Kemungkinan Terburuk Jika Utang Luar Negeri Terus Merangkak Naik
JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) melaporkan nilai Utang Luar Negeri (ULN) meningkat jadi US$ 427,5 miliar (sekitar Rp 7.000 triliun) pada Januari 2025. Nilai ULN meningkat 5,1% dari periode yang sama tahun 2024 atau secara year on year (yoy).
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan meskipun ULN Indonesia mengalami kenaikan pada Januari 2025, kondisi ini masih berada dalam batas yang terkendali. Namun, risiko tetap ada terutama dari sisi tekanan nilai tukar, suku bunga global, dan keberlanjutan fiskal.
Dia khawatir terjadi Kenaikan ULN yang signifikan sehingga bisa mempengaruhi persepsi risiko di pasar keuangan. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia harus berfokus pada pengelolaan utang yang berkelanjutan, optimalisasi penerimaan negara, serta menjaga stabilitas makroekonomi agar ULN tidak menjadi sumber risiko yang signifikan bagi ekonomi Indonesia di tahun 2025.
“Bila investor melihat risiko gagal bayar meningkat, maka yield surat utang negara bisa naik, yang berujung pada kenaikan biaya bunga bagi pemerintah dan sektor korporasi,” ucap Josua saat dihubungi pada Senin (17/3/2025).
Dengan demikian, pemerintah mesti menyeimbangkan antara pembiayaan defisit APBN dan keberlanjutan fiskal. Apalagi bila rasio utang terhadap penerimaan negara membesar, maka pemerintah bisa menghadapi tantangan dalam menjaga kepercayaan investor.
“Oleh karena itu, strategi peningkatan penerimaan pajak serta efisiensi belanja negara menjadi krusial untuk memastikan ruang fiskal tetap terjaga,” tegas Josua.
Peningkatan ULN memiliki dampak terhadap strategi kebijakan BI. Josua memperkirakan, BI tetap prudent dalam menentukan kebijakan suku bunga. Bila ULN meningkat pesat dan menekan nilai tukar rupiah, BI bisa menempuh langkah intervensi di pasar valas serta menjaga stabilitas likuiditas dengan instrumen moneter seperti SRBI atau operasi pasar terbuka lainnya.
“Tren ULN Indonesia sepanjang tahun 2025 diperkirakan akan tetap mengalami pertumbuhan,” tutur Josua.
Baca Juga:
Ekonomi Lebaran Kurang BertajiMenurut Josua, pemerintah yang mendorong kebijakan pro-growth berpotensi mengandalkan utang luar negeri untuk membiayai program strategis. Ini akan meningkatkan penerbitan surat utang negara dan pinjaman multilateral. Selanjutnya bila Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mulai menurunkan suku bunga, maka tekanan terhadap pembiayaan ULN bisa berkurang.
“Namun, jika suku bunga tetap tinggi lebih lama, maka beban pembayaran bunga ULN akan semakin besar,” tukas Josua.
Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






