Inflasi AS Masih Tinggi, Waspada Berdampak ke Ekonomi Nasional
JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan Periode 2013-2014 sekaligus Ekonom Senior, Chatib Basri mengungkapkan tekanan inflasi Amerika Serikat (AS) masih tinggi sampai beberapa waktu kedepan. Mengingat pasar tenaga kerja di sana masih cukup ketat. Hal ini, dapat berdampak kepada perekonomian nasional.
"Saya tidak akan terkejut jika The Fed itu masih menaikkan suku bunganya mungkin 25 basis poin lagi ke 5,75 ini tentu akan berpengaruh kepada likuiditas global, perlambatan perekonomian global," kata Chatib Basri saat dijumpai seusai acara Investor Daily Round Table di Kawasan GBK, Jakarta Pusat, Senin (31/7/2023).
Menurut Chatib, dampak yang diakibatkan oleh tingginya tingkat suku bunga tersebut dapat menurunkan nilai ekspor dan investasi di Tanah Air.
"Dengan bunga yang masih relatif tinggi, ruang dari Bank Indonesia untuk menurunkan bunga belum terbuka segera. Sehingga tentu punya dampak pada investasi dan ekspor kita mungkin akan kena, investasinya juga," kata Chatib.
Selain itu, lanjut dia, personal consumption juga akan turut berkurang akibat dari perlambatan perekonomian global. Salah satu cara untuk bisa membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional adalah dengan meningkatkan belanja pemerintah.
"Kita melihat bahwa fiskal masih surplus sampai dengan bulan Juni. Ini sesuatu yang sebetulnya mudah-mudahan di dalam second half dari 2023 itu belanjanya (pemerintah) bisa ditingkatkan. Sehingga itu bisa membantu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Chatib.
Dikatakan Chatib, pemerintah dapat melakukan percepatan baik dari segi proses dan lain sebagainya mengenai belanja pemerintah pada Kuartal III dan IV 2023. Salah satunya adalah dengan bantuan sosial (bansos).
"Salah satu yang saya kira bisa dilakukan dan saya kira ini cukup baik itu adalah bansos ya, kalo bansos itu sesuatu yang relatif lebih mudah dibandingkan dengan KL tetapi kementerian lembaga juga harus mempercepat lah proses handle-nya dan lain-lain," sebut Chatib.
"Kenapa? Misalnya kalo lihat dari pengalaman lalu bansos itu sesuatu yang belanjanya sampai 100%. Selalu," lanjut dia.
Lebih lanjut Chatib mengatakan, memang share dari pemerintah itu relatif terbatas tetapi semua sektor maupun komponen yang bisa mendorong GDP harus didorong.
"Kan kita gak bicara mengenai, 'ah ini kecil gausahlah', kan gak begitu kalau dia bisa ditingkatkan belanjanya lebih cepat ketika investasi slowdown, konsumsinya agak melambat dan kemudian ekspornya turun ya mau tidak mau harus belanja pemerintah (yang ditingkatkan)," pungkasnya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






