Jumat, 15 Mei 2026

Defisit APBN 2025 Ditargetkan 2,45-2,82%

Penulis : Arnoldus Kristianus
20 Mei 2024 | 14:40 WIB
BAGIKAN
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kiri) menyerahkan dokumen pemerintah terkait kebijakan fisikal kepada Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad (kanan) dan Rachmad Gobel (tengah) saat rapat paripurna ke-17 masa persidangan V tahun sidang 2023-2024 di kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (20/5/2024). (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kiri) menyerahkan dokumen pemerintah terkait kebijakan fisikal kepada Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad (kanan) dan Rachmad Gobel (tengah) saat rapat paripurna ke-17 masa persidangan V tahun sidang 2023-2024 di kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (20/5/2024). (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)

JAKARTA, investor.id – Pemerintah menargetkan defisit pada kisaran 2,45% sampai 2,82% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dalam Kerangka Ekonomi Makro (KEM) Pokok Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) 2025. Pengelolaan keuangan negara dilakukan secara terukur baik dari sisi upaya meningkatkan penerimaan, belanja, hingga utang.

“Untuk mewujudkan pertumbuhan yang tinggi dan inklusif kesejahteraan dan pemerataan antar daerah, perlu ditopang APBN yang efisien sehat dan kredibel. Oleh karena itu, program pengelolaan APBN melalui collecting more, spending better dan inovatif financing akan terus dilakukan,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Rapat Paripurna di Gedung DPR, Jakarta, Senin (20/5/2024).

Langkah pengelolaan utang dilakukan dengan mendorong pembiayaan yang inovatif, prudent, dan sustainable dengan mengendalikan risiko utang dalam batas yang manajemen di kisaran 37,98% hingga 38,7% PDB; serta mendorong efektivitas pembiayaan investasi untuk mendukung transformasi ekonomi dengan memberdayakan peran BUMN, BLU, SMV dan SWF; memanfaatkan sisa anggaran lebih untuk antisipasi ketidakpastian; peningkatan akses pembiayaan bagi MBR dan UMKM; dan mendorong skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang berkelanjutan.

ADVERTISEMENT

Pendapatan negara tahun 2025 diperkirakan mencapai kisaran 12,14% hingga 12,36% dari PDB. Kebijakan optimalisasi pendapatan negara dilakukan dengan tetap menjaga iklim investasi dan bisnis serta kelestarian lingkungan.

Hal itu ditempuh dengan menjaga efektivitas pelaksanaan reformasi perpajakan (UU HPP) yang lebih sehat dan adil, perluasan basis pajak, serta peningkatan kepatuhan wajib pajak. Perluasan basis pajak dan pengawasan pemenuhan kewajiban perpajakan diperlukan untuk memitigasi risiko dari sektor ekonomi yang rentan terhadap dinamika perekonomian global dan volatilitas harga komoditas.

“Indonesia akan terus memperluas basis pajak dan pengawasan pemenuhan kewajiban perpajakan untuk memitigasi risiko terutama dari berbagai tax evasion,” jelas Sri Mulyani.

Komitmen Indonesia dalam penerapan global taxation agreement menjadi peluang bagi perluasan basis pajak melalui perpajakan korporasi multinasional yang melakukan transaksi lintas negara. upaya peningkatan kepatuhan wajib pajak dilakukan melalui penerapan pengawasan berbasis kewilayahan singa implementasi reformasi administrasi termasuk di dalamnya integrasi teknologi dan peningkatan kerjasama antar instansi atau lembaga terus dilakukan.

Sementara itu, upaya peningkatan kepatuhan wajib pajak dilakukan melalui penerapan pengawasan potensi perpajakan berbasis kewilayahan seiring dengan implementasi reformasi administrasi, termasuk di dalamnya integrasi teknologi dan peningkatan kerja sama antar instansi/lembaga.

“Pemerintah memberikan insentif fiskal secara terarah dan terukur pada berbagai sektor strategis dalam rangka mendukung akselerasi transformasi ekonomi. Penguatan PNBP dilakukan melalui optimalisasi pengelolaan SDA, perbaikan tata kelola, inovasi layanan publik, serta mendorong reformasi pengelolaan aset negara,” tutur Sri Mulyani.

Adapun alokasi belanja negara ditargetkan dalam kisaran 14,59% sampai dengan 15,18% dari PDB. Kebijakan belanja negara diarahkan untuk penguatan spending better agar belanja lebih efisien dan efektif untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi sekaligus peningkatan kesejahteraan.

Upaya penguatan spending better ditempuh melalui efisiensi belanja non prioritas, penguatan belanja produktif, efektivitas subsidi dan bansos melalui peningkatan akurasi data, perbaikan mekanisme penyaluran, dan sinergi antar program yang relevan, serta penguatan perlinsos yang berbasis pemberdayaan untuk akselerasi pengentasan kemiskinan dan kesenjangan.

“Pemerintah berkomitmen untuk menguatkan sinergitas dan harmonisasi kebijakan pusat dan daerah yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas belanja di daerah agar lebih produktif dengan peningkatan kualitas pelayanan publik dan kemandirian daerah,” pungkas Sri Mulyani.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia