Kamis, 14 Mei 2026

Ekonom: Penurunan Ekspor Berpotensi Terjadi hingga Tahun 2025

Penulis : Arnoldus Kristianus
17 Mar 2024 | 12:30 WIB
BAGIKAN
Suasana bongkar muat peti kemas di Terminal Peti Kemas. (ANTARA FOTO/Arnas Padda/nym)
Suasana bongkar muat peti kemas di Terminal Peti Kemas. (ANTARA FOTO/Arnas Padda/nym)

JAKARTA,investor.id - Nilai ekspor terus mengalami kontraksi dalam beberapa bulan terakhir. Pada Februari 2024 nilai ekspor hanya mencapai US$ 19,31 miliar. Penurunan ekspor sangat berpeluang berlanjut sampai akhir tahun, bahkan sampai pertengahan tahun 2025, bila upaya pemerintah memiliki terobosan baru untuk memperluas pasar ekspor ke negara non tradisional.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita mengatakan penurunan ekspor sudah bisa diprediksi sebelumnya, apalagi kapasitas daya serap ekonomi global atas komoditas ekspor nasional semakin mengecil terjadi karena adalah akibat riil dari perlambatan ekonomi global yang memang sudah terlihat sejak tahun lalu. Penurunan ekspor di bulan Februari bukan hal baru, tetapi lanjutan dari trend performa ekspor sejak tahun 2023 lalu.

“Artinya, pemerintah belum berhasil mengalihkan pasar ekspor dari pasar tradisional, sehingga perlambatan ekonomi China, Uni Eropa, Jepang, dan Amerika, sangat menekan kinerja ekspor nasional, “tutur Ronny saat dihubungi Investor Daily belum lama ini.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 870 juta pada Februari 2024. Nilai ini menunjukan penurunan baik secara bulanan maupun tahunan masing-masing sebesar US$ 1,13 miliar dan US$ 4,54 miliar.

Adapun nilai ekspor mencapai US$ 19,31 miliar pada Februari 2024. Angka ini turun 8,34% dari posisi Januari 2024 dan kontraksi hingga 9,45% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor Indonesia Februari 2024 mencapai US$ 18,44 miliar, turun 0,29% dibandingkan Januari 2024, tetapi tumbuh 15,84% dari nilai impor pada Februari 2023.

Bila dirinci menurut sektor maka ekspor non migas terbagi dalam tiga sektor. Pertama yaitu sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan nilai ekspor mencapai US$ US$ 390 juta. Ekspor pada sektor ini tumbuh 5,37% tetapi mengalami kontraksi hingga 16,91 % secara tahunan . Kedua yaitu yaitu sektor pertambangan dan lainnya sebesar US$ 4,05 miliar. Jika dilihat secara bulanan ekspor sektor ini tumbuh 9,7 sedangkan secara tahunan mengalami kontraksi 7,54%. Ketiga yaitu sektor industri pengolahan memberikan kontribusi ekspor US$ 13,64 miliar. Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar mengalami kontraksi 9,22% dan secara tahunan turun 11,49%. Penurunan nilai ekspor industri pengolahan secara bulanan utamanya disebabkan oleh penurunan ekspor minyak kelapa sawit; logam dasar bukan besi; besi dan baja; barang perhiasan dan barang berharga; serta alumunium.

Ronny menjelaskan bahwa potensi defisit neraca perdagangan sangat bergantung pada aktivitas ekonomi domestik. Bila kinerja ekonomi domestik menggeliat, terutama sektor manufaktur, maka impor bahan baku dan bahan penolong akan naik tajam. Dalam kondisi ekspor yang terus turun, maka impor akan melebihi ekspor sehingga terjadi defisit. Biasanya saat ekspor menurun, maka itu pertanda aktivitas ekonomi domestik juga kurang agresif, sehingga impor pun berpotensi terus turun.

“Sehingga yang terjadi adalah neraca perdagangan tetap surplus alias status quo di mana ekspor menurun dan impor juga akhirnya ikut menurun. Alhasil, neraca perdagangan tetap surplus dengan kondisi bahwa volume ekspor impor sama-sama mengecil,” jelas Ronny.

Editor: Arnoldus Kristianus

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 23 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 53 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 1 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia