Jumat, 15 Mei 2026

Dolar Mengganas, Dampaknya ke Ekonomi RI Ngeri

Penulis : Harso Kurniawan
14 Apr 2024 | 19:36 WIB
BAGIKAN
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta pada Jumat (1/3/2024). (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa/am)
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta pada Jumat (1/3/2024). (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa/am)

JAKARTA, Investor.id – Dolar AS terus menguat sepanjang 2024, seiring belum jelasnya kepastian penurunan suku bunga Federal Funds Rate (FFR). Sebab, inflasi Amerika Serikat (AS) ternyata lebih tinggi dari proyeksi pasar pada Maret 2024.  

Pelemahan rupiah pun terus terjadi hingga menembus Rp 16 ribu per dolar AS atau tepatnya Rp 16.117, berdasarkan data Google Finance. Sepanjang tahun ini, rupiah melemah 4% terhadap dolar AS. Pelemahan rupiah membahayakan ekonomi karena mendongkrak inflasi dan menggerus pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan kalkulasi International Monetary Fund (IMF), pelemahan 10% mata uang negara berkembang terhadap dolar AS akan menggerus pertumbuhan ekonomi 1,9%. Efek terburuk pelemahan mata uang adalah gagal bayar, seperti yang terjadi pada Sri Lanka tahun 2022.

Nikkei mencatat, mata uang hampir semua angggota G20 melemah terhadap dolar AS. Contohnya, yen melemah 8%, won 5,5%. Adapun lira Turki jeblok 8,8%.

ADVERTISEMENT

Mata uang negara barat juga ambles. Buktinya, dolar Australia melemah 4,4%, dolar Kanada 3,3%, dan euro 2,8%.

“Sumber penguatan dolar AS adalah prospek pemangkasan suku bunga acuan yang mulai meredup, setelah inflasi di AS melampaui ekspektasi. Sekarang, banyak yang memprediksi The Fed menunda manuver itu dari tadinya Juni,” tulis media itu, Minggu (14/4/2024).

Kini, pemerintahan sejumlah negara menaruh perhatian ke masalah ini. Apalagi, bagi negara berkembang yang memiliki banyak utang berdenominasi dolar AS.

Pada 1 April 2024, bank sentral Brasil telah terjun ke pasar untuk menjinakkan dolar AS. Bank Indonesia (BI) juga siap masuk pasar untuk mengintervensi rupiah. Namun, saat ini, hal itu tak bisa dilakukan, karena masih dalam masa cuti Lebaran.

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 12 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 23 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 27 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia