Jumat, 15 Mei 2026

Surplus Neraca Perdagangan Februari Menyusut Jadi US$ 870 Juta

Penulis : Arnoldus Kristianus
15 Mar 2024 | 10:18 WIB
BAGIKAN
PLT Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti
PLT Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti

JAKARTA, investor.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 870 juta pada Februari 2024. Angka itu turun secara bulanan maupun tahunan, masing-masing sebesar US$ 1,13 miliar (month to month/mtm) dan US$ 4,54 miliar (year on year/yoy).

Adapun nilai ekspor mencapai US$ 19,31 miliar pada Februari 2024. Angka ini turun 8,34% dari posisi Januari 2024 dan kontraksi hingga 9,45% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan nilai impor Indonesia Februari 2024 mencapai US$ 18,44 miliar, turun 0,29% dibandingkan Januari 2024, tetapi tumbuh 15,84% dari nilai impor pada Februari 2023.

“Dari kondisi pada Februari 2024 ini neraca perdagangan telah mencatatkan surplus selama 46 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Namun yang menjadi catatan surplus Februari 2024 ini relatif lebih rendah dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya dan bulan yang sama pada tahun 2023,” ucap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Kantor BPS pada Jumat (15/3/2024).

ADVERTISEMENT

Amalia mengatakan surplus neraca perdagangan Februari 2024 lebih ditopang oleh surplus pada komoditas non migas yaitu sebesar US$ 2,63 miliar. Adapun komoditas penyumbang surplus komoditas non migas adalah bahan bakar mineral, lemak dan minyak nabati, serta besi dan baja.

Nilai surplus neraca perdagangan non migas Februari 2024 lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan lalu yang sebesar US$ 2,63 miliar dan Februari 2023 sebesar US$ 6,62 miliar. “Pada saat yang sama neraca perdagangan komoditas migas defisit US$ 1,76 miliar dengan komoditas penyumbang defisit hasil minyak dan minyak mentah,” kata Amalia.

Adapun tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat sebesar US$ 1,44 miliar, India sebesar US$ 1,14 miliar, dan Filipina senilai US$ 627,8 juta. Komoditas penyumbang surplus dengan Amerika Serikat adalah kelompok komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya lalu pakaian dan aksesoris bukan rajutan serta alas kaki.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia