Jumat, 15 Mei 2026

Ekonom: Penaikan BI-Rate Tak Banyak Membantu

Penulis : Prisma Ardianto
22 Apr 2024 | 18:23 WIB
BAGIKAN
Gubenur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di Jakarta, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom)
Gubenur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di Jakarta, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom)

JAKARTA, investor.id – Penaikan suku bunga acuan BI-Rate merespons pergerakan rupiah belakangan ini dinilai tidak akan banyak membantu. Namun demikian, Bank Indonesia (BI) dapat melakukan intervensi melalui pasar valuta asing (valas).

Ekonom Oxford Economics, Makoto Tsuchiya mengungkapkan bahwa pergerakan Rupiah saat ini lebih condong dipengaruhi berkurangnya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed oleh pasar. Sebagai dampaknya, penurunan pertama dari BI-Rate oleh bank sentral diperkirakan mundur.

Rintangan utama bagi bank sentral, yang mandat utamanya adalah stabilitas mata uang adalah memangkas suku bunga terlalu cepat karena rupiah mencapai level terendah dalam empat tahun terakhir pada hari Rabu. Seiring komentar-komentar dari para pejabat The Fed yang mendorong penguatan dolar.

ADVERTISEMENT

Di Indonesia, inflasi menyentuh level tertinggi tujuh bulan di bulan lalu dan bergerak mendekati batas atas kisaran target inflasi BI sebesar 1,5%-3,5%, yang mengisyaratkan bahwa suku bunga acuan perlu dipertahankan lebih lama lagi.

“Jika bank sentral ingin mencegah pelemahan mata uang lebih lanjut, kenaikan 25 bps (basis poin) sepertinya tidak akan banyak membantu... BI akan mempertahankan mata uangnya dengan intervensi pasar valas jika diperlukan,” ungkap Tsuchiya dilansir dari Reuters, Senin (22/4/2024).

Reuters juga melaporkan bahwa lebih dari 80%, atau 29 dari 35 ekonom yang mengikuti jajak pendapat pada tanggal 16-22 April memperkirakan bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate pada pertemuan mendatang. Sedangkan enam orang memperkirakan kenaikan seperempat poin.

Sementara perkiraan median menunjukkan pemangkasan 25 bps pertama akan dilakukan pada kuartal III-2024, dibandingkan dengan ekspektasi pemangkasan pada kuartal II-2024 dalam sebuah jajak pendapat di bulan Maret. Kemudian diikuti oleh penurunan lainnya menjadi 5,50% pada akhir Desember, dibandingkan dengan 5,25% yang diperkirakan sebelumnya.

Hal tersebut sejalan dengan ekspektasi di sekitar The Fed karena jajak pendapat baru-baru ini juga menunjukkan bahwa penurunan suku bunga AS yang pertama kemungkinan besar akan didorong ke bulan September 2024.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 17 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia