Jumat, 15 Mei 2026

Deflasi 0,48% Februari 2025, Tarif Listrik dan Harga Pangan Jadi Pemicu

Penulis : Arnoldus Kristianus
3 Mar 2025 | 11:46 WIB
BAGIKAN
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti 
Sumber; Ist
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti Sumber; Ist

JAKARTA, investor.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada Februari 2025 terjadi deflasi sebesar 0,48%. Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya atau secara tahunan (year on year) terjadi deflasi 0,09% dan secara tahun kalender terjadi deflasi sebesar 1,24%.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan pada Februari 2025 secara bulanan terjadi deflasi 0,48% atau terjadi penurunan indeks harga konsumen dari 105,99 pada Januari 2025 menjadi 105,48 pada Februari 2025. Hal ini tidak terlepas dari diskon tarif listrik sebesar 50% dan terjadinya penurunan harga bahan pangan.

“Komoditas utama penyebab deflasi Februari 2025 adalah komoditas tarif listrik, daging ayam ras, bawang merah, cabai merah, cabai rawit, tomat, dan telur ayam ras,” ucap Amalia dalam konferensi pers di Kantor BPS pada Senin (3/3/2025).

ADVERTISEMENT

Amalia mengatakan kelompok pengeluaran penyumbang deflasi bulanan terbesar adalah perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan deflasi 3,59% dan memberikan andil deflasi 0,52%. Komoditas yang dominan mendorong deflasi kelompok ini adalah diskon tarif listrik yang memberikan andil deflasi 0,67%.

“Tarif listrik mengalami deflasi sebesar 21,3% dan memberikan andil deflasi 0,67%. Deflasi ini dikontribusikan karena diskon tarif listrik sebesar 50% khususnya untuk pelanggan pascabayar yang merasakan dampak penurunan tarif untuk pembayaran atas Januari 2025,” tutur Amalia.

Lebih lanjut Amalia mengatakan, komoditas pangan memberikan andil deflasi karena penurunan harga beberapa komoditas pangan bergejolak seperti daging ayam ras yang memberikan andil deflasi 0,06%, bawang merah dan cabai merah memberikan andil deflasi masing-masing sebesar 0,05% dan 0,04%.

Komoditas Andil Inflasi

Pada saat yang sama, Amalia menyebut, komoditas lain yang memberikan andil inflasi antara lain kenaikan tarif air minum PAM memberikan andil inflasi 0,13%; harga emas perhiasan memberikan andil inflasi sebesar 0,08% dan penyesuaian harga bensin memberikan andil inflasi 0,03%.

Jika dilihat menurut komponen maka inflasi terbagi dalam dalam tiga komponen. Pertama yaitu komponen inti mengalami inflasi bulanan sebesar 0,25% dengan andil inflasi sebesar 0,16%.

“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi komponen inti adalah emas perhiasan, kopi bubuk, dan mobil,” kata Amalia.

Komponen harga diatur pemerintah mengalami deflasi sebesar 2,65% dengan andil deflasi sebesar 0,48%. Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi komponen diatur pemerintah adalah tarif listrik. Komponen bergejolak mengalami deflasi sebesar 0,93% dengan andil deflasi sebesar 0,16%.

“Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi komponen bergejolak adalah daging ayam ras, bawang merah, cabai merah, cabai rawit, tomat, dan telur ayam ras,” tutur Amalia.

Berdasarkan hasil pendataan BPS di 38 provinsi tercatat 5 provinsi mengalami inflasi dan 33 provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Pegunungan (2,78%) dan deflasi terdalam terjadi di Papua Barat sebesar 1,41%.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia