada kendala dalam proses penciptaan nilai (value creation) di perusahaan tersebut. Salah satu yang sangat penting untuk diperhatikan dan diperiksa secara teliti adalah aspek operasionalnya, apakah sudah efisien atau belum.

Hipotesisnya, jika ada dua perusahaan dengan dua produk yang identik, dijual di pasar yang sama, dan kedua perusahaan tersebut terekspos berbagai elemen makroekonomi yang sama, maka ceteris paribus (demikian akademisi sering mengatakannya) kedua perusahaan tersebut akan menunjukkan kinerja yang sama. Namun, dengan given condition tersebut, bisa saja satu perusahaan mencapai kinerja keuangan yang lebih baik dari yang lain dan tercermin nyata di P&L jika perusahan tersebut memiliki proses operasional yang lebih efisien. Pencapaian efisiensi yang tinggi sekarang ini semakin dimungkinkan dengan pemanfaatan teknologi, termasuk diantaranya adalah kecerdasan buatan, otomasi, robotik, dan sebagainya.

Ketiga hal yang dijabarkan tadi disebut sebagai tiga kesesuaian stratejik (three strategic suitabilities). Jika semakin sesuai (termasuk terhadap aspek keberlanjutan) maka akan berdampak semakin baiknya P&L yang terlihat di laporan laba-rugi perusahaan. Besarnya pengaruh dari tiga kesesuaian stratejik tersebut bisa dilihat (setidaknya sebagai proxy) antara lain dari besar-kecilnya angka-angka laba kotor, pendapatan operasional, EBIT, atau juga laba bersih. Karena satu dan lain hal, tidak tertutup kemungkinan bahwa dalam jangka pendek dan menengah angka-angka tadi masih belum favorable capaiannya, namun bisa saja nilai pasar (market value) perusahaan sudah mulai merangkak naik karena pasar menghargai kesesuaian stratejik perusahaan yang melandasi potensi jangka panjang yang menjanjikan.

Dengan semakin kompetitifnya persaingan dan semakin canggihnya para pelanggan ditambah dengan berbagai tuntutan keberlanjutan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, maka perusahaan masa depan harus mengevaluasi―dan bahkan merombak―model bisnisnya agar selalu kompatibel dengan lingkungan dinamis yang unpredictable. Perusahan harus bisa membentuk kapabilitas dinamis yang mumpuni agar tetap memiliki agilitas, fleksibilitas, dan resiliensi yang kuat untuk sekarang dan di masa mendatang.

^) CEO MarkPlus Institute, Pengurus KASB IAI

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 25 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 55 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia