Dolar Mengganas, Dampaknya ke Ekonomi RI Ngeri
JAKARTA, Investor.id – Dolar AS terus menguat sepanjang 2024, seiring belum jelasnya kepastian penurunan suku bunga Federal Funds Rate (FFR). Sebab, inflasi Amerika Serikat (AS) ternyata lebih tinggi dari proyeksi pasar pada Maret 2024.
Pelemahan rupiah pun terus terjadi hingga menembus Rp 16 ribu per dolar AS atau tepatnya Rp 16.117, berdasarkan data Google Finance. Sepanjang tahun ini, rupiah melemah 4% terhadap dolar AS. Pelemahan rupiah membahayakan ekonomi karena mendongkrak inflasi dan menggerus pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan kalkulasi International Monetary Fund (IMF), pelemahan 10% mata uang negara berkembang terhadap dolar AS akan menggerus pertumbuhan ekonomi 1,9%. Efek terburuk pelemahan mata uang adalah gagal bayar, seperti yang terjadi pada Sri Lanka tahun 2022.
Nikkei mencatat, mata uang hampir semua angggota G20 melemah terhadap dolar AS. Contohnya, yen melemah 8%, won 5,5%. Adapun lira Turki jeblok 8,8%.
Mata uang negara barat juga ambles. Buktinya, dolar Australia melemah 4,4%, dolar Kanada 3,3%, dan euro 2,8%.
“Sumber penguatan dolar AS adalah prospek pemangkasan suku bunga acuan yang mulai meredup, setelah inflasi di AS melampaui ekspektasi. Sekarang, banyak yang memprediksi The Fed menunda manuver itu dari tadinya Juni,” tulis media itu, Minggu (14/4/2024).
Kini, pemerintahan sejumlah negara menaruh perhatian ke masalah ini. Apalagi, bagi negara berkembang yang memiliki banyak utang berdenominasi dolar AS.
Pada 1 April 2024, bank sentral Brasil telah terjun ke pasar untuk menjinakkan dolar AS. Bank Indonesia (BI) juga siap masuk pasar untuk mengintervensi rupiah. Namun, saat ini, hal itu tak bisa dilakukan, karena masih dalam masa cuti Lebaran.
Editor: Harso Kurniawan
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






