Ekonom Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI Hanya 4,2% pada 2025
JAKARTA, investor.id – Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2025 hanya berada dalam kisaran 4,2% hingga 4,5%. Proyeksi pertumbuhan ekonomi ini menjadi cerminan dari kebijakan domestik yang kurang adaptif terhadap guncangan eksternal.
“Proyeksi yang lebih jujur dan kritis menurut kami, menempatkan pertumbuhan Indonesia hanya di kisaran 4,2% hingga 4,5%, bahkan berpotensi lebih rendah apabila respon kebijakan tetap pasif,” ucap Achmad pada Jumat (11/4/2025).
Sebelumnya, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% dalam APBN 2025, sementara World Bank memperkirakan 5,1% dan OECD di angka 4,9%.
Menurut Achmad, kebijakan tarif Trump adalah pemicu, namun tidak serta-merta menjadi penyebab tunggal. Bila dilihat lebih lanjut, respon fiskal yang konvensional, subsidi yang luas tetapi tidak tepat, serta ketergantungan pada instrumen APBN tanpa penguatan basis ekonomi riil menjadi faktor internal yang memperparah situasi.
Bila pemerintah tidak segera mengubah pendekatan dan mempercepat adaptasi kebijakan dengan kombinasi insentif industri, diversifikasi ekspor, dan proteksi kelompok rentan yang tepat sasaran, maka risiko krisis ekonomi yang lebih luas tidak bisa dihindari.
“Tahun 2025 bisa menjadi momen pembelajaran pahit tentang bagaimana kegagalan beradaptasi bisa menggerus pertumbuhan dan memperdalam ketimpangan,” tutur Achmad.
Menurut dia, belum ada strategi struktural jangka menengah yang konkret dan adaptif dari pemerintah. Program hilirisasi industri pun belum memberikan kontribusi nyata terhadap diversifikasi ekspor. Upaya memperluas pasar non-tradisional masih bersifat sporadis, sedangkan reformasi perpajakan belum menjangkau kelompok ekonomi digital dan sektor informal secara optimal.
Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia belum cukup adaptif dalam menghadapi ekonomi global yang makin proteksionis. Dalam kondisi ini, ketidakmampuan adaptif pemerintah dalam mengelola krisis eksternal dapat memperdalam tekanan ekonomi lebih jauh dari yang diprediksi.
“Proyeksi kami bahwa pertumbuhan 4,2% bukanlah pesimisme, tetapi justru bentuk realisme yang menggambarkan respons kebijakan yang lambat, tidak terintegrasi, dan tidak adaptif,” terang Achmad.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






