Jumat, 15 Mei 2026

BKF: Surplus Neraca Perdagangan Topang Penguatan Sektor Eksternal

Penulis : Arnoldus Kristianus
17 Nov 2023 | 18:30 WIB
BAGIKAN
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu dalam acara BNI Investor Daily Summit 2023 di Hutan Kota by Plataran Senayan, Jakarta, baru-baru ini. (B Universe Photo/Arnoldus Kristianus)
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu dalam acara BNI Investor Daily Summit 2023 di Hutan Kota by Plataran Senayan, Jakarta, baru-baru ini. (B Universe Photo/Arnoldus Kristianus)

JAKARTA, investor.id – Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan surplus neraca perdagangan senilai US$ 3,48 miliar pada Oktober 2023 diharapkan dapat menopang posisi neraca berjalan Indonesia, yang memberikan kontribusi terhadap penguatan sektor eksternal dan terjaganya stabilitas ekonomi makro.

Meski mengalami penurunan, neraca perdagangan Indonesia yang masih surplus pada Oktober ini mencerminkan daya tahan Indonesia di tengah risiko global yang masih eskalatif.

“Peningkatan risiko ini akan terus kami waspadai dengan terus memantau dan menyiapkan berbagai opsi bantalan kebijakan untuk meredam gejolak global dan menjaga stabilitas dan kinerja ekonomi,” ujar Kepala BKF Kemenkeu Febrio Kacaribu dalam keterangan resmi yang diterima pada Jumat (17/11/2023).

ADVERTISEMENT

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) neraca perdagangan Indonesia pada bulan Oktober 2023 kembali mencatatkan surplus sebesar US$ 3,48 miliar. Hal ini merupakan surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 42 bulan secara berturut-turut. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan selama periode Januari-Oktober 2023 mencapai US$ 31,22 miliar.

Nilai ekspor Indonesia pada bulan Oktober 2023 tercatat US$ 22,15 miliar, turun sebesar 10,43% (yoy), terutama karena high base effect tahun lalu serta menurunnya harga komoditas tahun ini. Penurunan tersebut terjadi pada semua sektor, yaitu sektor industri pengolahan (5,03%, yoy), pertambangan (28,57%, yoy), dan pertanian (21,58%, yoy).

Meskipun dari sisi nilai mengalami penurunan, namun volume ekspor mengalami kenaikan sebesar 7,16% (yoy), sebagai indikasi bahwa permintaan dari negara-negara mitra masih cukup kuat. Secara kumulatif, ekspor Indonesia selama periode Januari-Oktober 2023 mencapai US$ 214,41 miliar.

Dia mengatakan kondisi perdagangan yang melambat sejatinya tidak hanya dialami Indonesia, melainkan juga terjadi di negara-negara mitra dagang Indonesia sebagai konsekuensi pelemahan ekonomi global. Meskipun perekonomian Amerika Serikat (AS) dalam tren menguat, impor AS dari global secara keseluruhan masih terkontraksi.

Hal ini terutama karena tren penguatan ekonomi AS lebih ditopang oleh sektor jasa domestik. Nilai ekspor Indonesia ke AS terkontraksi sebesar -0,51% (mtm). Demikian pula perlambatan aktivitas ekonomi di kawasan Asean, yang menyebabkan ekspor ke Singapura dan Malaysia terkontraksi masing-masing sebesar 4,73% dan 2,28% (mtm).

“Namun berbeda dengan ekspor ke Tiongkok, yang masih tumbuh sebesar 11,96% (mtm) di tengah perlambatan ekonomi negara itu,” kata dia.

Impor Indonesia di bulan Oktober 2023 mencatatkan nilai sebesar US$ 18,67 miliar atau turun 2,42% (yoy). Penyebab utama turunnya kinerja impor tersebut adalah penurunan impor bahan baku/penolong sebesar 6,08% (yoy). Sementara impor barang konsumsi dan barang modal tumbuh masing-masing sebesar sebesar 3,83% dan 11,08% (yoy). Secara kumulatif, impor Indonesia pada periode Januari-Oktober 2023 mencapai US$ 183,19 miliar.

“Pemerintah akan terus memantau dampak perlambatan global terhadap ekspor nasional, serta menyiapkan langkah antisipasi melalui dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi SDA, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama,” pungkas Febrio.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 31 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 42 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 46 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia