Jumat, 15 Mei 2026

BPS: Beras Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar Selama Tiga Bulan Beruntun

Penulis : Arnoldus Kristianus
1 Nov 2023 | 15:45 WIB
BAGIKAN
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini

JAKARTA, investor.id - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan komoditas beras mengalami inflasi sebesar 1,72% dan memberikan andil inflasi 0,06% pada Oktober 2023. Secara spasial tercatat ada 87 kota mengalami inflasi beras, dua kota mengalami deflasi beras dan di satu kota tercatat stabil.

Kenaikan harga beras sudah terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Secara akumulatif selama tahun 2023 beras juga menyumbang andil inflasi terbesar, yaitu sebesar 0,49% (year to date/ytd Oktober 2023).

“Beras merupakan komoditas penyumbang andil inflasi terbesar selama tiga bulan berturut-turut sejak Agustus sampai Oktober 2023 secara akumulatif selama tahun 2023 beras juga menyumbang andil inflasi terbesar yakni sebesar 0,49% secara ytd di Oktober,” ucap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers di Kantor BPS pada Rabu (1/11/2023).

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut jika dilihat dari sisi komponen inflasi, beras merupakan komoditas utama penyebab inflasi komponen harga pangan bergejolak (volatile food). Secara bulanan komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 0,21% dengan andil inflasi sebesar 0,03%. Setelah beras inflasi volatile food didorong oleh cabai rawit dengan andil inflasi sebesar 0,03%, dan cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,01%.

“Di tengah inflasi komponen volatile food masih terdapat beberapa komoditas yang memberikan andil deflasi secara bulanan yang cukup signifikan diantaranya ikan segar ,telur ayam ras, tomat, bawang merah ,minyak goreng, dan bawang putih,” tutur Pudji.

Pudji mengatakan secara historis pada tahun 2020 hingga 2022 terlihat adanya pola yang mirip di mana secara umum terjadi beberapa kali deflasi komponen volatile food di semester dua. Hal ini berbeda dengan kondisi tahun 2023 dimana komponen tersebut baru mengalami deflasi satu kali yakni di Agustus 2023.

“Namun demikian inflasi pola volatile food pada tahun 2023 ini relatif lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya di mana pada Oktober 2022 inflasi volatile food mencapai 3,53% secara ytd sedangkan pada Oktober 2023 inflasi pola volatile food mencapai 3,46% secara ytd,” tutur Pudji. 

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia