Jumat, 15 Mei 2026

Sri Mulyani Geram, Tarif Trump Abaikan Ilmu Ekonomi

Penulis : Alfida Rizky Febrianna
8 Apr 2025 | 17:27 WIB
BAGIKAN
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan paparan dalam Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden RI di Menara Mandiri, Senayan, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan paparan dalam Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden RI di Menara Mandiri, Senayan, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

JAKARTA, investor.id – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai perhitungan tarif resiprokal yang dikenakan Presiden Amerika Serikat (AS) kepada sejumlah negara ini sulit dipahami karena tidak berlandaskan ilmu ekonomi.

“Tarif resiprokal yang disampaikan oleh Amerika terhadap 60 negara menggambarkan cara penghitungan tarif tersebut yang saya rasa semua ekonomi yang sudah belajar ekonomi tidak bisa memahami,” kata Sri Mulyani dalam agenda Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden RI di Jakarta, Selasa (8/4/2025).

Sri Mulyani menuturkan, ilmu ekonomi seolah sudah tidak berlaku lagi dalam perumusan kebijakan pemerintahan Trump. Menurut dia, Trump hanya berfokus pada upaya mengurangi ketergantungan impor dari negara lain.

ADVERTISEMENT

“Yang penting pokoknya tarif duluan karena tujuannya adalah menutup defisit, tidak ada ilmu ekonominya disitu. Menutup defisit itu artinya saya tidak ingin tergantung atau beli kepada orang lain lebih banyak dari apa yang saya bisa jual kepada orang lain. It's purely transactional,” ujarnya.

Terkait dengan hal itu, Sri Mulyani lalu menceritakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan pembekalan kepada jajarannya soal kondisi dunia yang bakal dipimpin oleh para realis dan pragmatis.

“Beliau (Prabowo) menyampaikan dunia sekarang dipimpin oleh realis. Jadi pragmatik dan realism rather than theoretical ideology yang selama ini dipimpin dunia semenjak perang dunia kedua,” ujar dia.

Adapun tarif Trump ini direspons berbagai negara hingga berdampak negatif bagi pasar keuangan. Oleh karena itu, kondisi tersebut harus dihadapi dengan sikap terbuka dan pragmatik, serta mesti lincah di saat yang bersamaan.

“Jadi ini adalah situasi yang harus kita hadapi secara sangat open-minded, pragmatik dan pada saat yang sama kita harus agile, harus cepat. Policy apa yang bisa kita lakukan segera dan bisa mengoreksi atau menggunakan opportunity harus bisa kita lakukan sekarang,” tandas Sri Mulyani.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 50 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 52 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia