Jumat, 15 Mei 2026

BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga Acuan hingga Akhir 2023

Penulis : Arnoldus Kristianus
25 Mar 2023 | 12:00 WIB
BAGIKAN
Gedung Bank Indonesia (BI). (Foto: Istimewa/Beritasatu)
Gedung Bank Indonesia (BI). (Foto: Istimewa/Beritasatu)

JAKARTA, investor.id – Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan, Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan posisi suku bunga acuan sebesar 5,75% hingga akhir 2023. Hal ini mengingat kondisi suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat atau Fed Funds Rate (FFR) dan perekonomian dalam negeri.

“Secara keseluruhan, kami tetap memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% hingga sisa tahun 2023 dengan tetap mewaspadai perkembangan ekonomi global ke depan yang masih penuh dengan ketidakpastian,” kata Faisal, Jumat (24/3/2023).

Dia menegaskan bahwa dari sisi eksternal, Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) sudah memberi sinyal bahwa tidak ada perubahan terminal rate pada 2023, meskipun kondisi inflasi masih tinggi karena ketatnya pasar tenaga kerja. Dengan kata lain, kondisi FFR sudah mendekati puncak. The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan 25 bps pada Rabu (22/3/2023) ke kisaran 4,75-5%.

ADVERTISEMENT

“The Fed juga mengakui perkembangan ekonomi AS baru-baru ini terkait dengan kegagalan Silvergate Bank, Silicon Valley Bank, dan Signature Bank. Hal ini membuatnya perlu menyeimbangkan perang melawan inflasi dan risiko dari krisis perbankan,” tutur Faisal.

Adapun konsensus pasar memperkirakan bahwa The Fed harus segera menghentikan siklus pengetatan moneter dan mengubah kebijakan untuk memangkas suku bunga guna mendukung stabilitas keuangan setelah runtuhnya tiga bank regional AS dan pengambilalihan Credit Suisse.

Sementara itu, dari sisi indikator perekonomian domestik, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar US$ 5,48 miliar pada Februari 2023. Cadangan devisa terus meningkat menjadi US$ 140,3 miliar.

Laju inflasi juga dalam tren menurun. Inflasi turun dari 5,95% (yoy) pada September 2022, saat pemerintah menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, menjadi 5,47% pada Februari 2023.

“Kondisi tersebut mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan menekan risiko inflasi impor. Karena itu, kami melihat bahwa ruang untuk menaikkan suku bunga acuan tahun ini akan sangat terbatas,” ujar Faisal.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia