Jumat, 15 Mei 2026

Ada Banyak Opsi selain Naikkan PPN Jadi 12%

Penulis : Alfida Rizky Febrianna
17 Nov 2024 | 15:30 WIB
BAGIKAN
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti

JAKARTA, investor.id – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti menilai keputusan Menteri Keuangan Sri Mulyani menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% per Januari 2025 dinilai kurang tepat. Menurut Esther, ada sejumlah opsi untuk meningkatkan penerimaan negara tanpa perlu membebani ekonomi masyarakat.

"Sekarang pemerintah itu memang butuh uang ya, butuh pendanaan lebih untuk membiayai program-programnya. Paling gampang memang meningkatkan penerimaan dari sisi pajak. Tapi tidak harus menaikkan PPN," ungkapnya saat dihubungi pada Minggu (17/11/2024).

Pertama, Esther menilai, pemerintah dapat meningkatkan penerimaan negara dengan melakukan perluasan basis pajak. Dengan begitu, potensi penerimaan pajak akan meningkat.

ADVERTISEMENT

Kedua, pemerintah perlu menggali wajib pajak baru. Caranya yakni dengan menjadikan sektor informal menjadi sektor formal. Pasalnya, selama ini Indonesia masih didominasi oleh sektor informal yang tidak kena pajak.

"Nah bagaimana sektor informal ini bisa menjadi sektor formal gitu. Karena kalau sektor informal ini agak sulit pemerintah untuk menjangkau mereka. Dari sisi regulasi masuk ke mereka agak sulit, dari sisi pajak juga agak sulit gitu," jelas Esther. 

Ketiga, pemerintah bisa melakukan ekstensifikasi penerimaan perpajakan dari sisi cukai. Menurut Esther, pemerintah ke depan bisa memperluas barang kena cukai baru, selain produk tembakau.

"Cukai kan sekarang rely on pada cukai tembakau saja, produk tembakau saja. Bisa juga ke depannya cukai plastik, cukai alkohol, dan cukai-cukai yang lainnya. Nah ini yang belum digarap oleh pemerintah," tuturnya.

Terakhir, pemerintah dapat meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Misalnya, dengan mendorong peningkatan devisa negara. 

"Contohnya, meningkatkan pengiriman tenaga kerja Indonesia ke luar negeri, dalam hal ini jangan yang blue color ya, tetapi yang white color, itu akan meningkatkan penerimaan devisa negara. Kemudian, pengembangan sektor pariwisata juga bisa meningkatkan penerimaan devisa negara," terangnya.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia