Jumat, 15 Mei 2026

BPS: Nilai Ekspor Februari 2023 Capai US$ 21,40 Miliar

Penulis : Arnoldus Kristianus
15 Mar 2023 | 13:20 WIB
BAGIKAN
Suasana di terminal bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. (BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao)
Suasana di terminal bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. (BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao)

JAKARTA, investor.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Februari 2023 mencapai US$ 21,40 miliar. Angka ini menunjukan penurunan 4,15% dibanding ekspor Januari 2023. Dibanding Februari 2022 nilai ekspor naik sebesar 4,51%.

“Jika dibandingkan dari 2021,2022, dan 2023 nilai ekspor kembali melambat secara bulanan di Februari 2023 tetapi tidak sedalam bulan sebelumnya,” ucap Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Habibullah dalam konferensi pers pada Rabu (15/03/2023).

Dia mengatakan nilai ekspor migas mencapai US$ 1,19 miliar pada Februari 2023. Angka ini menurun 20,26% dari posisi Januari 2023 yang saat itu mencapai US$ 1,49 miliar. Sedangkan jika dibandingkan dengan posisi Februari 2022 terjadi kenaikan 19,27% sebab pada saat itu nilai ekspor migas sebesar US$ 990 juta.

“Ekspor migas mengalami penurunan sebesar 20,26% secara bulanan disebabkan oleh nilai hasil minyak turun 43,87%. Secar volume turun 42,82%,” kata Habibullah.

ADVERTISEMENT

Nilai ekspor non migas mencapai US$ 20,21 miliar pada Februari 2023. Angka ini menurun 3% dari posisi Januari 2023 yang saat itu mencapai US$ 20,83 miliar. Sedangkan jika dibandingkan dengan posisi Februari 2022 terjadi kenaikan 3,76% yang pada saat itu terjadi ekspor non migas sebesar US$ 19,48 miliar.

“Penurunan ekspor non migas sebesar 3% terhadap bulan sebelumnya disebabkan oleh bahan bakar mineral nilainya turun sebesar 6,51%; komoditas logam mulia dan perhiasan permata (HS 71) nilainya turun 30,07%; bijih logam, terak, dan abu (HS 26) nilainya turun 29,86%; alas kaki (HS 64) nilainya turun 13,78%; komoditas mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) nilainya turun 11,93%,” kata Habibullah.

BPS juga mencatat data ekspor menurut sektor yang terbagi dalam empat sektor. Pertama yaitu ekspor komoditas migas US$ 1,19 miliar pada Februari 2023. Secara bulanan 20,26% namun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2022 terjadi kenaikan 19,27%. Nilai ekspor migas turun 20,26% utamanya disebabkan karena hasil minyak dan gas.

“Pada Februari 2023 semua sektor mengalami penurunan terdalam penurunan terdalam terjadi pada sektor migas,” imbuh dia.

Kedua, lanjutnya, nilai ekspor sektor pertanian, kehutanan, perikanan sebesar US$ 340 juta pada Februari 2023. Jika dilihat secara bulanan terjadi penurunan 9,62%. Secara tahunan juga terjadi penurunan 2,08%.

“Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 9,62% utamanya disebabkan oleh penurunan ekspor komoditas hasil hutan bukan kayu lainnya; rumput laut dan ganggang lainnya; kopi; mutiara; serta hasil budi daya dan kepiting,” kata dia.

Sedangkan ketiga, Habibullah menyebut nilai ekspor komoditas tambang dan lainya sebesar US$ US$ 4,35 miliar pada Februari 2023. Secara bulanan turun 9,46% sedangkan secara tahunan meningkat 20,93%. Habibullah menuturkan sektor pertambangan dan lainnya turun 9,46% secara bulanan utamanya disebabkan karena penurunan komoditas batu bara, bijih tembaga,lignit serta bahan mineral lainya.

Keempat, lanjut dia, nilai ekspor industri pengolahan mencapai US$ 15,51 miliar pada Februari 2023. Bila dilihat secara bulanan terjadi penurunan 0,86% dan secara tahunan turun 0,09%. Sektor industri pengolahan turun 0,86% secara mtm utamanya disebabkan pada komoditas barang perhiasan dan barang berharga, sepatu olah raga, tembaga, nikel, serta kertas lainnya.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Februari 2023 mencapai US$ 43,72 miliar atau naik 10,28% dibanding periode yang sama tahun 2022. Sementara ekspor nonmigas mencapai US$ 41,05 miliar atau naik 8,73%.

Ekspor nonmigas Februari 2023 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$ 5,04 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 1,91 miliar dan Jepang US$ 1,74 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 42,99%. Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa (27 negara) masing-masing sebesar US$ 3,97 miliar dan US$ 1,25 miliar.

Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Februari 2023 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$ 6 miliar (13,72%), diikuti Kalimantan Timur US$ 5,10 miliar (11,67%) dan Jawa Timur US$3,83 miliar (8,75%).  

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia