BI Perkirakan The Fed Baru Akan Turunkan Suku Bunga Acuan pada Semester II-2024
JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) memperkirakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed baru akan menurunkan suku bunga acuan pada semester II-2024. Hal ini berdasarkan kondisi inflasi dan pertumbuhan ekonomi di negara Paman Sam.
“Kami melihat kemungkinan di semester II-2024 karena bacaan-bacaan kami lebih mendasarkan pada assessment secara fundamental bahwa inflasi di Amerika Serikat yang masih di atas sasaran dan kemungkinan masih ada di atas sasaran sepanjang 2025 dan pertumbuhannya masih solid,” ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Maret 2024 di Gedung Thamrin, Kantor BI, pada Rabu (20/3/2024).
Perry mengatakan kebijakan suku bunga acuan The Fed masih bergantung pada kondisi pasar keuangan global sehingga masih tidak pasti. Ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi tecermin pada yield US Treasury yang meningkat sejalan dengan premi risiko jangka panjang dan inflasi yang masih di atas prakiraan pasar.
Perkembangan ini mendorong berlanjutnya penguatan dolar AS secara global, lebih terbatasnya aliran masuk modal asing, dan meningkatnya tekanan pelemahan nilai tukar di negara emerging market. Kondisi tersebut memerlukan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak negatif rambatan global tersebut, termasuk di Indonesia.
“Salah satunya untuk bagaimana stance kebijakan BI rate tetap 6% tetap dan kami juga baru melihat ruang terbuka penurunan suku bunga BI rate itu di semester II-2024 itu baseline skenario, tentu saja bisa maju atau bisa mundur,” tutur Perry.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Maret 2024, BI tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 6%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%. BI mempertahankan suku bunga acuan karena nilai tukar rupiah dan inflasi tetap terkendali.
“Tentu saja yang paling utama utama inflasi kami masih meyakini kenaikan inflasi volatile food ini adalah temporer, karena faktor seasonal itu akan turun sehingga kami meyakini bahwa inflasi akhir tahun masih akan tetap sekitar 3%,” pungkas Perry.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






