Kamis, 14 Mei 2026

Pelatihan Mitigasi Bencana untuk Membangun Kesadaran Kolektif Mahasiswa

Penulis : Happy Amanda Amalia
17 Jun 2025 | 22:35 WIB
BAGIKAN
Salah satu peserta perempuan mengikuti simulasi menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) dalam "Workshop Mitigasi Bencana Kebakaran". (Ist)
Salah satu peserta perempuan mengikuti simulasi menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) dalam "Workshop Mitigasi Bencana Kebakaran". (Ist)

JAKARTA, investor.id – Kebakaran adalah salah satu bencana yang sering terjadi, di mana penyebab terbanyak adalah arus pendek listrik atau korsleting. Mengutip data dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kebencanaan terdapat total 1.653 kasus kebakaran di Jakarta pada periode 2023-2024. Dari total kasus kebakaran tersebut, sebanyak 1.148 kasus (sekitar 69,5%) disebabkan oleh korsleting listrik.

Dalam upaya membangun budaya tanggap bencana di lingkungan pendidikan tinggi, Institut Bisnis dan Informatika (IBI) Kosgoro 1957 menyelenggarakan “Workshop Mitigasi Bencana Kebakaran” sebagai bagian dari kampanye sosial bertajuk Ready, Educated, and Aware Campus Team (REACT). Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada edukasi, tetapi juga mendorong partisipasi aktif seluruh unsur warga kampus dalam kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana, khususnya kebakaran.

“Melalui kampanye ini, kami ingin membangun budaya sadar risiko di lingkungan kampus secara berkelanjutan. Edukasi, keterlibatan aktif, dan penerapan ilmu Public Relations menjadi fondasi utama gerakan ini,” kata Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) IBI Kosgoro 1957, Agus Hitopa Sukma, SH, M.I.Kom.

ADVERTISEMENT

Musonip, S.I.Kom, sebagai praktisi pemadam kebakaran dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di lapangan, mengapresiasi inisiatif mahasiswa IBI Kosgoro 1957 yang mau peduli dan bergerak membangun kesiapsiagaan.

“Kegiatan seperti ini sangat penting dan patut didukung. Edukasi kebencanaan harus dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk kampus,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak sebatas menerima materi teoritis, namun turut serta dalam simulasi penggunaan APAR, pengenalan titik api, serta strategi evakuasi cepat dan aman. Simulasi ini menjadi pengalaman langsung yang meningkatkan kesiapsiagaan praktis seluruh peserta.

Ada pun materi yang diberikan mulai dari sesi pelatihan dengan pembahasan mendalam seputar Teori Api; Teori Alat Pemadam Api Ringan (APAR); serta Manusia, Komunikasi, Keadaan, dan Geografi (MKKG); yang menjadi kerangka penting dalam memahami dan merespons situasi darurat di lingkungan kampus.

Sementara itu Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi IBI Kosgoro 1957, Misnan, S.S., M.I.Kom., menyampaikan bahwa kampanye kegiatan ini menjadi ruang aktualisasi mahasiswa untuk menerapkan keilmuan komunikasi strategis secara kontekstual.

“Mahasiswa tak hanya diajarkan konsep, tetapi didorong untuk menjadi komunikator perubahan dalam isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk soal kebencanaan,” jelasnya.

Ditambahkan oleh Dosen Pembimbing Kegiatan, Hiswanti, M.I.Kom., bahwa secara umum, kegiatan ini mengusung tiga tujuan utama, yakni pertama meningkatkan kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana sebagai bagian dari kehidupan kampus. Tujuan kedua adalah memberikan edukasi praktis mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi; dan yang ketiga mendorong keterlibatan aktif seluruh warga kampus dalam membentuk lingkungan yang lebih siaga dan tangguh.

Salah satu peserta, sekaligus ketua panita kegiatan mahasiswa, Rayhan Luthfie mengungkapkan pentingnya pelaksanaan workshop di tengah banyaknya kasus kebakaran di area perkotaan. Ia mengaku jadi lebih tahu apa yang harus dilakukan saat situasi darurat.

“Ini bukan cuma teori, tapi bekal nyata yang bisa menyelamatkan nyawa. Dengan selesainya kegiatan ini, mahasiswa berharap REACT dapat menjadi gerakan berkelanjutan di lingkungan kampus IBI Kosgoro 1957. Tidak hanya sebagai proyek akademik, tetapi sebagai gerakan sadar risiko yang bisa berkembang di berbagai institusi pendidikan lain,” tuturnya.

Kegiatan ini juga membuka dialog tentang bagaimana kampus dapat membentuk sistem mitigasi yang berkelanjutan. Inspirasi diambil dari beberapa model kampus siaga di Indonesia seperti di UI, ITB, dan UPI, yang telah mengembangkan sistem penanganan risiko berbasis komunitas internal.

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 25 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 55 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia