Kamis, 14 Mei 2026

MICS, Bedah Jantung Lebih Cepat dan Luka Irisan Lebih Kecil

Penulis : Fajar Widhiyanto
29 Sep 2022 | 21:50 WIB
BAGIKAN
dr Amin Tjubandi SP.BTKV (K), dokter spesialis bedah torak, kardiak dan vaskuler di RS Premier Jatinegara, saat memaparkan teknik bedah minimal invasif  padaoperasi jantung di Rumah Sakit Premier Jatinegara Cardiac Center Comprehensive Care di Jakarta, Kamis (29/9/2022).
dr Amin Tjubandi SP.BTKV (K), dokter spesialis bedah torak, kardiak dan vaskuler di RS Premier Jatinegara, saat memaparkan teknik bedah minimal invasif padaoperasi jantung di Rumah Sakit Premier Jatinegara Cardiac Center Comprehensive Care di Jakarta, Kamis (29/9/2022).

JAKARTA, Investor.id - Penyakit jantung masih merupakan salah satu penyakit dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi di dunia. Melansir data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), tingkat kematian akibat penyakit jantung mencapai 18,6 juta orang setiap tahunnya. Sementara di Indonesia menurut Kementerian Kesehatan penyakit jantung juga menduduki peringkat tertinggi dengan membebani BPJS hingga lebih dari Rp10 triliun per tahun, dan terus meningkat setiap tahunnya.

“Penyakit jantung adalah penyebab kematian utama di dunia, seperti diungkapkan dalam statistik the American Heart Association's, Heart Disease and Stroke Statistics-2021 Update. Tren ini akan meningkat eksponensial akibat pandemi Covid-19. Lebih dari tiga perempat kematian akibat penyakit kardio vaskuler terjadi di negara berkembang yang berpenghasilan rendah, sampai sedang,” kata dr Amin Tjubandi SP.BTKV (K), dokter spesialis bedah torak, kardiak dan vaskuler di RS Premier Jatinegara, saat media gathering Premier Jatinegara Cardiac Center Comprehensive Care di Jakarta, Kamis (29/9/2022).

Ia membandingkan kasus bedah katup atau Coronary Artery Bypass Graft (CABG) atau lebih dikenal dengan operasi Bypass di Amerika Serikat, dengan populasinya yang sebesar 320 juta jiwa, tiap tahunnya harus menggelar 320.000 kasus operasi CABG. Sementara Idnonesia dengan penduduk 270 juta jiwa, hanya mampu menangani 5000 kasus operasi CABG dan katup di tahun 2018.

“Memang banyak faktor yang membuat angka penanangan bedah kardio vaskuler di Indonesia lebih rendah. Salah satunya adalah faktor ketersediaan infrastruktur dan teknologi, yang relatif mahal,” ujar dr Amin.

ADVERTISEMENT

Coronary Artery Bypass Graft (CABG) atau bedah by pass kardio vaskuler merupakan pembedahan untuk mengobati penyakit jantung koroner akibat adanya timbunan plak di dalam pembuluh arteri koroner. Pembuluh arteri sendiri bertugas untuk memasok darah kaya oksigen ke jantung.

Sejauh ini operasi CABG biasanya dilakukan dengan membuka tulang dada dengan cara memotongnya, lalu membuka selaput jantung, dan memperbaiki arteri yang tersumbat dengan penggunaan ring, ataupun menggantikan saluran arteri yang tersumbat tersebut.

Saat ini tengah berkembang sebuah cara bedah minimal invasif dalam bedah jantung, yang memungkinkan operasi bisa dilakukan dengan sayatan lebih sedikit, tanpa harus memotong tulang dada, dan potensi penyembuhan yang lebih cepat. Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS) inilah, kata dr Amin, sebagai prosedur operasi dengan sayatan kecil yang mulai diterapkan pada berbagai operasi bedah, termasuk pada bedah jantung.

“MICS merupakan inovasi terkini dalam teknik bedah jantung, dimana metode pembedahan menggunakan sayatan kecil sehingga kehilangan darah lebih sedikit, mengurangi ketidaknyamanan paska operasi, waktu penyembuhan lebih cepat, menurunkan risiko infeksi, serta menghilangkan kemungkinan infeksi luka dalam sternum. Prosedur ini juga dapat menjadi pilihan bagi pasien yang memiliki risiko tinggi, seperti karena usia atau riwayat medis lainnya.” jelas dr. Amin Tjubandi.

Sejauh ini, di Indonesia baru Rumah Sakit Premier Jatinegara yang telah melengkapi diri dengan peralatan dan dokter spesialis untuk teknik MICS. “Kita patut berbangga, ada satu rumah sakit yang mampu melakukan bedah kardio dengan teknik MICS,” ujar dr Amin.

Dengan teknik MICS ini, maka bedah jantung tak lagi membuka tulang dada, namun cukup membuka sayatan pendek di bawah dada kiri, yang selanjutnya dengan menggunakan alat khusus tulang iga yang menutupi posisi jantung akan dibuka tanpa harus memotongnya. Keuntungan teknis MICS antara lain proses operasi yang lebih singkat, proses penyembuhan yang lebih cepat, dan tidak terlalu menggangu estetik pada bagian tubuh bekas operasi.

“Biasanya dengan bedah jantung biasa pasien akan membutuhkan waktu pemulihan antara 8-12 pekan. Sementara dengan minimal invasif proses penyembuhan hanya memakan waktu 2-3 pekan,” ujar dr Amin.

Sementara itu dr. Susan Ananda selaku CEO dari RS Premier Jatinegara (RSPJ) mengungkapkan bahwa salah satu layanan unggulan RSPJ adalah Cardiac Center. RSPJ memiliki fasilitas atau bangsal khusus pasien penyakit jantung (Cardiac Ward) yang berdiri sejak tahun 2015 dengan layanan jantung komprehensif.

“Kami di RSPJ sangat bangga dengan adanya fasilitas ini terutama dengan jajaran Dokter Spesialis Jantung yang kami miliki. Sebagai penyedia layanan Kesehatan tentunya kami mengharapkan kehadiran kami juga dapat menambah akses terhadap layanan jantung di Indonesia,” kata Dr Susan.

Dilengkapi dengan fasilitas pemeriksaan jantung, monitoring system, defibrillator, ekokardiografi, Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM), holter, hingga mini echo untuk memonitor jantung pasien dengan lebih cepat. Cardiac Ward juga diperuntukan bagi pasien pra-dan post tindakan seperti Percutaneous Coronary Intervention (PCI) yaitu prosedur intervensi non bedah.

“Di RSPJ kami juga melakukan layanan bedah jantung dengan teknik Coronary Artery Bypass Graft (CABG) dan Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS), jelas dr. Susan Ananda.

Dalam kesempatan yang sama, dr. Hasril Hadis, Sp.JP(K), FIHA menyatakan, serangan jantung dapat menyebabkan kematian bila tidak segera tertangani. Namun tidak semua serangan jantung selalu langsung berakibat fatal, bisa saja seseorang mengalami serangan jantung ringan.

“Pada kasus seperti ini pertolongan pertama harus dilakukan secara cepat dan diikuti dengan penanganan dari ahli penyakit jantung secara komprehensif. Penanganan yang akurat sangat penting untuk meminimalkan kerusakan pada jantung, sehingga pasien dapat kembali pulih secara maksimal,” paparnya.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 25 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 55 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia